Supplier adalah pihak yang memasok barang atau bahan baku ke usaha Anda secara berulang, bukan sekadar tempat Anda kebetulan belanja sekali dua kali. Padanan bahasa Indonesianya adalah pemasok, yang oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai "orang atau organisasi yang memasok" (KBBI). Untuk warung, toko kelontong, dan kafe, supplier menentukan dua hal yang menempel langsung ke laba: berapa harga modal Anda, dan apakah barang tersedia saat pembeli datang.
Kata kuncinya ada di "berulang". Belanja sekali di pasar untuk menambal stok yang habis bukan hubungan dengan supplier, itu belanja darurat. Hubungan dengan supplier terbentuk saat ada pola: Anda pesan rutin, dia tahu barang apa yang biasa Anda ambil, dan lama-lama muncul kesepakatan soal harga, tempo bayar, dan hari kirim. Artikel ini membahas jenis-jenis supplier, bedanya dengan distributor, grosir, dan reseller yang sering tertukar, cara mencari pemasok pertama, kriteria menilainya, cara menegosiasi tempo dan diskon, sampai cara mengelola banyak supplier tanpa membuat pembukuan Anda kacau.
Daftar Isi
- Apa Itu Supplier dan Kenapa Bukan Sekadar Tempat Kulakan
- Lima Jenis Supplier yang Umum Dipakai Usaha Kecil
- Beda Supplier dengan Distributor Grosir dan Reseller
- Cara Mencari Supplier Pertama Saat Belum Punya Kenalan
- Enam Kriteria Menilai Supplier Sebelum Dijadikan Langganan
- Cara Menegosiasi Tempo Pembayaran dan Diskon Volume
- Tanda Supplier Bermasalah dan Cara Mengelola Banyak Supplier
- FAQ Pertanyaan Umum seputar Supplier
Apa Itu Supplier dan Kenapa Bukan Sekadar Tempat Kulakan
Banyak pemilik usaha kecil memperlakukan supplier seperti kasir minimarket: datang, bayar, pulang, selesai. Padahal hubungan dengan pemasok lebih mirip hubungan kerja jangka panjang, dan kualitas hubungan itu terasa justru di hari-hari sulit, misalnya saat barang langka di pasaran atau saat arus kas Anda sedang seret.
Pertimbangkan kasus yang sering terjadi di kafe kecil. Satu pemasok biji kopi telat kirim tiga hari di minggu ramai. Menu andalan tidak bisa dijual, pembeli yang datang khusus untuk kopi itu pulang, dan sebagian tidak kembali minggu berikutnya. Kerugiannya bukan sekadar selisih harga beberapa ribu rupiah per kilogram, tapi omzet menu utama selama tiga hari plus pelanggan yang hilang. Di titik ini, supplier yang harganya sedikit lebih mahal tapi tidak pernah telat justru lebih menguntungkan.
Supplier juga bukan cuma pemasok barang dagangan. Warung dan kafe punya rantai pasok yang lebih panjang daripada yang biasa disadari: bahan baku, kemasan bawa pulang, gas melon, kertas struk, sabun cuci, sedotan, sampai es batu. Semua itu punya pemasoknya masing-masing, dan semua bisa menghentikan operasional kalau kosong di jam sibuk. Toko kelontong yang kehabisan kantong plastik tetap bisa jualan, tapi kafe yang kehabisan gelas takeaway di hari libur praktis berhenti melayani pesanan bawa pulang.
Satu hal lagi yang sering terlewat: supplier adalah sumber utang dagang Anda. Begitu Anda mulai mengambil barang dengan tempo pembayaran, sebagian modal kerja usaha Anda sebenarnya dipinjami oleh pemasok. Ini bagus kalau dikelola, dan berbahaya kalau tidak dicatat. Banyak warung yang merasa "uang di laci banyak" padahal sebagian besar sudah menjadi hak supplier yang jatuh temponya minggu depan.
