Kasirnesia

Pembayaran

QRIS Statis dan Dinamis: Bedanya untuk Usaha Anda

QRIS statis dan dinamis beda di cara kerja, biaya, dan kecocokan. QRIS statis dicetak sekali, QRIS dinamis muncul otomatis dari aplikasi kasir tiap transaksi.

13 menit baca
QRIS Statis dan Dinamis: Bedanya untuk Usaha Anda

QRIS statis dan dinamis adalah dua cara menyajikan kode QRIS di kasir Anda: QRIS statis berupa satu kode yang dicetak sekali lalu pembeli mengetik sendiri nominal bayarnya, sedangkan QRIS dinamis menampilkan kode dengan nominal yang sudah terisi otomatis setiap transaksi. Keduanya sama-sama QRIS resmi yang ditetapkan Bank Indonesia, sama-sama gratis untuk didapatkan, dan sama-sama bisa menerima pembayaran dari semua aplikasi dompet digital dan mobile banking. Yang berbeda hanya siapa yang mengisi nominal dan bagaimana kode itu muncul.

Perbedaan yang terdengar sepele ini justru menentukan seberapa cepat antrean di kasir Anda jalan, seberapa besar risiko salah nominal, dan seberapa rapi laporan penjualan Anda di akhir hari. Warung kopi dengan tiga puluh transaksi sehari punya kebutuhan yang jauh berbeda dari kafe ramai dengan ratusan struk per hari. Artikel ini membedah keduanya dari sisi pemilik usaha, bukan dari sisi teknis bank, supaya Anda bisa memilih yang benar-benar pas dengan kondisi usaha Anda.

Daftar Isi

  1. Apa Itu QRIS Statis dan QRIS Dinamis
  2. Cara Kerja Keduanya Saat Pembeli Membayar
  3. Tabel Perbandingan QRIS Statis vs Dinamis
  4. Kelebihan dan Kekurangan QRIS Statis
  5. Kelebihan dan Kekurangan QRIS Dinamis
  6. Warung Kecil atau Kafe Ramai, Mana yang Anda Butuhkan
  7. Cara Mendapatkan Keduanya dan Kaitannya dengan Aplikasi Kasir
  8. FAQ: Pertanyaan Umum seputar QRIS Statis dan Dinamis

Apa Itu QRIS Statis dan QRIS Dinamis

Sebelum membahas bedanya, penting dipahami dulu bahwa keduanya adalah QRIS yang sama persis dari sisi aturan. QRIS, singkatan dari Quick Response Code Indonesian Standard, adalah standar QR Code pembayaran yang ditetapkan oleh Bank Indonesia agar transaksi digital lebih cepat, mudah, murah, aman, dan andal, dan semua Penyedia Jasa Pembayaran yang memakai QR Code wajib mengikuti standar ini (Bank Indonesia). Jadi baik statis maupun dinamis, kode yang tertempel di meja Anda mengikuti standar nasional yang sama dan bisa dibaca oleh aplikasi pembayaran mana pun.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa QRIS punya dua model penggunaan, yaitu Merchant Presented Mode (MPM) dan Customer Presented Mode (CPM). Pada MPM, merchant yang menampilkan kode dan pembeli yang memindainya. Nah, MPM inilah yang terbagi lagi menjadi dua bentuk yang di lapangan biasa disebut QRIS statis dan QRIS dinamis.

QRIS statis, atau dalam istilah resmi MPM Statis, menurut Bank Indonesia adalah bentuk yang paling mudah. Merchant cukup memajang satu sticker atau print-out QRIS, dan pembeli tinggal scan, memasukkan nominal, memasukkan PIN, lalu klik bayar. Bank Indonesia menyebut QRIS MPM Statis sangat cocok bagi usaha mikro dan kecil (Bank Indonesia). Ciri utamanya, satu kode dipakai untuk semua transaksi dan pembeli yang menentukan sendiri angka yang diketik.

QRIS dinamis, atau MPM Dinamis, bekerja terbalik. Bank Indonesia menjelaskan bahwa kode QRIS dikeluarkan melalui suatu perangkat seperti mesin EDC atau smartphone, merchant memasukkan nominal pembayaran terlebih dahulu, kemudian pelanggan memindai QRIS yang tampil atau tercetak. Kode ini berubah setiap transaksi karena selalu memuat nominal yang baru. Bank Indonesia menilai QRIS MPM Dinamis cocok untuk merchant skala menengah dan besar atau yang punya volume transaksi tinggi. Ada juga model CPM, di mana justru pembeli yang menampilkan kode dan kasir yang memindai, tetapi model ini lebih umum di ritel modern berskala besar dan tidak menjadi fokus artikel ini.

