Kasirnesia

Pembayaran

Biaya QRIS untuk Usaha: MDR, Pencairan, dan Dampaknya ke Margin

Biaya QRIS yang ditanggung pedagang adalah MDR, dan tarifnya berbeda menurut kategori merchant. Simak aturan resmi BI, jadwal pencairan, dan contoh hitungnya.

16 menit baca
Biaya QRIS untuk Usaha: MDR, Pencairan, dan Dampaknya ke Margin

Biaya QRIS yang benar-benar ditanggung pedagang adalah MDR (Merchant Discount Rate), yaitu potongan dari setiap nilai transaksi yang besarannya ditetapkan Bank Indonesia dan berbeda menurut kategori merchant, bukan iuran bulanan tetap seperti biaya langganan. Bank Indonesia menyebutnya sebagai biaya jasa yang dikenakan kepada merchant oleh Penyelenggara Jasa Pembayaran (PJP) saat bertransaksi menggunakan QRIS (Bank Indonesia). Selama tidak ada transaksi, tidak ada potongan.

Pemahaman ini penting karena banyak pemilik warung dan kafe menunda memasang QRIS gara-gara mengira "dipotong bank" itu besar, sementara sebagian lain justru memasangnya tanpa pernah menghitung berapa rupiah yang hilang tiap bulan. Dua-duanya sama-sama merugikan. Artikel ini merinci berapa yang dipotong, kenapa tarifnya berbeda antar pedagang, aturan yang wajib Anda patuhi, kapan uangnya cair, dan cara menghitung dampaknya ke laba dengan angka yang bisa Anda tiru langsung.

Daftar Isi

  1. MDR: Biaya yang Dipotong Setiap Kali Pelanggan Scan QRIS
  2. Tarif MDR Berbeda Menurut Kategori Merchant
  3. MDR Tidak Boleh Dibebankan ke Pembeli
  4. Contoh Hitung Dampak MDR ke Laba per Transaksi dan per Bulan
  5. Kapan Dana QRIS Cair dan Biaya Lain yang Sering Luput
  6. Menaikkan Harga atau Menyerap Biaya, Begini Cara Memutuskan
  7. Kesalahan Umum Pedagang soal Biaya QRIS
  8. FAQ: Pertanyaan Umum seputar Biaya QRIS

MDR: Biaya yang Dipotong Setiap Kali Pelanggan Scan QRIS

Sebelum bicara angka, ada baiknya Anda paham dulu uang potongan itu lari ke mana. Bank Indonesia menjelaskan bahwa sebagai regulator, BI tidak mengambil bagian dari biaya MDR ini dan sepenuhnya diberikan kepada industri, yang meliputi lembaga issuer, lembaga acquirer, lembaga switching, Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), dan Penyelesaian Transaksi Elektronik Nasional (PTEN) (Bank Indonesia). Jadi MDR bukan pajak dan bukan setoran ke negara, melainkan ongkos memutar sistem yang membuat uang benar-benar pindah dari aplikasi pembeli ke rekening Anda.

Cara kerjanya sederhana. Pelanggan membayar Rp50.000, sistem memotong MDR sesuai tarif kategori Anda, lalu sisanya yang masuk ke rekening. Yang tercetak di struk pelanggan tetap Rp50.000, karena potongan itu terjadi di sisi merchant, bukan di sisi pembeli. Inilah alasan banyak pedagang baru sadar ada potongan setelah membandingkan laporan penjualan dengan mutasi rekening di akhir bulan.

Karena sifatnya persentase, MDR tidak pernah menjadi beban tetap. Bulan sepi, potongannya ikut kecil. Bulan ramai, potongannya membesar mengikuti omzet. Ini berbeda dengan sewa tempat atau langganan aplikasi yang nilainya sama saja mau ramai mau sepi. Perbedaan sifat biaya ini yang perlu Anda pegang saat menyusun perhitungan laba, karena MDR harus diperlakukan sebagai biaya variabel, bukan biaya tetap.