Lima Jenis Supplier yang Umum Dipakai Usaha Kecil
Tidak semua supplier bekerja dengan cara yang sama. Mengenali jenisnya membantu Anda tahu apa yang wajar diminta dan apa yang tidak.
Pertama, produsen langsung. Ini pabrik atau pembuat barangnya sendiri, termasuk produsen skala UMKM seperti pembuat keripik rumahan, tahu, roti, atau kopi sangrai lokal. Harganya paling rendah karena tidak ada perantara, dan Anda bisa minta penyesuaian seperti ukuran kemasan atau tingkat sangrai. Konsekuensinya, minimal order biasanya paling tinggi dan jadwal produksinya tidak selalu fleksibel. Cocok untuk barang yang perputarannya sudah terbukti cepat di tempat Anda.
Kedua, distributor resmi. Pemegang merek tertentu untuk wilayah tertentu, biasanya punya sales yang berkunjung rutin, faktur resmi, dan program promosi dari prinsipal. Harga cenderung stabil dan ketersediaannya terjaga. Kelemahannya, mereka hanya membawa merek yang mereka pegang, jadi Anda tetap butuh pemasok lain untuk melengkapi rak.
Ketiga, grosir atau pusat kulakan. Menjual banyak merek sekaligus dalam partai besar, jadi Anda bisa belanja campur dalam satu kali jalan. Harganya biasanya sedikit di atas distributor untuk merek yang sama, tapi keleluasaannya jauh lebih besar dan tidak selalu ada minimal order per merek. Pembahasan lengkap soal cara kerja dan posisi pedagang jenis ini sudah kami tulis terpisah di grosir adalah.
Keempat, importir. Relevan untuk kafe dan restoran yang memakai barang impor seperti sirup, mesin kopi, atau peralatan dapur tertentu. Waktu tunggunya paling panjang, harganya bisa berubah mengikuti kurs, dan ketersediaan suku cadang perlu ditanyakan di awal, bukan setelah mesin rusak.
Kelima, dropshipper atau pemasok tanpa stok. Mereka tidak menyimpan barang, hanya meneruskan pesanan Anda ke pihak lain. Untuk toko fisik yang butuh barang tersedia hari ini, model ini jarang cocok karena Anda tidak mengendalikan waktu kirim maupun kualitas kiriman. Yang masuk akal adalah memakainya untuk menguji produk baru dalam jumlah kecil sebelum memutuskan kulakan sungguhan.
Di luar lima jenis itu, ada pola yang tidak murni jual putus, yaitu pemasok yang menitipkan barang dan baru dibayar setelah laku. Skema, pembagian hasil, dan cara mencatatnya kami bahas terpisah di panduan konsinyasi.
Beda Supplier dengan Distributor Grosir dan Reseller
Ini bagian yang paling sering membingungkan, dan penyebabnya sederhana: empat istilah itu tidak sejajar. Supplier adalah peran, sedangkan distributor, grosir, dan reseller adalah jenis pedagang. Siapa pun yang memasok barang ke usaha Anda sedang berperan sebagai supplier Anda, entah dia pabrik, distributor resmi, toko grosir di pasar, atau bahkan seorang reseller yang kebetulan punya stok saat Anda kepepet.
Definisi resminya membantu memisahkan tiga jenis pedagang tadi. KBBI mengartikan distributor sebagai "orang atau badan yang bertugas mendistribusikan barang (dagangan); penyalur" (KBBI). Grosir adalah pedagang yang menjual dalam jumlah besar ke pedagang lain. Reseller adalah pihak yang menjual kembali barang yang dia beli, umumnya dalam satuan kecil ke konsumen akhir, tanpa mengubah bentuk atau kemasannya.