Cara Kerja Keduanya Saat Pembeli Membayar

Cara paling gampang memahami bedanya adalah membayangkan satu pembeli yang berdiri di depan kasir Anda dengan tagihan Rp 27.000 (contoh ilustrasi). Perhatikan apa yang terjadi pada masing-masing model.

Dengan QRIS statis, alurnya begini. Anda menyebutkan total belanja, pembeli membuka aplikasi bank atau dompet digitalnya, memindai sticker QRIS di meja, lalu mengetik sendiri angka 27.000, memasukkan PIN, dan menekan bayar. Setelah itu Anda harus memastikan notifikasi pembayaran benar-benar masuk, entah lewat SMS, aplikasi merchant, atau bunyi speaker QRIS, sebelum melepas barang. Kunci keamanannya ada di langkah verifikasi ini, karena angka yang masuk sepenuhnya bergantung pada apa yang diketik pembeli.

Dengan QRIS dinamis, alurnya lebih pendek dari sisi pembeli. Anda memasukkan pesanan atau total tagihan di aplikasi kasir atau mesin EDC, sistem lalu memunculkan kode QRIS yang sudah berisi angka Rp 27.000. Pembeli tinggal memindai dan membayar tanpa perlu mengetik nominal apa pun. Karena angkanya berasal dari sistem, transaksi ini juga langsung tercatat di aplikasi kasir Anda dan masuk ke rekap tanpa harus dicocokkan manual satu per satu.

Ada satu hal yang berlaku sama untuk keduanya dan sering disalahpahami, yaitu kebutuhan internet. QRIS tetap memerlukan koneksi internet aktif di sisi pembeli agar transaksi bisa diproses. Bank Indonesia menegaskan bahwa transaksi QRIS hanya dapat dilakukan apabila perangkat pengguna terhubung dengan jaringan internet (Bank Indonesia). Baik kode statis maupun dinamis tidak akan menolong kalau jaringan bank sedang tidak terhubung, karena setiap pembayaran harus divalidasi ke sistem bank secara langsung. Karena itu, apa pun pilihan Anda, selalu siapkan opsi bayar tunai sebagai cadangan. Anda juga bisa menerima uang elektronik lain lewat berbagai dompet digital yang semuanya kini terhubung ke satu kode QRIS.

Tabel Perbandingan QRIS Statis vs Dinamis

Supaya lebih mudah ditimbang, berikut ringkasan perbedaan keduanya dalam satu tabel. Baca ini sambil membayangkan pola transaksi harian di usaha Anda sendiri.

AspekQRIS StatisQRIS Dinamis
Pengisian nominalPembeli mengetik sendiriOtomatis dari sistem atau kasir
Bentuk kodeSatu sticker atau print-out tetapKode baru muncul tiap transaksi
Perangkat yang dibutuhkanCukup kertas atau stickerSmartphone, aplikasi kasir, atau EDC
Kecepatan saat antreLebih lambat, pembeli mengetik manualLebih cepat, pembeli tinggal scan dan bayar
Risiko salah nominalAda, tergantung ketikan pembeliSangat kecil, angka dari sistem
Kebutuhan verifikasi kasirWajib cek notifikasi tiap transaksiTercatat otomatis, verifikasi lebih ringan
Rekonsiliasi ke laporanSering manualOtomatis masuk laporan penjualan
Biaya untuk mendapatkanGratisGratis
Rekomendasi Bank IndonesiaUsaha mikro dan kecilUsaha menengah, besar, volume tinggi

Tabel ini menegaskan satu pola. QRIS statis unggul dari sisi kesederhanaan dan biaya nol perangkat, sementara QRIS dinamis unggul dari sisi kecepatan, akurasi nominal, dan kerapian pencatatan. Tidak ada yang mutlak lebih baik, yang ada hanyalah lebih cocok untuk kondisi tertentu.