Satu hal lagi yang perlu diketahui, Bank Indonesia membatasi nominal transaksi QRIS paling banyak sebesar Rp10.000.000 per transaksi, dan penerbit masih boleh menetapkan batas kumulatif harian atau bulanan sendiri (Bank Indonesia). Untuk warung dan kafe batas ini tidak pernah jadi masalah, tapi untuk katering, toko bangunan, atau usaha yang sesekali menerima pembayaran besar, batas itu perlu diantisipasi sejak awal.

Tarif MDR Berbeda Menurut Kategori Merchant

Inilah bagian yang paling sering salah dipahami. Tidak ada satu angka tunggal yang berlaku untuk semua pedagang. Bank Indonesia menetapkan besaran MDR untuk pemrosesan transaksi QRIS MPM dan QRIS CPM dalam sebuah tabel kategori, dan kebijakan yang berlaku sekarang efektif mulai 15 Maret 2025 sebagaimana tertuang dalam Siaran Pers RDG Februari 2025 (Bank Indonesia).

Berikut pembagiannya sesuai tabel resmi tersebut.

Jenis MerchantKategoriTarif MDR
RegulerUsaha Mikro (UMI), nominal transaksi kurang dari atau sama dengan Rp500.0000%
RegulerUsaha Mikro (UMI), nominal transaksi lebih dari Rp500.0000,3%
RegulerUsaha Kecil (UKE), Usaha Menengah (UME), dan Usaha Besar (UBE)0,7%
KhususPendidikan0,6%
KhususStasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU)0,4%
KhususBadan Layanan Umum (BLU), Public Service Obligation (PSO), Government to People seperti bantuan sosial, dan People to Government antara lain pajak, paspor, serta donasi sosial nirlaba0%

Perhatikan baris pertama baik-baik, karena di situlah letak kabar baik untuk mayoritas pembaca. Kalau usaha Anda terdaftar di kategori Usaha Mikro dan rata-rata bon di bawah Rp500.000, potongan MDR untuk transaksi tersebut adalah nol. Warung kopi, warung makan, kios kelontong, dan lapak pasar umumnya masuk kelompok ini, dan mereka praktis tidak kehilangan sepeser pun dari MDR sepanjang nilai bonnya tetap di bawah batas itu.

Yang perlu Anda lakukan adalah memastikan kategori merchant Anda benar. Kategori ini melekat pada data pendaftaran di penyedia jasa pembayaran, bukan sesuatu yang Anda pilih sendiri saat transaksi berjalan. Kalau Anda merasa usaha Anda mikro tapi potongannya terlihat seperti tarif 0,7 persen, itu sinyal untuk mengecek ulang status kategori merchant Anda ke penyedia tempat mendaftar. Proses pendaftaran dan penentuan kategori ini kami bahas lebih rinci di panduan cara daftar QRIS untuk usaha.

Poin Penting: Tarif MDR ditetapkan Bank Indonesia dan pernah berubah, termasuk saat kebijakan terakhir mulai berlaku 15 Maret 2025. Jangan berpatokan pada angka yang Anda dengar dari sesama pedagang atau dari artikel lama tanpa tanggal. Cek ulang ke penyedia jasa pembayaran Anda, dan pastikan angka yang mereka sebut sesuai dengan kategori merchant yang tercatat atas nama usaha Anda.

MDR Tidak Boleh Dibebankan ke Pembeli

Ini aturan yang paling sering dilanggar di lapangan, dan sayangnya sering dilanggar karena tidak tahu, bukan karena niat curang. Bank Indonesia menyatakan dengan tegas bahwa biaya MDR ini ditanggung oleh merchant dan tidak boleh dibebankan kepada konsumen (Bank Indonesia). Artinya praktik seperti memasang tulisan "bayar QRIS tambah Rp1.000" atau menetapkan harga berbeda antara pembayaran tunai dan QRIS bertentangan dengan ketentuan tersebut.