| Istilah | Posisinya | Membeli dari | Menjual ke | Ciri yang paling mudah dikenali |
|---|---|---|---|---|
| Supplier | Peran, bukan jenis usaha | Bervariasi | Pihak yang dia pasok | Siapa pun yang memasok barang ke Anda secara berulang |
| Distributor | Penyalur resmi satu atau beberapa merek | Produsen atau prinsipal | Grosir, pengecer, horeka | Terikat merek dan wilayah, punya sales kunjungan dan faktur resmi |
| Grosir | Pedagang partai besar | Distributor, produsen | Pedagang lain | Banyak merek dalam satu tempat, dijual per dus atau per karton |
| Reseller | Penjual ulang skala kecil | Grosir, distributor, produsen | Konsumen akhir | Tanpa gudang besar, stok tipis, sering berjualan online |
Kenapa pembedaan ini penting secara praktis? Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, harga. Kalau Anda memperkenalkan diri sebagai pemilik warung yang kulakan rutin, daftar harga yang keluar dari distributor berbeda dengan harga untuk pembeli akhir. Kedua, saat mencari "supplier" di marketplace, yang sering muncul justru reseller yang menyebut dirinya supplier. Harganya sudah memuat margin mereka, dan stoknya bisa habis kapan saja karena mereka juga membeli dari pihak lain.
Ketiga, soal jaminan. Distributor resmi umumnya punya prosedur retur dan penukaran barang rusak yang jelas karena mereka terikat aturan prinsipal. Reseller kecil sering tidak punya mekanisme itu, jadi barang cacat menjadi risiko Anda sepenuhnya. Bedanya baru terasa saat ada masalah, bukan saat transaksi berjalan lancar.
Poin Penting: Saat menilai calon pemasok, jangan berhenti di pertanyaan "harganya berapa". Tanyakan juga "Anda mengambil barang ini dari siapa". Jawabannya memberi tahu Anda berapa lapis margin yang sudah menempel di harga, dan seberapa besar kemungkinan stoknya kosong saat Anda butuh.
Cara Mencari Supplier Pertama Saat Belum Punya Kenalan
Pemilik usaha baru sering merasa mencari supplier butuh koneksi khusus. Kenyataannya, empat jalur berikut bisa ditempuh siapa saja dalam waktu satu sampai dua minggu.
Datang langsung ke pasar induk atau pusat kulakan kota Anda. Ini cara paling cepat mendapat gambaran harga wajar. Bawa catatan berisi daftar barang dan kuantitas yang Anda butuhkan per minggu, lalu tanyakan harga ke minimal tiga kios berbeda untuk barang yang sama. Catat nama kios, nomor kontak, harga, dan minimal ordernya. Setelah tiga kios, Anda sudah punya rentang harga pasar yang bisa dipakai membandingkan tawaran mana pun setelahnya.
Minta rekomendasi ke sesama pedagang. Jalur ini paling sering diremehkan padahal paling akurat, karena informasinya berasal dari pengalaman nyata, bukan brosur. Pedagang yang bukan pesaing langsung biasanya terbuka berbagi: pemilik warung di kelurahan lain, kenalan di paguyuban pasar, atau grup pedagang di aplikasi pesan. Pertanyaan yang paling berguna bukan "supplier mana yang murah", tapi "supplier mana yang pernah mengecewakan Anda dan kenapa".
Ikut pameran dagang dan bazar UMKM. Di acara semacam ini Anda bisa bertemu produsen langsung tanpa perantara, mencicipi atau memeriksa barangnya, dan menanyakan minimal order di tempat. Bawa kontak yang mudah dihubungi dan catat semua kartu nama dengan keterangan barang apa yang mereka jual, karena setelah dua hari acara semuanya akan tercampur.
Telusuri marketplace B2B dan kemasan produk. Beberapa platform khusus melayani pembelian partai untuk usaha, dan sebagian marketplace umum punya penjual dengan harga bertingkat untuk pembelian banyak. Jalur tambahan yang murah: balik kemasan produk yang laku di toko Anda. Nama produsen, distributor, dan nomor layanan pelanggan biasanya tercantum di label. Menghubungi nomor itu sering mengarahkan Anda ke distributor resmi wilayah Anda.