Kelebihan dan Kekurangan QRIS Statis

Kelebihan terbesar QRIS statis adalah kesederhanaannya. Anda tidak perlu perangkat apa pun selain selembar sticker atau print-out yang bisa ditempel di meja, dinding, atau digantung di gerobak. Untuk pedagang keliling, penjual di pasar, atau warung dengan satu meja kasir, ini praktis sekali. Sticker itu juga tahan situasi, tidak akan mati baterai dan tidak bergantung pada perangkat yang bisa error di jam sibuk. Karena gratis untuk didapatkan, hambatan awal untuk mulai menerima pembayaran digital nyaris tidak ada.

Namun ada harga yang harus dibayar dari sisi kontrol. Karena pembeli yang mengetik nominal, kasir Anda wajib memeriksa apakah angka yang masuk benar dan pembayarannya sungguh berhasil. Bayangkan warung mie ayam yang ramai di jam makan siang. Kalau kasir sibuk meracik dan lengah memeriksa notifikasi, seorang pembeli bisa saja mengetik Rp 5.000 padahal tagihannya Rp 25.000, atau menunjukkan layar "berhasil" yang sebenarnya transaksi ke akun lain. Risiko semacam ini nyata dan menjadi salah satu titik rawan yang perlu dijaga. Kami membahas pola kebocoran seperti ini lebih dalam di panduan mencegah kecurangan kasir.

Kekurangan lain muncul saat tutup buku. Karena transaksi statis tidak otomatis membawa data pesanan, mencocokkan total mutasi QRIS dengan catatan penjualan harus dilakukan manual. Untuk warung dengan sepuluh sampai dua puluh transaksi sehari, ini masih terkelola. Tetapi begitu volume naik, pekerjaan mencocokkan ini memakan waktu dan gampang salah. Di sinilah pentingnya pembukuan yang rapi, misalnya lewat rekap laporan penjualan harian supaya angka di mutasi bank dan di catatan Anda tidak melenceng.

Poin Penting: QRIS statis bukan berarti tidak aman, tetapi keamanannya bergantung pada disiplin kasir memeriksa setiap notifikasi masuk. Kalau usaha Anda ramai dan kasir tidak sempat mengecek satu per satu, celah salah nominal itu terbuka lebar.

Kelebihan dan Kekurangan QRIS Dinamis

QRIS dinamis menyelesaikan dua kelemahan terbesar statis sekaligus, yaitu risiko salah nominal dan kerepotan rekonsiliasi. Karena angka pembayaran diisi oleh sistem, pembeli tidak punya ruang untuk mengetik angka yang salah, baik karena keliru maupun karena iseng. Kasir juga tidak perlu menghafal atau mendikte total, cukup memproses pesanan di aplikasi dan kode muncul dengan sendirinya. Untuk kafe yang menjual banyak menu dengan harga berbeda-beda, ketepatan ini sangat terasa manfaatnya.

Dari sisi kecepatan, dinamis memangkas satu langkah yang paling sering memperlambat antrean, yaitu pembeli mengetik nominal. Di jam sibuk sebuah kedai kopi, selisih beberapa detik per transaksi menumpuk menjadi antrean yang jauh lebih pendek di akhir jam ramai. Ditambah lagi, setiap transaksi langsung tercatat lengkap dengan rincian pesanannya, sehingga laporan penjualan tersusun otomatis dan struk bisa langsung dicetak. Kalau Anda ingin memahami bagaimana struk rapi terbentuk dari transaksi seperti ini, ada panduan terpisah soal cara membuat struk atau nota kasir.

Tentu ada sisi yang perlu dipertimbangkan. QRIS dinamis membutuhkan perangkat, entah smartphone dengan aplikasi kasir atau mesin EDC, dan tetap butuh koneksi internet untuk memunculkan kode dan memproses pembayaran. Bagi usaha yang sangat kecil dan jarang bertransaksi, menyiapkan perangkat plus aplikasi bisa terasa berlebihan dibanding sekadar menempel sticker. Selain itu, karena bergantung pada perangkat, Anda perlu memastikan baterai, jaringan, dan aplikasi kasir dalam kondisi siap. Ketergantungan pada perangkat ini adalah harga yang wajar ditukar dengan kecepatan dan akurasi, tetapi tetap perlu diantisipasi dengan menyiapkan cadangan.

Pro Tip: Kalau Anda pindah dari statis ke dinamis, jangan langsung mencabut sticker lama. Biarkan tertempel sebagai cadangan. Saat perangkat kasir sempat error atau listrik padam, pembeli masih bisa membayar lewat sticker statis, dan usaha Anda tidak berhenti melayani.