Kami paham kenapa godaan itu muncul. Selisih beberapa ratus rupiah per transaksi terasa nyata kalau dikalikan ratusan bon sebulan, dan menempel stiker tambahan biaya terlihat sebagai jalan pintas yang paling gampang. Masalahnya, selain melanggar ketentuan, kebiasaan itu merusak pengalaman pelanggan. Pembeli yang sudah berdiri di depan kasir lalu diminta menambah uang gara-gara memilih QRIS akan mengingat kejadian itu jauh lebih lama daripada mengingat rasa kopi Anda.

Ada juga kekeliruan yang sering menempel pada isu ini, yaitu anggapan bahwa membayar dengan QRIS membuat belanja kena PPN tambahan. Direktorat Jenderal Pajak sudah membantahnya. Dalam artikel resmi DJP disebutkan, "Tidak ada PPN yang dikenakan apabila masyarakat memilih cara pembayaran dengan QRIS," dan ditegaskan pula bahwa "PPN hanya dikenakan atas Merchant Discount Rate (MDR) yang dipungut oleh Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) kepada pemilik merchant" (DJP). Jadi kalau ada pelanggan bertanya, Anda punya jawaban yang bisa dipertanggungjawabkan.

Kabar baiknya untuk sisi pembukuan Anda, MDR bukan uang yang hilang begitu saja tanpa jejak pajak. DJP menjelaskan bahwa dari kacamata pajak bagi merchant, MDR bisa menjadi biaya operasional yang dapat dibebankan sebagai pengurang penghasilan bruto dalam perhitungan PPh (DJP). Syaratnya jelas, potongan itu harus tercatat rapi tiap bulan. Kalau pencatatan Anda masih berupa selisih saldo rekening yang tidak pernah dirinci, potensi pengurang ini terbuang percuma. Cara menyusun catatan biaya yang layak dipakai untuk keperluan seperti ini kami bahas di panduan software akuntansi restoran. Perlu ditegaskan, Kasirnesia adalah aplikasi kasir, bukan konsultan pajak, jadi untuk penerapan spesifik ke usaha Anda sebaiknya tetap dikonfirmasi ke konsultan pajak atau kantor pajak setempat.

Contoh Hitung Dampak MDR ke Laba per Transaksi dan per Bulan

Sekarang bagian yang paling dicari, yaitu berapa sebenarnya dampaknya ke kantong Anda. Semua angka di bawah ini adalah contoh ilustrasi untuk menunjukkan cara menghitung, bukan data usaha nyata. Tarif MDR yang dipakai mengikuti tabel resmi Bank Indonesia di atas, sedangkan margin dan volume transaksinya kami karang sebagai skenario. Silakan ganti angkanya dengan data usaha Anda sendiri.

Hal pertama yang harus Anda pahami, MDR dihitung dari nilai transaksi, bukan dari laba. Karena itu dampaknya jauh lebih terasa pada usaha bermargin tipis. Tabel berikut memakai tarif merchant reguler kategori Usaha Kecil sebesar 0,7 persen.

Jenis usaha (contoh ilustrasi)Rata-rata bonMargin kotorLaba kotor per bonMDR 0,7%Laba setelah MDRMDR terhadap laba kotor
Warung kopiRp20.00065%Rp13.000Rp140Rp12.8601,08%
Rumah makanRp45.00055%Rp24.750Rp315Rp24.4351,27%
Toko kelontongRp35.00012%Rp4.200Rp245Rp3.9555,83%
Kios pulsa dan rokokRp60.0005%Rp3.000Rp420Rp2.58014,00%

Lihat kolom paling kanan. Untuk warung kopi bermargin 65 persen, MDR cuma memakan sekitar satu persen dari laba kotor, nyaris tidak terasa. Tapi untuk kios pulsa dan rokok yang marginnya lima persen, potongan yang sama memakan 14 persen dari laba kotor per transaksi. Angka MDR-nya identik, dampaknya berbeda jauh. Inilah alasan pedagang sembako dan kios rokok jauh lebih sensitif terhadap isu ini dibanding pemilik kafe, dan kenapa menghitung margin per produk lebih penting daripada menghitung MDR itu sendiri. Kalau Anda belum pernah menghitungnya, mulailah dari panduan cara menghitung HPP makanan.

