Konsinyasi adalah sistem titip jual, pemasok menitipkan barang ke sebuah toko untuk dijualkan, barang tetap milik pemasok sampai laku, dan pemilik toko baru membayar untuk barang yang benar-benar terjual. Kalau Anda pernah melihat kue basah di warung kopi, keripik di toko kelontong, atau roti rumahan di kasir minimarket, kemungkinan besar barang itu masuk lewat jalur konsinyasi.
Sistem ini terdengar sederhana, dan memang sederhana di atas kertas. Masalah baru muncul di praktik, saat setoran dihitung dari ingatan, stok titipan tercampur dengan barang milik toko, dan tidak ada yang tahu pasti siapa menanggung lima bungkus keripik yang melempem di rak. Artikel ini membahas cara kerja konsinyasi dari dua sisi sekaligus, pemilik toko dan pemasok, termasuk pembagian keuntungan yang lazim, isi perjanjian minimal, dan cara mencatatnya di kasir supaya stok dan setoran tidak kacau.
Daftar Isi
- Apa Itu Konsinyasi dan Bagaimana Cara Kerjanya
- Pembagian Keuntungan Konsinyasi yang Lazim Dipakai
- Isi Perjanjian Konsinyasi Minimal yang Melindungi Dua Pihak
- Untung Rugi Konsinyasi dari Sisi Pemilik Toko
- Untung Rugi Konsinyasi dari Sisi Pemasok
- Cara Mencatat Penjualan Konsinyasi di Kasir
- Kesalahan Umum yang Membuat Konsinyasi Berantakan
- FAQ: Pertanyaan Umum seputar Konsinyasi
Apa Itu Konsinyasi dan Bagaimana Cara Kerjanya
Dalam konsinyasi ada dua pihak. Pemasok, sering disebut penitip atau consignor, adalah pemilik barang yang menitipkan produknya untuk dijualkan. Pemilik toko, disebut juga penerima titipan atau consignee, menyediakan tempat, memajang barang, dan melayani pembeli. Kuncinya satu, kepemilikan barang tidak berpindah saat barang diserahkan. Barang di rak toko itu tetap milik pemasok sampai ada pembeli yang membayarnya di kasir.
Alur kerjanya biasanya seperti ini:
- Kesepakatan awal. Kedua pihak menyepakati barang apa saja yang dititipkan, berapa harga jualnya, bagaimana pembagian hasilnya, dan kapan setoran dilakukan. Idealnya semua ini ditulis, bukan cuma diucapkan.
- Penyerahan barang. Pemasok mengantar barang, kedua pihak menghitung bersama, lalu jumlah dan kondisi barang dicatat di nota titip yang dipegang dua-duanya.
- Penjualan oleh toko. Toko memajang dan menjual barang seperti dagangan lain. Pembeli tidak perlu tahu barang itu titipan.
- Rekap dan setoran. Pada jadwal yang disepakati, mingguan misalnya, kedua pihak merekap berapa yang terjual. Toko menyetor hak pemasok dan menahan bagiannya sendiri.
- Retur sisa barang. Barang yang tidak laku atau mendekati kedaluwarsa dikembalikan ke pemasok, lalu ditukar stok baru kalau kerja sama berlanjut.
Soal payung hukumnya, kami sengaja tidak mengutip pasal ini itu, karena posisi kami adalah penyedia aplikasi kasir, bukan konsultan hukum. Yang bisa kami katakan dari sisi praktik, kekuatan kerja sama konsinyasi ada di perjanjian tertulis yang disepakati dan ditandatangani kedua pihak. Selama isinya jelas dan dijalankan konsisten, sebagian besar sengketa konsinyasi di level warung dan kafe tidak akan pernah sampai jadi urusan hukum, karena sumber masalahnya hampir selalu pencatatan yang tidak rapi, bukan niat jahat.
Pembagian Keuntungan Konsinyasi yang Lazim Dipakai
Tidak ada aturan baku soal berapa persen bagian toko dan berapa bagian pemasok. Besarannya hasil tawar-menawar, dipengaruhi jenis produk, seberapa ramai tokonya, dan seberapa laku barangnya. Yang lazim di lapangan ada tiga model.
Pertama, komisi persentase dari harga jual. Harga jual disepakati bersama, lalu toko mengambil persentase tertentu dari setiap barang yang laku. Sebagai contoh ilustrasi, risoles dijual Rp5.000 per buah dengan komisi toko 20 persen. Setiap risoles yang laku, toko mengantongi Rp1.000 dan pemasok menerima Rp4.000. Model ini transparan karena kedua pihak sama-sama tahu harga jual ke pembeli.