Satu jalur pasif yang juga layak dimanfaatkan adalah sales yang datang menawarkan ke toko. Jangan langsung memesan di kunjungan pertama. Ambil kartu namanya, minta daftar harga, lalu bandingkan dengan rentang harga pasar yang sudah Anda catat. Sales yang serius tidak keberatan menunggu beberapa hari.
Enam Kriteria Menilai Supplier Sebelum Dijadikan Langganan
Setelah punya beberapa kandidat, nilai dengan kriteria yang sama supaya perbandingannya adil. Enam kriteria berikut mencakup hampir semua masalah yang biasanya muncul belakangan.
Harga sampai di toko, bukan harga di daftar. Harga per unit yang terlihat murah bisa berubah setelah ditambah ongkos kirim, biaya bongkar, atau minimal order yang memaksa Anda membeli lebih banyak daripada kebutuhan. Hitung total yang benar-benar keluar dari kas Anda untuk kuantitas yang benar-benar Anda pakai.
Konsistensi kualitas antar kiriman. Barang di kiriman pertama sering merupakan yang terbaik. Yang perlu Anda pantau adalah kiriman ketiga dan seterusnya: apakah ukurannya tetap, apakah tanggal kedaluwarsanya masih panjang, apakah kemasannya tetap mulus. Untuk bahan segar seperti sayur, daging, dan susu, sisa umur simpan saat barang diterima jauh lebih penting daripada selisih harga.
Tempo pembayaran. Tempo yang wajar memberi napas untuk arus kas, tapi hampir selalu ada harganya, baik berupa harga per unit yang lebih tinggi maupun kewajiban volume tertentu.
Minimal order. Ambang yang terlalu tinggi memaksa Anda menyimpan stok berlebih, mengunci modal, dan menambah risiko barang rusak atau kedaluwarsa. Ambang yang masuk akal adalah yang habis dalam satu siklus penjualan normal Anda.
Kecepatan kirim atau lead time. Ini bukan sekadar soal cepat, tapi soal bisa diperkirakan. Supplier yang selalu tiba di hari ketiga lebih mudah dikelola daripada supplier yang kadang sehari kadang seminggu, karena angka itulah yang dipakai untuk menghitung kapan Anda harus memesan ulang. Cara menghitungnya kami bahas di panduan reorder point.
Kemudahan retur. Barang rusak, salah kirim, dan jumlah kurang pasti terjadi cepat atau lambat. Yang membedakan supplier bagus dan buruk adalah apa yang terjadi setelahnya. Tanyakan prosedurnya sejak awal, dan siapkan pencatatan yang rapi seperti yang kami jelaskan di panduan retur barang.
| Kriteria | Yang perlu ditanyakan di awal | Tanda bagus | Tanda bahaya |
|---|---|---|---|
| Harga | Berapa harga sampai di toko termasuk ongkir | Ada daftar harga tertulis | Harga hanya disebut lisan dan berubah tiap pesan |
| Kualitas | Berapa sisa umur simpan saat barang diterima | Kiriman ketiga sama baiknya dengan pertama | Kualitas turun setelah Anda jadi langganan |
| Tempo bayar | Ada beda harga tunai dan tempo | Syarat tempo dijelaskan terbuka | Tempo diberikan tanpa syarat jelas lalu ditagih mendadak |
| Minimal order | Berapa minimal per jenis dan per pengiriman | Ambang habis dalam satu siklus jualan | Harus borong jauh di atas kebutuhan |
| Kecepatan kirim | Berapa hari dari pesan sampai barang datang | Waktu kirim stabil dan bisa diperkirakan | Janji kirim sering meleset tanpa kabar |
| Retur | Bagaimana prosedur barang rusak dan kurang kirim | Ada bukti terima dan penggantian jelas | Selalu ada alasan supaya retur ditolak |
Cara Menegosiasi Tempo Pembayaran dan Diskon Volume
Negosiasi dengan supplier bukan soal menawar sekeras mungkin, tapi soal menukar sesuatu yang Anda punya dengan sesuatu yang Anda butuhkan. Yang Anda punya sebagai pembeli kecil ada tiga: keteraturan pesanan, ketepatan bayar, dan kesediaan mengambil volume lebih besar sekali kirim. Ketiganya menghemat biaya pemasok, dan itulah dasar permintaan Anda.
