Kasirnesia

Manajemen Stok

Shrinkage: Penyebab Susut Stok di Toko dan Cara Menghitungnya

Shrinkage adalah selisih antara stok tercatat dan stok fisik. Kenali enam penyebabnya, cara menghitung persentase susut, dan langkah mencegahnya.

17 menit baca
Shrinkage: Penyebab Susut Stok di Toko dan Cara Menghitungnya

Shrinkage adalah selisih antara stok yang tercatat di pembukuan atau sistem kasir dengan stok yang benar-benar ada saat dihitung fisik di rak dan gudang. Dalam bahasa sehari-hari pemilik toko biasa menyebutnya susut stok, barang raib, atau "kok kurang". Angka ini jarang muncul harian. Ia biasanya baru kelihatan sekaligus saat stok opname, dan sering mengejutkan karena nilainya menumpuk diam-diam selama berminggu-minggu.

Yang membuat shrinkage berbahaya bukan besarnya, tapi cara ia menggerus laba. Susut terjadi pada barang yang sudah Anda bayar penuh ke supplier tapi tidak pernah menghasilkan uang masuk. Artinya kerugiannya bukan sebesar margin, melainkan sebesar seluruh modal barang itu. Rp 600.000 barang yang hilang di toko dengan margin kotor 21 persen setara dengan penjualan sekitar Rp 2.860.000 yang harus Anda kejar hanya untuk kembali impas.

Daftar Isi

  1. Apa Itu Shrinkage dan Kenapa Baru Ketahuan Saat Opname
  2. Enam Penyebab Shrinkage Diurut dari yang Paling Sering Terjadi
  3. Cara Menghitung Tingkat Shrinkage dalam Persen
  4. Berapa Angka Susut yang Masih Wajar untuk Usaha Kecil
  5. Menemukan Sumber Susut Lewat Opname Sebagian per Kategori
  6. Tabel Penyebab Cara Mendeteksi dan Tindakan yang Perlu Diambil
  7. Langkah Pencegahan yang Realistis untuk Usaha Bermodal Terbatas
  8. FAQ: Pertanyaan Umum seputar Shrinkage

Apa Itu Shrinkage dan Kenapa Baru Ketahuan Saat Opname

Shrinkage muncul dari dua angka yang seharusnya sama tapi ternyata berbeda. Angka pertama adalah stok menurut catatan, hasil hitungan dari stok awal ditambah barang masuk dikurangi barang keluar. Angka kedua adalah stok menurut kenyataan, hasil menghitung barang satu per satu di rak, etalase, dan gudang. Selisih di antara keduanya itulah susut.

Kenapa selisihnya baru ketahuan saat opname? Karena angka pertama dihitung terus-menerus oleh sistem, sementara angka kedua hanya diukur sesekali. Di antara dua opname, catatan Anda berjalan sendiri tanpa pembanding. Kalau ada satu botol sirup yang dijual tanpa dicatat pada hari Selasa, sistem tetap yakin botol itu masih di rak sampai ada yang menghitung fisik dan menemukan kenyataannya. Semakin jarang opname dilakukan, semakin lama kesalahan menumpuk dan semakin sulit ditelusuri sumbernya.

Ada dua istilah yang sering tertukar dan perlu dipisahkan sejak awal. Susut yang diketahui adalah barang yang hilang dengan sebab jelas dan tercatat, misalnya botol pecah, roti kedaluwarsa yang dibuang, atau barang cacat yang diretur ke supplier. Susut yang tidak diketahui adalah selisih yang tersisa setelah semua sebab jelas dikurangkan, dan inilah yang biasanya dimaksud orang saat menyebut shrinkage. Kalau toko Anda rajin mencatat barang rusak dan retur, porsi susut yang tidak diketahui akan mengecil dengan sendirinya, dan sisanya jadi jauh lebih mudah diselidiki.

Perlu dicatat juga bahwa selisih tidak selalu negatif. Kadang hasil opname justru lebih banyak dari catatan. Ini terdengar menyenangkan, padahal sama-sama sinyal buruk: berarti ada barang masuk yang tidak tercatat, ada penjualan yang dicatat dua kali, atau ada kesalahan hitung. Selisih positif dan negatif sama-sama berarti catatan Anda tidak bisa dipercaya sepenuhnya untuk mengambil keputusan pembelian.

Enam Penyebab Shrinkage Diurut dari yang Paling Sering Terjadi

Pertama, kesalahan input di kasir. Ini penyebab yang paling sering kami temui dan paling jarang dicurigai. Kasir memilih varian yang salah karena kemasannya mirip, misalnya kopi sachet 20 gram dipilih padahal yang dijual 25 gram. Barang dijual tanpa discan lalu jumlahnya dimasukkan manual dengan angka bulat. Diskon diberikan dengan mengganti harga tanpa mengubah item. Semua ini tidak mengurangi uang di laci, jadi tidak ketahuan saat tutup toko, tapi membuat stok catatan melenceng terus.