Kedua, selisih harga titip dan harga jual. Pemasok menetapkan harga titip, misalnya Rp4.000 per risoles sebagai contoh ilustrasi, lalu toko bebas menjual di harga berapa pun. Kalau toko menjual Rp5.500, selisih Rp1.500 jadi milik toko. Model ini memberi toko keleluasaan mengatur harga, tapi pemasok kehilangan kendali atas harga jual akhirnya. Kalau Anda memakai model ini sebagai pemilik toko, pastikan markup Anda tetap masuk akal untuk pasar sekitar, panduan lengkapnya ada di artikel cara menentukan harga jual.
Ketiga, sewa rak atau titip tempat. Pemasok membayar biaya tetap untuk slot rak per periode, dan seluruh hasil penjualan jadi milik pemasok. Model ini jarang dipakai di warung kecil, lebih sering di toko oleh-oleh atau minimarket yang rak pajangnya diperebutkan banyak pemasok.
| Skema | Cara kerja | Contoh ilustrasi | Kelebihan utama |
|---|---|---|---|
| Komisi persentase | Toko memotong persen tertentu dari harga jual barang yang laku | Harga jual Rp5.000, komisi 20%, toko dapat Rp1.000 per barang | Transparan, dasar hitung sama-sama terlihat |
| Selisih harga | Pemasok pasang harga titip, toko bebas menentukan harga jual | Harga titip Rp4.000, dijual Rp5.500, toko dapat Rp1.500 | Toko leluasa atur harga sesuai pasarnya |
| Sewa rak | Pemasok bayar biaya tetap per periode untuk slot pajangan | Sewa rak Rp100.000 per bulan, seluruh hasil jual milik pemasok | Pendapatan toko pasti, tidak tergantung laku |
Mana pun modelnya, tuliskan dasar hitungnya dengan jelas. Komisi 20 persen dari harga jual dan komisi 20 persen dari harga titip menghasilkan angka berbeda, dan beda tafsir semacam ini adalah sumber cekcok konsinyasi yang paling klasik.
Poin Penting: Semua angka persentase dan rupiah di bagian ini adalah contoh ilustrasi, bukan patokan pasar. Besaran bagi hasil konsinyasi sepenuhnya urusan nego. Yang tidak boleh ditawar cuma satu, dasar hitungnya harus tertulis dan dipahami sama oleh kedua pihak.
Isi Perjanjian Konsinyasi Minimal yang Melindungi Dua Pihak
Perjanjian konsinyasi tidak perlu tebal dan berbahasa hukum. Satu halaman yang ditandatangani dua pihak sudah jauh lebih kuat daripada kesepakatan lisan yang versi ceritanya bisa berubah-ubah. Dari pengalaman kami mengobrol dengan pemilik warung dan pemasok kue rumahan, ini poin-poin minimal yang perlu ada.
Pertama, identitas kedua pihak, nama, alamat, dan nomor yang bisa dihubungi. Kedua, daftar barang yang dititipkan beserta harga titip atau harga jual yang disepakati, boleh berupa lampiran yang diperbarui tiap pengiriman. Ketiga, besaran dan dasar hitung bagi hasil, sebutkan persentasenya dan dari angka mana dihitungnya. Keempat, jadwal setoran dan cara bayar, misalnya tiap Senin via transfer, termasuk siapa yang membuat rekap penjualannya.
Kelima, periode titip dan aturan retur. Berapa lama barang boleh dipajang sebelum ditarik, siapa yang menjemput barang sisa, dan bagaimana perlakuan barang yang mendekati kedaluwarsa. Keenam, dan ini yang paling sering dilupakan, siapa menanggung barang rusak, hilang, atau kedaluwarsa. Praktik umumnya, barang tidak laku dan kedaluwarsa kembali ke pemasok tanpa dibayar, sedangkan barang rusak atau hilang karena kelalaian toko jadi tanggungan toko. Tapi umum bukan berarti otomatis, tuliskan.
Ketujuh, kesepakatan stok opname bersama, misalnya hitung fisik barang tiap kali setoran supaya angka catatan dan barang di rak selalu cocok. Kedelapan, cara mengakhiri kerja sama, berapa hari pemberitahuan sebelumnya dan bagaimana penyelesaian barang serta setoran terakhir.
Pro Tip: Buat nota titip rangkap dua di setiap pengiriman barang, ditandatangani dua pihak, berisi tanggal, daftar barang, dan jumlahnya. Nota kecil ini adalah bukti paling berguna saat ada selisih hitungan, jauh lebih berguna daripada perjanjian induk yang bagus tapi tidak didukung catatan harian.