Sekarang skala bulanan. Tabel berikut juga contoh ilustrasi, memakai asumsi 30 hari operasional penuh.

Skenario (contoh ilustrasi)Transaksi QRIS per hariRata-rata bonOmzet QRIS per bulanTarif MDRMDR per bulan
Warung kelontong kategori UMI, semua bon di bawah Rp500.00040Rp30.000Rp36.000.0000%Rp0
Kafe kategori UKE60Rp45.000Rp81.000.0000,7%Rp567.000
Rumah makan kategori UKE120Rp60.000Rp216.000.0000,7%Rp1.512.000
Katering kategori UMI dengan bon di atas Rp500.0008Rp750.000Rp180.000.0000,3%Rp540.000

Baris pertama menunjukkan hal yang jarang disadari. Warung kelontong dengan omzet QRIS Rp36 juta sebulan bisa membayar MDR nol rupiah selama kategorinya Usaha Mikro dan semua bonnya di bawah Rp500.000. Sementara itu, katering dengan bon besar justru membayar Rp540.000 sebulan meski kategorinya sama-sama Usaha Mikro, karena tarif 0,3 persen berlaku begitu nilai transaksi melewati Rp500.000.

Satu koreksi penting sebelum Anda panik melihat angka jutaan. Yang kena MDR hanya transaksi QRIS, bukan seluruh omzet. Ambil kafe dengan omzet total Rp120.000.000 sebulan dan 60 persen di antaranya dibayar lewat QRIS. Omzet QRIS-nya Rp72.000.000, MDR 0,7 persen menghasilkan potongan Rp504.000, dan angka itu setara 0,42 persen dari omzet total. Persentase efektif terhadap seluruh penjualan selalu lebih kecil daripada tarif nominalnya, dan inilah angka yang semestinya Anda pakai saat menyusun anggaran, bukan tarif mentahnya.

Pro Tip: Cara paling cepat memperkirakan MDR bulanan Anda adalah kalikan omzet QRIS bulan lalu dengan tarif kategori Anda. Omzet QRIS Rp50.000.000 dengan tarif 0,7 persen berarti sekitar Rp350.000. Kalau angka di mutasi rekening Anda jauh berbeda dari hasil hitungan itu, ada yang perlu ditanyakan ke penyedia jasa pembayaran, entah kategori merchant yang salah atau ada komponen biaya lain yang belum Anda ketahui.

Kapan Dana QRIS Cair dan Biaya Lain yang Sering Luput

Biaya bukan satu-satunya hal yang memengaruhi kas Anda. Waktu juga. Uang yang sudah terpotong MDR belum tentu langsung ada di rekening, dan buat usaha yang belanja bahan tiap pagi, selisih beberapa jam bisa berarti banyak.

Tidak ada jadwal tunggal yang berlaku untuk semua merchant. Bank Indonesia sendiri mengingatkan bahwa biaya dan persyaratan pendaftaran QRIS dapat berbeda-beda tergantung pada PJP yang Anda pilih (Bank Indonesia), dan skema pencairan termasuk di dalamnya. Sebagai gambaran konkret, Bank Maspion mempublikasikan jadwal pencairan QRIS-nya dalam dua batch, transaksi pukul 00.00 sampai 14.59 WIB dicairkan pukul 15.00 sampai 17.00 WIB di hari yang sama, sedangkan transaksi pukul 15.00 sampai 23.59 WIB dicairkan pukul 08.00 sampai 10.00 WIB keesokan harinya atau H+1 (Bank Maspion). Penyedia lain punya pola batch dan jam potongnya sendiri, jadi jangan menyamaratakan.