Warung Kecil atau Kafe Ramai, Mana yang Anda Butuhkan

Setelah memahami untung ruginya, pertanyaannya menjadi praktis, model mana yang harus Anda ambil. Jawabannya bergantung pada tiga hal, yaitu volume transaksi, keragaman harga menu, dan jumlah kasir yang Anda operasikan.

Untuk warung kecil, pedagang keliling, toko kelontong dengan satu penjaga, atau usaha musiman yang berpindah lokasi, QRIS statis umumnya sudah memadai. Volumenya belum tinggi, harga barangnya sering hafal di luar kepala, dan penjaganya bisa langsung mengecek notifikasi tiap ada pembayaran. Menempel satu sticker gratis jelas lebih masuk akal daripada menyiapkan perangkat. Ini selaras dengan penilaian Bank Indonesia yang menyebut QRIS MPM statis cocok untuk usaha mikro dan kecil.

Untuk kafe, restoran, kedai kopi kekinian, atau toko dengan antrean panjang dan banyak varian harga, QRIS dinamis hampir selalu lebih tepat. Di sini kecepatan dan akurasi berdampak langsung ke pengalaman pelanggan dan ketenangan kasir. Apalagi kalau Anda punya lebih dari satu titik kasir, kode dinamis yang otomatis tercatat mencegah kekacauan pencatatan antar kasir. Perlu diingat juga, Bank Indonesia membatasi nominal transaksi QRIS paling banyak Rp 10.000.000 per transaksi (Bank Indonesia), jadi untuk tagihan besar seperti pesta atau pesanan borongan, Anda perlu memperhitungkan batas ini apa pun modelnya.

Ukuran Sederhana: Kalau kasir Anda pernah kelewatan memeriksa pembayaran karena terlalu sibuk, atau antrean sering menumpuk gara-gara pembeli mengetik nominal, itu tanda usaha Anda sudah melampaui QRIS statis. Saat salah satu kondisi itu terjadi seminggu sekali saja, beralih ke dinamis biasanya sepadan.

Banyak usaha akhirnya memakai keduanya. QRIS dinamis dari aplikasi kasir untuk transaksi harian yang cepat dan tercatat, ditambah satu sticker statis di sudut meja sebagai jaring pengaman. Kombinasi ini memberi kecepatan tanpa mengorbankan ketahanan saat perangkat bermasalah.

Cara Mendapatkan Keduanya dan Kaitannya dengan Aplikasi Kasir

Titik awal untuk keduanya sama, yaitu mendaftar sebagai merchant ke salah satu Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) yang sudah terdaftar di Bank Indonesia, bisa berupa bank maupun penyedia dompet digital. Menurut Bank Indonesia, Anda melengkapi data usaha dan dokumen yang diminta, menunggu proses verifikasi dan pembuatan Merchant ID, lalu PJP mengirimkan kode QRIS dalam bentuk cetak atau softcopy (Bank Indonesia). Dari titik ini jalurnya bercabang sesuai model yang Anda pilih. Kalau ingin panduan langkah demi langkah yang lebih rinci, kami sudah menulisnya di cara daftar QRIS untuk usaha.

Untuk QRIS statis, kode yang dikirim PJP tinggal Anda cetak dan pajang. Selesai. Tidak ada langkah tambahan, tidak ada perangkat, dan kode itu langsung bisa dipakai menerima pembayaran. Untuk QRIS dinamis, Anda memerlukan alat yang memunculkan kode berisi nominal, dan di sinilah aplikasi kasir masuk. Aplikasi kasir, yang merupakan wujud modern dari sistem point of sale, memungkinkan Anda memasukkan pesanan, lalu secara otomatis menampilkan kode QRIS dinamis yang sudah berisi total tagihan. Begitu pembeli membayar, transaksi tercatat lengkap tanpa perlu diinput ulang.

Inilah keuntungan menyatukan QRIS dinamis dengan aplikasi kasir. Bukan sekadar memunculkan kode, tetapi menghubungkan pembayaran dengan stok, menu, dan laporan dalam satu alur. Nominal yang dibayar pembeli persis sama dengan yang tercatat di penjualan, sehingga pembukuan tidak perlu dicocokkan manual di malam hari. Soal biaya, ingat bahwa mendapatkan QRIS itu gratis, tetapi setiap transaksi tetap dikenai Merchant Discount Rate untuk merchant sesuai ketentuan Bank Indonesia. Besaran tarifnya diatur dan bisa berubah, jadi jangan menebak-nebak angkanya, dan sebaiknya cek langsung di pembahasan khusus soal biaya QRIS MDR.