Untung Rugi Konsinyasi dari Sisi Pemilik Toko
Bagi pemilik toko, daya tarik konsinyasi paling besar ada di modal. Anda bisa menambah variasi dagangan tanpa mengeluarkan uang di muka. Rak yang tadinya kosong bisa terisi kue basah, keripik, atau minuman produksi tetangga, dan Anda baru membayar kalau barangnya laku. Risiko barang tidak laku, yang biasanya jadi momok di sistem beli putus, sebagian besar berpindah ke pemasok, tergantung isi perjanjian. Untuk toko kelontong dan warung yang arus kasnya pas-pasan, ini cara paling murah menguji produk baru di rak, dan pertimbangan serupa juga kami bahas di panduan aplikasi kasir untuk toko sembako.
Tapi konsinyasi bukan tanpa harga. Margin per barang biasanya lebih tipis dibanding beli putus, karena pemasok yang menanggung risiko tentu meminta porsi lebih besar. Rak dan etalase Anda tersita untuk barang yang bukan milik Anda, padahal tempat pajang adalah aset paling berharga sebuah toko. Ada juga beban administrasi yang sering diremehkan, setiap pemasok titipan berarti satu rekap penjualan, satu jadwal setoran, dan satu sesi hitung barang tambahan.
Risiko lain yang jarang dibicarakan, uang setoran pemasok itu bukan uang Anda, tapi mampir di laci Anda. Kalau pencatatan lemah, uang hasil barang titipan ikut terpakai belanja kebutuhan toko, dan saat jadwal setoran tiba Anda kaget karena harus mencari uangnya dari kantong lain. Perilakunya mirip kasbon yang tidak tercatat, terasa kecil per kejadian tapi menumpuk diam-diam, pola yang sama seperti kami bahas di artikel mengelola kasbon dan piutang warung.
Terakhir, nama yang dipertaruhkan di depan pembeli adalah nama toko Anda, bukan nama pemasok. Kalau kue titipan ternyata basi, pembeli kecewanya ke warung Anda. Jadi selektiflah memilih pemasok, dan jangan ragu menarik barang yang kualitasnya turun.
Untung Rugi Konsinyasi dari Sisi Pemasok
Dari sisi pemasok, konsinyasi adalah jalan masuk ke pasar tanpa harus punya toko. Produsen keripik rumahan bisa hadir di sepuluh warung sekaligus tanpa menyewa satu kios pun. Konsinyasi juga alat uji pasar yang murah, Anda bisa tahu produk mana yang laku di lokasi mana sebelum berani produksi besar, cukup dari data barang mana yang habis duluan di toko mana.
Ruginya juga nyata. Yang paling terasa adalah uang tertahan. Anda sudah keluar modal bahan dan tenaga untuk memproduksi barang, tapi uangnya baru kembali setelah barang laku dan toko menyetor, bisa satu sampai dua minggu kemudian, kadang lebih kalau tokonya menunda. Selama menunggu itu, modal kerja Anda yang menanggung. Barang yang tidak laku kembali ke tangan Anda, dan untuk produk basah seperti kue, barang retur praktis tidak bernilai lagi.
Risiko berikutnya, Anda bergantung penuh pada kejujuran dan kerapian pencatatan toko. Kalau toko mencatat seadanya, Anda tidak pernah benar-benar tahu barang Anda terjual berapa, hilang berapa, dan rusak berapa. Karena itu, saran kami yang mungkin terdengar berlawanan dengan naluri kejar setoran, pilih toko berdasarkan kerapian catatannya, bukan cuma keramaiannya. Toko ramai yang catatannya kacau lebih berbahaya bagi pemasok daripada toko sedang yang rekapnya jelas, karena selisih hitung di toko ramai nilainya juga lebih besar.
Mulailah dengan jumlah titipan kecil, misalnya 10 sampai 20 buah per pengiriman sebagai contoh ilustrasi, lalu naikkan bertahap begitu pola lakunya terbaca. Titipan besar di awal cuma memperbesar retur dan mempercepat rusaknya hubungan kerja sama.
Cara Mencatat Penjualan Konsinyasi di Kasir
Ini bagian yang menentukan konsinyasi Anda rapi atau kacau. Masalah hampir selalu bermula dari dua hal, stok titipan tercampur dengan stok milik sendiri, dan setoran dihitung dari ingatan. Dua-duanya bisa dibereskan dengan cara pencatatan yang benar di kasir, bahkan tanpa mengubah apa pun di cara Anda berjualan.