Aturan pertama, jangan meminta tempo di pesanan pertama. Bagi pemasok, memberi tempo ke pembeli yang belum dikenal sama saja memberi pinjaman tanpa rekam jejak. Bayar tunai tepat waktu tiga sampai lima kali pesanan, pastikan pesanan Anda rutin, lalu ajukan tempo pendek seperti tujuh atau empat belas hari sambil menunjukkan pola order Anda.
Aturan kedua, sadari bahwa tempo hampir selalu ada harganya. Berikut contoh ilustrasi untuk sebuah kafe yang memakai 40 kg biji kopi per bulan. Angka-angka ini karangan untuk menunjukkan cara berpikirnya, bukan harga pasar sebenarnya.
| Skema pembayaran (contoh ilustrasi) | Harga per kg | Total 40 kg per bulan | Selisih vs tunai |
|---|---|---|---|
| Tunai di tempat | Rp 118.000 | Rp 4.720.000 | - |
| Tempo 14 hari | Rp 124.000 | Rp 4.960.000 | Rp 240.000 |
| Tempo 30 hari | Rp 128.000 | Rp 5.120.000 | Rp 400.000 |
Dari tabel itu terlihat bahwa tempo 14 hari menambah biaya sekitar Rp 240.000 per bulan, sekitar 5 persen di atas harga tunai, dan tempo 30 hari menambah sekitar Rp 400.000, sekitar 8 persen. Pertanyaannya bukan "mana yang lebih murah", tapi "apakah napas arus kas selama dua minggu itu layak dibayar Rp 240.000". Untuk usaha yang uangnya berputar cepat dan kasnya sehat, membayar tunai jelas lebih hemat. Untuk usaha yang sering kehabisan modal kulakan di tengah bulan, tempo bisa menyelamatkan penjualan yang nilainya lebih besar daripada selisih itu.
Aturan ketiga, minta diskon volume dengan angka, bukan dengan harapan. Masih contoh ilustrasi untuk kebutuhan 40 kg per bulan yang sama, tapi kali ini yang diubah adalah frekuensi pesan. Memesan 10 kg seminggu di harga Rp 120.000 per kg menghabiskan Rp 4.800.000 per bulan. Memesan 20 kg dua minggu sekali di harga Rp 117.000 per kg menghabiskan Rp 4.680.000, hemat Rp 120.000. Memesan sekaligus 40 kg sebulan sekali di harga Rp 114.000 per kg menghabiskan Rp 4.560.000, hemat Rp 240.000 atau 5 persen.
Angka itu terlihat menarik, tapi ada dua biaya yang tidak muncul di tabel mana pun: modal Anda terkunci lebih lama di awal bulan, dan biji kopi yang disimpan sebulan tidak sesegar yang baru datang. Untuk barang tahan lama seperti gula, minyak goreng, atau kemasan, borongan bulanan biasanya menguntungkan. Untuk bahan yang kesegarannya menentukan rasa, penghematan Rp 240.000 bisa kalah oleh keluhan pelanggan.
Kalau supplier menolak menurunkan harga, tawar dalam bentuk lain. Ongkos kirim ditanggung, bonus barang untuk pembelian sekian dus, hadiah untuk promosi toko, jadwal kirim tetap di hari yang Anda inginkan, atau kesediaan menukar barang yang tidak laku dengan varian lain. Bagi pemasok, memberi bonus barang sering lebih ringan daripada menurunkan harga resmi yang berlaku ke semua pelanggannya.
Pro Tip: Sebelum menerima tawaran diskon volume, hitung dulu berapa lama stok itu habis di toko Anda. Diskon 5 persen untuk barang yang baru habis dalam tiga bulan sering kalah menguntungkan dibanding modal yang bisa Anda putar untuk barang lain selama tiga bulan itu.