Pola ini punya konsekuensi praktis yang nyata untuk usaha F&B. Kalau jam ramai Anda adalah makan malam, sebagian besar penjualan hari itu kemungkinan besar baru cair keesokan paginya. Artinya belanja bahan besok pagi sebaiknya tidak mengandalkan uang penjualan tadi malam. Menyiapkan kas putar untuk satu siklus belanja adalah pengaman yang murah untuk masalah yang bisa diprediksi ini.

Di luar MDR, ada beberapa komponen biaya yang sering luput dihitung pedagang. Pertama, biaya transfer atau penarikan ke rekening bank lain, yang muncul kalau rekening penampung dana QRIS Anda berbeda bank dengan rekening operasional. Kedua, biaya administrasi bulanan rekening, kecil tapi tetap keluar tiap bulan. Ketiga, biaya perangkat kalau Anda memilih memakai mesin EDC atau alat khusus, padahal QRIS statis berupa stiker cetak sebenarnya sudah cukup untuk banyak warung. Keempat, biaya langganan aplikasi kasir kalau Anda memakainya, yang sifatnya tetap dan bukan bagian dari MDR.

Poin Penting: Saat membandingkan penyedia jasa pembayaran, jangan berhenti di tarif MDR karena besarannya sudah diatur Bank Indonesia dan sama di semua penyedia untuk kategori yang sama. Yang benar-benar membedakan adalah kecepatan pencairan, jam potong batch, biaya penarikan, dan kemudahan integrasi ke sistem kasir Anda. Minta rincian keempat hal itu secara tertulis sebelum tanda tangan.

Kalau Anda mencatat penjualan lewat aplikasi kasir, rekonsiliasi ini jauh lebih ringan karena laporan penjualan harian bisa langsung dibandingkan dengan mutasi rekening tanpa menghitung ulang bon satu per satu. Perlu diingat juga bahwa QRIS butuh koneksi internet aktif untuk memvalidasi transaksi, sehingga usaha Anda tetap perlu jalan keluar saat jaringan bermasalah. Kami membahas hal itu terpisah di artikel aplikasi kasir offline.

Menaikkan Harga atau Menyerap Biaya, Begini Cara Memutuskan

Pertanyaan yang wajar muncul setelah melihat angka di atas, apakah harga perlu dinaikkan untuk menutup MDR. Jawabannya bergantung pada margin Anda, dan ada satu syarat yang tidak bisa ditawar, yaitu kenaikan harga harus berlaku untuk semua metode pembayaran, bukan khusus pembeli QRIS.

Untuk usaha bermargin tebal seperti kafe dan rumah makan, menyerap MDR biasanya pilihan yang lebih masuk akal. Dari tabel ilustrasi tadi, MDR hanya memakan sekitar satu sampai 1,3 persen dari laba kotor per transaksi. Repot mengubah harga, mencetak ulang menu, dan menjelaskan ke pelanggan biasanya lebih mahal daripada nilai yang diselamatkan. Kalaupun harga perlu naik, pemicunya sebaiknya kenaikan harga bahan baku, bukan MDR.

Untuk usaha bermargin tipis seperti kios rokok, pulsa, dan sembako tertentu, hitungannya berbeda karena MDR bisa memakan dua digit persen dari laba kotor. Di sini yang perlu ditinjau bukan cuma harga, tapi juga bauran produk. Menaikkan harga rokok di atas harga eceran tertinggi jelas bukan pilihan, sehingga jalan yang lebih realistis adalah memastikan kategori merchant Anda tepat dan memperbesar porsi produk bermargin lebih baik. Pendekatan ini kami bahas lebih jauh di panduan aplikasi kasir toko sembako.