Prinsip pertama, pisahkan barang titipan sejak diinput. Di aplikasi kasir, buat kategori khusus per pemasok, misalnya Konsinyasi - Bu Rina dan Konsinyasi - Keripik Pak Jo. Semua barang titipan masuk kategori itu, lengkap dengan harga jual yang disepakati. Dengan begitu satu layar laporan langsung memisahkan mana omzet barang sendiri, mana omzet barang titipan, tanpa perlu buku catatan tambahan.
Prinsip kedua, semua penjualan lewat kasir, tanpa kecuali. Setiap risoles atau bungkus keripik yang laku dicatat sebagai transaksi seperti barang lain. Stok berkurang otomatis, penjualan terekam dengan tanggal dan jamnya. Di laporan penjualan harian Anda bisa melihat pergerakan tiap barang titipan tanpa menghitung manual, dan angka inilah yang jadi dasar setoran, bukan ingatan siapa pun.
Prinsip ketiga, rekap per kategori saat jadwal setoran. Buka laporan penjualan untuk kategori pemasok terkait, periode sejak setoran terakhir. Contoh ilustrasi rekap mingguan untuk satu pemasok, dengan komisi toko 20 persen dari harga jual:
| Barang | Dititipkan | Terjual | Diretur | Harga jual | Omzet | Hak toko (20%) | Setoran ke pemasok |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Risoles | 20 | 15 | 5 | Rp5.000 | Rp75.000 | Rp15.000 | Rp60.000 |
| Keripik pisang | 10 | 8 | 2 | Rp10.000 | Rp80.000 | Rp16.000 | Rp64.000 |
| Total | 30 | 23 | 7 | Rp155.000 | Rp31.000 | Rp124.000 |
Angka terjual diambil dari laporan kasir, angka diretur dari hitung fisik barang sisa. Kalau dititipkan dikurangi terjual tidak sama dengan sisa fisik di rak, ada barang hilang atau rusak yang harus dibicarakan sesuai perjanjian, bukan didiamkan.
Prinsip keempat, stok opname kecil sebelum setiap setoran. Hitung fisik barang titipan yang tersisa, cocokkan dengan angka sistem. Untuk barang titipan yang jumlahnya puluhan, ini cuma butuh beberapa menit, dan lebih baik selisih ketahuan tiap minggu daripada menumpuk berbulan-bulan. Cara hitung fisik yang rapi sudah kami tulis di panduan cara stok opname, dan kalau barang titipan Anda mulai banyak jenisnya, aplikasi stok barang membantu memisahkan pergerakan tiap barang tanpa buku tulis tambahan.
Prinsip kelima, catat retur sebagai barang keluar, bukan penjualan. Barang yang dikembalikan ke pemasok dikeluarkan dari stok dengan keterangan retur. Kalau retur ikut tercatat sebagai penjualan, omzet Anda menggelembung palsu dan setoran ke pemasok jadi kelebihan bayar.
Kasirnesia mendukung alur ini lewat kategori produk, manajemen stok, dan laporan penjualan per produk yang bisa difilter per periode, jadi rekap setoran mingguan tinggal baca layar. Detail fiturnya bisa dilihat di halaman fitur, dan kalau mau menguji alurnya dengan barang titipan sungguhan, mulai saja dari paket gratis.
Kesalahan Umum yang Membuat Konsinyasi Berantakan
Kesalahan pertama, tidak ada perjanjian tertulis sama sekali. Semua terasa lancar di bulan pertama, lalu satu kejadian barang hilang atau setoran telat membuat kedua pihak mengingat kesepakatan dengan versi masing-masing. Perjanjian satu halaman mencegah hampir semua drama ini.
Kesalahan kedua, dasar hitung komisi tidak disepakati rinci. Persen dari harga jual atau dari harga titip, sebelum atau sesudah diskon, itu semua menghasilkan setoran berbeda. Kalau toko sedang menjalankan promo potongan harga, tentukan juga siapa yang menanggung selisihnya, karena diskon yang tidak dibicarakan bisa memakan porsi pemasok tanpa sepengetahuannya.
Kesalahan ketiga, uang setoran tercampur dengan omzet toko. Uang hasil barang titipan ikut terpakai, jadwal setor tiba, laci kosong. Pisahkan sejak awal, minimal secara pencatatan, idealnya secara fisik amplop atau rekening.
Kesalahan keempat, tidak pernah hitung fisik. Tanpa stok opname rutin, selisih antara catatan dan barang di rak baru ketahuan saat sudah besar, dan di titik itu tidak ada lagi yang bisa membuktikan barangnya hilang di mana. Yang sering kena getahnya justru hubungan baik kedua pihak, karena tuduhan mulai berjalan dua arah.