Apa pun hasil negosiasinya, ingat bahwa harga beli baru adalah setengah cerita. Setengahnya lagi adalah bagaimana harga itu Anda terjemahkan ke harga jual di rak, yang kami bahas langkah demi langkah di panduan cara menentukan harga jual.
Tanda Supplier Bermasalah dan Cara Mengelola Banyak Supplier
Supplier bermasalah jarang tampak buruk sejak awal. Biasanya penurunannya bertahap, dan baru terasa setelah Anda telanjur bergantung. Enam tanda berikut layak Anda waspadai.
Pertama, jumlah kiriman sering kurang tapi faktur tetap penuh. Sesekali bisa jadi kelalaian, tapi kalau berulang dan koreksinya selalu lambat, itu pola. Kedua, kualitas menurun diam-diam setelah Anda menjadi langganan: ukuran menyusut, tanggal kedaluwarsa makin mepet, kemasan makin sering penyok. Ketiga, harga naik tanpa pemberitahuan dan baru ketahuan saat Anda mencocokkan nota dengan harga beli sebelumnya.
Keempat, sulit dihubungi saat ada masalah tapi gampang dihubungi saat menawarkan barang baru. Kelima, retur selalu dipersulit dengan alasan yang berganti-ganti. Keenam, yang paling perlu diwaspadai, pembayaran diminta ke rekening pribadi yang berubah-ubah dan nota tidak pernah diberikan. Tanpa bukti transaksi, posisi Anda lemah kalau terjadi sengketa, dan pembukuan Anda ikut berantakan.
Menghadapi tanda-tanda itu, jalan keluarnya bukan langsung memutus hubungan, melainkan mengurangi ketergantungan. Di sinilah pengelolaan banyak supplier menjadi keterampilan tersendiri. Tiga kebiasaan berikut membuatnya tidak berantakan.
Buat daftar supplier tertulis dan hidupkan datanya. Satu tabel sederhana sudah cukup: nama pemasok, kontak, barang yang dipasok, harga beli terakhir, minimal order, tempo bayar, dan hari kirim. Yang membuat daftar ini berguna bukan pembuatannya, tapi kebiasaan memperbarui harga beli terakhir setiap ada kiriman. Tanpa itu, Anda tidak akan sadar saat harga naik pelan-pelan.
Sediakan pemasok cadangan untuk barang yang menentukan jualan Anda. Untuk menu andalan kafe atau barang paling laku di warung, minimal ada dua pemasok, dan cadangannya harus pernah dipakai sungguhan, bukan hanya disimpan nomornya. Pemasok yang belum pernah melayani Anda tidak bisa diandalkan mendadak di hari kritis. Sebaliknya, jangan berlebihan: untuk barang pelengkap yang jarang laku, satu pemasok biasanya cukup, karena terlalu banyak pemasok untuk satu barang membuat harga sulit dipantau dan pembayaran gampang tertukar.
Kelompokkan jadwal pesan dan bayar. Menetapkan hari tertentu untuk memesan ke pemasok tertentu, misalnya Senin ke pemasok bahan kering dan Kamis ke pemasok sayur, membuat Anda tidak memesan hal yang sama dua kali dan tidak lupa membayar yang jatuh tempo. Catat setiap penerimaan barang di hari yang sama saat barang datang, lengkap dengan jumlah dan harganya, supaya selisih stok ketahuan cepat sebelum menumpuk.
Pencatatan seperti ini bisa dimulai dari buku tulis, dan untuk usaha yang barangnya sedikit, buku tulis masih memadai. Begitu jumlah barang dan pemasok bertambah, mencocokkan harga beli terakhir secara manual mulai memakan waktu dan rawan keliru. Kasirnesia mencatat stok masuk beserta harga belinya sehingga riwayat harga per barang bisa ditelusuri, dan stok terpotong otomatis saat penjualan terjadi. Detail cara kerjanya bisa dilihat di halaman fitur, dan gambaran umum soal pencatatan persediaan sudah kami tulis di panduan aplikasi stok barang.