Kalau Anda memang memutuskan menaikkan harga, hitunglah dengan benar. Untuk tetap menerima jumlah bersih yang sama setelah potongan 0,7 persen, kenaikan yang diperlukan sekitar 0,7 persen, bukan angka bulat yang terasa enak. Pada harga Rp20.000, kenaikan itu setara sekitar Rp141. Masalahnya, pembulatan di lapangan biasanya lompat ke Rp20.500, yang berarti kenaikan 2,5 persen atau lebih dari tiga kali lipat kebutuhan sebenarnya. Ini contoh ilustrasi, tapi polanya nyata. Pembulatan yang tidak dihitung membuat Anda menaikkan harga jauh melebihi biaya yang ingin ditutup, dan pelanggan merasakan kenaikan itu meski Anda mengira sedang sekadar impas.

Karena itu saran kami sederhana. Jangan menjadikan MDR sebagai alasan menyesuaikan harga secara terpisah. Masukkan MDR ke dalam struktur biaya bersama sewa, gaji, listrik, dan bahan baku, lalu tetapkan satu harga jual yang sudah sehat untuk semua metode pembayaran. Kalau Anda juga mengelola restoran yang kena kewajiban pajak daerah, komponen itu punya aturan main tersendiri dan kami bahas terpisah di panduan pajak restoran (PB1).

Kesalahan Umum Pedagang soal Biaya QRIS

Dari obrolan dengan pemilik warung dan kafe, ada pola keliru yang berulang. Yang pertama dan paling merugikan adalah menolak memasang QRIS karena takut potongannya besar. Kalau usaha Anda masuk kategori Usaha Mikro dan rata-rata bon di bawah Rp500.000, tarifnya nol persen. Menolak QRIS dalam kondisi itu berarti menolak pembeli yang tidak membawa uang tunai demi menghindari biaya yang sebenarnya tidak ada.

Kedua, tidak pernah mengecek kategori merchant sendiri. Kategori inilah penentu tarif, dan salah kategori berarti Anda membayar lebih dari seharusnya sepanjang tahun tanpa sadar. Cek sekali, lalu simpan bukti kategorinya.

Ketiga, menambahkan biaya ke pembeli. Selain melanggar ketentuan Bank Indonesia yang sudah dikutip di atas, praktik ini merusak kepercayaan pelanggan demi angka yang, untuk kebanyakan warung, ternyata nol.

Keempat, tidak pernah merekonsiliasi penjualan dengan mutasi rekening. Tanpa pencatatan yang rapi, Anda tidak akan tahu apakah selisihnya berasal dari MDR, dari biaya penarikan, dari transaksi yang gagal, atau dari kebocoran lain di kasir. Selisih yang tidak dijelaskan cenderung dianggap wajar padahal belum tentu.

Kelima, mencampur rekening usaha dengan rekening pribadi. Begitu dana QRIS masuk ke rekening yang juga dipakai belanja rumah tangga, menghitung biaya usaha yang sah menjadi pekerjaan yang melelahkan dan potensi MDR sebagai pengurang penghasilan bruto jadi sulit dibuktikan.

Kasirnesia membantu di bagian pencatatannya, bukan di bagian tarifnya. Tarif MDR ditetapkan Bank Indonesia dan sama di semua penyedia untuk kategori yang sama, jadi tidak ada aplikasi kasir yang bisa menurunkannya. Yang bisa dilakukan aplikasi kasir adalah membuat penjualan per metode pembayaran tercatat otomatis, sehingga membandingkan angka QRIS dengan mutasi rekening jadi pekerjaan lima menit. Rincian fiturnya bisa Anda lihat di halaman fitur, dan Anda bisa mencobanya lewat paket gratis sebelum memutuskan berlangganan.