Kesalahan kelima, barang kedaluwarsa dibiarkan di rak. Bagi toko, ini bom waktu reputasi. Bagi pemasok, ini barang yang harusnya bisa ditarik dan diganti sebelum benar-benar tidak bernilai. Sepakati umur pajang tiap produk dan patuhi jadwal returnya.
Benchmark: Konsinyasi yang sehat punya tiga tanda sederhana. Setoran selalu tepat jadwal, selisih stok opname mendekati nol dari minggu ke minggu, dan kedua pihak sama-sama memegang rekap angka yang sumbernya satu, laporan kasir, bukan dua buku catatan yang berbeda isi.
FAQ: Pertanyaan Umum seputar Konsinyasi
Apa yang dimaksud dengan konsinyasi? Konsinyasi adalah sistem titip jual, pemasok menitipkan barangnya ke sebuah toko untuk dijualkan, tapi barang itu tetap milik pemasok sampai laku. Pemilik toko baru membayar untuk barang yang benar-benar terjual, sesuai pembagian keuntungan yang disepakati, dan barang yang tidak laku dikembalikan ke pemasok. Sistem ini banyak dipakai di warung, toko oleh-oleh, kafe, dan minimarket untuk produk seperti kue basah, keripik, roti, dan minuman botolan.
Berapa pembagian keuntungan konsinyasi yang umum? Tidak ada angka baku, besarannya murni hasil kesepakatan kedua pihak dan berbeda-beda tergantung jenis produk, lokasi toko, dan kekuatan tawar masing-masing. Dua model yang paling sering dipakai adalah komisi persentase dari harga jual, misalnya toko mengambil 20 persen sebagai contoh ilustrasi, dan model selisih harga, pemasok menetapkan harga titip lalu toko bebas menentukan harga jualnya sendiri. Yang penting, dasar hitungnya ditulis jelas di perjanjian supaya tidak ada beda tafsir saat setoran.
Apa saja isi perjanjian konsinyasi minimal? Minimal memuat identitas kedua pihak, daftar barang beserta harga titip dan harga jual, besaran dan dasar hitung bagi hasil, jadwal setoran dan cara pembayarannya, lama periode titip beserta aturan retur barang tidak laku, siapa yang menanggung barang rusak, hilang, atau kedaluwarsa, serta cara mengakhiri kerja sama. Perjanjian tidak harus panjang dan berbahasa hukum, satu halaman yang ditandatangani kedua pihak jauh lebih berguna daripada kesepakatan lisan.
Siapa yang menanggung barang rusak atau kedaluwarsa dalam konsinyasi? Tergantung kesepakatan, dan justru karena itu poin ini wajib ditulis di perjanjian. Praktik yang umum, barang kedaluwarsa atau tidak laku dikembalikan ke pemasok tanpa dibayar toko, sedangkan barang yang rusak atau hilang karena kelalaian toko, misalnya pecah saat dipajang atau hilang dari rak, menjadi tanggungan toko. Kalau pasal ini tidak ada, setiap kejadian barang rusak berpotensi jadi sumber konflik antara pemasok dan pemilik toko.
Apa bedanya konsinyasi dengan beli putus? Pada beli putus, toko membeli barang dari pemasok di muka, barang langsung jadi milik toko, dan risiko tidak laku sepenuhnya di tangan toko. Pada konsinyasi, barang tetap milik pemasok sampai terjual, toko baru membayar untuk yang laku, dan sisa barang dikembalikan. Konsekuensinya, margin toko di beli putus biasanya lebih besar karena toko ikut menanggung risiko, sedangkan konsinyasi lebih ringan modal tapi hasilnya lebih kecil per barang.
Bagaimana cara mencatat penjualan konsinyasi di aplikasi kasir? Pisahkan barang titipan dari barang milik sendiri sejak awal, misalnya dengan kategori khusus per pemasok seperti Konsinyasi - Bu Rina, lalu input setiap barang dengan harga jualnya. Setiap penjualan lewat kasir otomatis mengurangi stok dan tercatat di laporan, jadi saat jadwal setoran tiba Anda tinggal membuka laporan penjualan per kategori untuk melihat jumlah terjual dan nilai setorannya. Lengkapi dengan stok opname kecil sebelum setor supaya angka sistem cocok dengan barang di rak.
Masih bingung menyusun aturan konsinyasi atau cara memisahkan barang titipan di kasir? Chat tim Kasirnesia lewat WhatsApp di wa.me/6285136212005, kami bantu Anda menyiapkan kategori dan laporannya sampai jalan.