Kasirnesia menyediakan QRIS dinamis yang menyatu dengan pencatatan transaksi, sehingga kode dengan nominal yang benar muncul otomatis setiap kali Anda menyelesaikan pesanan. Kami jujur pada posisi kami, Kasirnesia adalah aplikasi kasir, bukan penyedia jasa pembayaran atau konsultan pajak. Pendaftaran QRIS tetap Anda lakukan lewat PJP, dan aplikasi kasir berperan menghubungkan QRIS dinamis itu ke operasional harian Anda. Detail fiturnya bisa Anda lihat di halaman fitur, dan Anda bisa mencobanya lebih dulu lewat paket gratis sebelum memutuskan.

FAQ: Pertanyaan Umum seputar QRIS Statis dan Dinamis

Apa beda QRIS statis dan QRIS dinamis? QRIS statis adalah satu kode yang dicetak sekali, lalu pembeli mengetik sendiri nominal bayarnya saat scan. QRIS dinamis adalah kode yang muncul lewat perangkat atau aplikasi kasir dengan nominal sudah terisi otomatis setiap transaksi. Keduanya sama-sama standar QRIS resmi yang ditetapkan Bank Indonesia dan gratis untuk didapatkan. Yang membedakan hanya siapa yang mengisi nominal dan bagaimana kodenya muncul.

QRIS statis atau dinamis yang lebih cocok untuk warung kecil? Untuk warung mikro dengan jumlah transaksi tidak terlalu banyak, QRIS statis biasanya sudah cukup karena gratis, tidak butuh perangkat tambahan, dan cukup menempel satu sticker. Bank Indonesia sendiri menyebut QRIS MPM statis cocok untuk usaha mikro dan kecil. Kalau antrean mulai panjang atau kasir sering repot memeriksa nominal, barulah pertimbangkan pindah ke QRIS dinamis.

Apakah QRIS dinamis berbayar dan QRIS statis gratis? Menurut Bank Indonesia, keduanya gratis untuk didapatkan, baik sticker QRIS statis maupun kode dinamis yang keluar dari perangkat. Jadi bukan biaya perolehan yang membedakan. Yang perlu Anda ingat, setiap transaksi QRIS tetap dikenai Merchant Discount Rate (MDR) untuk merchant sesuai ketentuan Bank Indonesia. Rincian tarifnya dibahas terpisah di panduan biaya QRIS MDR.

Kenapa QRIS dinamis dianggap lebih aman soal nominal? Pada QRIS dinamis, nominal sudah terisi otomatis dari sistem, jadi pembeli tidak bisa salah ketik atau sengaja memasukkan angka lebih kecil. Pada QRIS statis, pembeli mengetik sendiri nominalnya, sehingga kasir wajib memeriksa notifikasi masuk sebelum melepas barang. Itu sebabnya usaha dengan volume transaksi tinggi cenderung memilih QRIS dinamis.

Apakah QRIS dinamis butuh aplikasi kasir? Tidak wajib, tetapi paling praktis lewat aplikasi kasir atau mesin EDC. Aplikasi kasir memunculkan kode dinamis berisi nominal begitu Anda selesai memasukkan pesanan, lalu transaksinya langsung tercatat di laporan. Tanpa aplikasi, Anda masih bisa membuat kode dinamis secara manual di aplikasi merchant dari penyedia jasa pembayaran, tetapi cara ini lebih merepotkan untuk volume tinggi.

Bisakah satu usaha memakai QRIS statis dan dinamis sekaligus? Bisa. Banyak usaha menempel QRIS statis sebagai cadangan di meja sekaligus memakai QRIS dinamis dari aplikasi kasir untuk transaksi harian. Kombinasi ini berguna saat perangkat kasir bermasalah, saat listrik padam, atau saat ada pembeli yang antre di luar jangkauan kasir utama.

Masih ragu memilih antara QRIS statis dan dinamis untuk usaha Anda? Chat tim Kasirnesia langsung lewat WhatsApp di wa.me/6285136212005, kami bantu menimbang sesuai volume dan jenis usaha Anda.

Gratis untuk mulai

Siap berhenti nyatet manual dan mulai jualan lebih rapi?

Coba Kasirnesia gratis, tetap jalan walau internet mati, dan langganan bulanan tanpa setor setahun di muka. Tim kami siap bantu setup lewat WhatsApp.