FAQ: Pertanyaan Umum seputar Biaya QRIS

Berapa biaya QRIS yang dipotong dari pedagang? Besaran biaya QRIS ditetapkan Bank Indonesia lewat tarif MDR (Merchant Discount Rate) dan berbeda menurut kategori merchant. Untuk merchant reguler kategori Usaha Mikro (UMI), tarifnya 0 persen untuk transaksi sampai dengan Rp500.000 dan 0,3 persen untuk transaksi di atas nilai itu. Merchant kategori Usaha Kecil, Menengah, dan Besar dikenakan 0,7 persen. Tarif ini berlaku efektif sejak 15 Maret 2025 dan bisa berubah sewaktu-waktu, jadi selalu konfirmasi ke penyedia jasa pembayaran Anda.

Siapa yang menanggung biaya MDR QRIS? Bank Indonesia menegaskan biaya MDR ditanggung oleh merchant, bukan oleh konsumen. Biaya ini tidak masuk ke kas Bank Indonesia, melainkan dibagi ke pelaku industri sistem pembayaran seperti lembaga issuer, acquirer, switching, ASPI, dan PTEN. Artinya potongan itu adalah biaya jasa pemrosesan transaksi, bukan pajak.

Bolehkah pedagang menaikkan harga khusus untuk pembayaran QRIS? Tidak boleh. Bank Indonesia menyatakan biaya MDR ditanggung merchant dan tidak boleh dibebankan kepada konsumen, sehingga memasang aturan seperti tambahan seribu rupiah khusus pembayaran QRIS melanggar ketentuan tersebut. Kalau MDR terasa mengganggu margin, jalan keluarnya adalah menghitung ulang harga pokok penjualan lalu menetapkan satu harga jual yang berlaku sama untuk semua metode pembayaran.

Kapan dana QRIS masuk ke rekening merchant? Tidak ada jadwal tunggal yang berlaku untuk semua merchant karena skema pencairan ditentukan oleh penyedia jasa pembayaran tempat Anda mendaftar. Sebagai gambaran, Bank Maspion membagi pencairan QRIS ke dua batch, transaksi pukul 00.00 sampai 14.59 WIB dicairkan pukul 15.00 sampai 17.00 WIB di hari yang sama, sedangkan transaksi pukul 15.00 sampai 23.59 WIB dicairkan pukul 08.00 sampai 10.00 WIB keesokan harinya. Tanyakan skema batch dan jam potong ke penyedia Anda sebelum mendaftar.

Apakah pembeli dikenakan PPN tambahan saat membayar dengan QRIS? Tidak. Direktorat Jenderal Pajak menyatakan tidak ada PPN yang dikenakan apabila masyarakat memilih cara pembayaran dengan QRIS. PPN hanya dikenakan atas MDR yang dipungut Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran kepada pemilik merchant, jadi nilai belanja pelanggan tidak bertambah hanya karena ia memilih bayar lewat QRIS.

Apakah biaya MDR bisa dihitung sebagai biaya usaha? Menurut penjelasan di situs Direktorat Jenderal Pajak, MDR bagi merchant bisa menjadi biaya operasional yang dapat dibebankan sebagai pengurang penghasilan bruto dalam perhitungan PPh. Supaya bisa dimanfaatkan, potongan MDR harus tercatat rapi setiap bulan, bukan cuma diketahui lewat selisih saldo rekening. Untuk kepastian penerapan pada kondisi usaha Anda, konsultasikan ke konsultan pajak atau kantor pajak setempat.

Masih bingung menghitung dampak MDR ke margin usaha Anda? Chat tim Kasirnesia lewat WhatsApp di wa.me/6285136212005, kami bantu Anda menyusun hitungannya memakai angka penjualan Anda sendiri.

Gratis untuk mulai

Siap berhenti nyatet manual dan mulai jualan lebih rapi?

Coba Kasirnesia gratis, tetap jalan walau internet mati, dan langganan bulanan tanpa setor setahun di muka. Tim kami siap bantu setup lewat WhatsApp.