Perlu kami sampaikan jujur: aplikasi kasir tidak menegosiasi harga untuk Anda dan tidak menilai kejujuran pemasok. Yang dilakukannya adalah menyediakan angka yang bisa dipercaya, harga beli terakhir, jumlah yang benar-benar diterima, dan barang mana yang perputarannya cepat, supaya keputusan dagang Anda tidak berdasarkan ingatan. Kalau ingin mencoba dulu untuk beberapa barang utama, Anda bisa mulai dari paket gratis.
FAQ Pertanyaan Umum seputar Supplier
Apa yang dimaksud dengan supplier? Supplier adalah pihak yang memasok barang atau bahan baku ke usaha Anda secara berulang, bukan sekadar tempat Anda belanja sekali dua kali. Padanan bahasa Indonesianya pemasok, yaitu orang atau organisasi yang memasok. Untuk warung, toko, dan kafe, supplier menentukan dua hal sekaligus: berapa harga modal Anda dan apakah barang tersedia saat pembeli datang.
Apa beda supplier, distributor, grosir, dan reseller? Supplier adalah peran, sedangkan distributor, grosir, dan reseller adalah jenis pedagang. Siapa pun yang memasok barang ke usaha Anda berperan sebagai supplier Anda, entah dia pabrik, distributor resmi, toko grosir, atau bahkan reseller. Distributor memegang merek tertentu untuk wilayah tertentu, grosir menjual banyak merek dalam partai besar, dan reseller menjual kembali barang yang dia beli, umumnya dalam satuan kecil.
Bagaimana cara mencari supplier untuk warung atau toko yang baru buka? Mulai dari empat jalur yang paling murah dan cepat: datang langsung ke pasar induk atau pusat kulakan di kota Anda, minta rekomendasi ke sesama pedagang yang sudah lebih dulu jalan, ikut pameran dagang dan bazar UMKM untuk bertemu produsen langsung, dan telusuri marketplace B2B atau nomor kontak yang tercantum di kemasan produk. Bandingkan minimal tiga pemasok untuk barang yang sama sebelum memutuskan langganan.
Apa saja kriteria memilih supplier yang baik? Ada enam kriteria yang layak dinilai: harga sampai di toko termasuk ongkos kirim, konsistensi kualitas antar kiriman, tempo pembayaran yang ditawarkan, minimal order yang masuk akal untuk ukuran usaha Anda, kecepatan kirim atau lead time, dan kemudahan retur saat barang rusak atau salah kirim. Supplier termurah belum tentu paling menguntungkan kalau sering telat kirim atau mempersulit retur.
Bagaimana cara meminta tempo pembayaran ke supplier baru? Jangan meminta tempo di pesanan pertama. Bangun rekam jejak dulu dengan membayar tunai tepat waktu selama beberapa kali pesanan, lalu ajukan tempo pendek seperti tujuh atau empat belas hari dengan menunjukkan pola order Anda yang rutin. Tanyakan juga apakah ada selisih harga antara pembelian tunai dan tempo, karena banyak pemasok memberi harga lebih murah untuk pembayaran di tempat.
Berapa jumlah supplier yang ideal untuk satu jenis barang? Untuk barang yang menentukan jualan Anda, sebaiknya minimal dua supplier: satu utama dan satu cadangan yang pernah Anda pakai sungguhan, bukan sekadar disimpan nomornya. Untuk barang pelengkap yang jarang laku, satu pemasok biasanya cukup. Terlalu banyak supplier untuk satu barang membuat harga sulit dipantau dan pembayaran gampang tertukar.
Masih ragu menilai calon pemasok atau mengatur pencatatan barang masuk dari banyak supplier? Chat tim Kasirnesia lewat WhatsApp di wa.me/6285136212005, kami bantu sesuai kondisi usaha Anda.