Kedua, kesalahan saat menerima barang dari supplier. Barang datang siang hari saat toko ramai, surat jalan ditandatangani cepat tanpa dihitung ulang, lalu jumlah di sistem diinput sesuai surat jalan, bukan sesuai isi kardus. Kalau supplier mengirim kurang satu dus, angka di sistem terlanjur menganggap barang itu sudah ada di rak. Susutnya baru muncul berbulan-bulan kemudian dan sudah tidak mungkin diklaim. Kebiasaan mencocokkan isi kardus dengan surat pesanan sebelum tanda tangan menutup celah ini tanpa biaya sama sekali.

Ketiga, kerusakan dan kedaluwarsa. Botol jatuh, kemasan penyok, roti basi, susu lewat tanggal, mi instan digigit tikus di gudang. Kerugian jenis ini tidak bisa dinolkan, tapi bisa ditekan besar-besaran dengan urutan penyimpanan yang benar. Kalau barang baru selalu ditaruh di depan dan barang lama terdorong ke belakang, kedaluwarsa jadi mesin susut yang berjalan otomatis. Terapkan prinsip bahan yang lebih dulu masuk dipakai lebih dulu, atau bahan yang lebih dulu kedaluwarsa diprioritaskan untuk barang berumur pendek.

Keempat, susut alami pada barang curah dan basah. Beras, gula, tepung, dan minyak curah berkurang beratnya karena penguapan kadar air dan tumpahan kecil saat ditakar. Es batu mencair. Sayur dan buah dipangkas bagian layunya sebelum dipajang. Ayam potong kehilangan bobot setelah dibersihkan. Susut jenis ini bukan kesalahan siapa pun dan bukan kejahatan. Yang keliru adalah tidak memperhitungkannya sejak awal, lalu kaget setiap opname dan mencurigai orang.

Kelima, pencurian oleh pelanggan. Barang kecil bernilai tinggi yang mudah dimasukkan kantong adalah sasaran paling umum: rokok, susu formula, cokelat impor, baterai, pisau cukur, obat bebas. Tandanya biasanya spesifik, yaitu susut terkonsentrasi pada beberapa item saja sementara kategori lain normal, dan sering terjadi di jam sepi ketika penjaga toko sedang sendirian.

Keenam, kecurangan internal. Ini yang paling sensitif dan justru harus ditaruh paling akhir dalam urutan pemeriksaan, bukan paling depan. Bentuknya bisa berupa transaksi yang dibatalkan setelah pembeli pergi, retur fiktif, diskon yang diberikan ke kerabat, atau barang yang dibawa keluar lewat pintu belakang. Cara menutup celah teknisnya, termasuk pembatasan hak void dan pencocokan laci, kami bahas terpisah di mencegah kecurangan kasir.

Poin Penting: Urutan di atas bukan urutan besarnya kerugian, melainkan urutan pemeriksaan yang adil. Untuk toko yang pencatatannya belum rapi, memeriksa kualitas data lebih dulu hampir selalu lebih produktif daripada memasang kamera. Menuduh karyawan berdasarkan selisih opname yang belum ditelusuri adalah cara tercepat kehilangan orang baik yang sudah Anda latih.

Cara Menghitung Tingkat Shrinkage dalam Persen

Rumusnya dua tahap. Tahap pertama mencari nilai susut dalam rupiah, tahap kedua mengubahnya jadi persentase supaya bisa dibandingkan antar periode dan antar kategori.

Nilai stok yang seharusnya ada dihitung dari persediaan awal ditambah pembelian selama periode, lalu dikurangi harga pokok barang yang terjual menurut catatan. Semua angka dinilai pakai harga beli, bukan harga jual, supaya konsisten. Nilai susut adalah angka itu dikurangi hasil stok opname fisik.

Berikut contoh ilustrasi untuk sebuah toko kelontong selama satu bulan. Angka-angkanya dikarang untuk memperjelas cara hitungnya, bukan data toko sungguhan.

KomponenNilai (harga beli)
Persediaan awal bulanRp 42.000.000
Pembelian selama sebulanRp 96.000.000
Harga pokok barang terjual menurut catatanRp 118.500.000
Persediaan akhir yang seharusnya adaRp 19.500.000
Hasil stok opname fisikRp 18.900.000
Nilai shrinkageRp 600.000

Persediaan akhir yang seharusnya ada didapat dari Rp 42.000.000 ditambah Rp 96.000.000 dikurangi Rp 118.500.000, hasilnya Rp 19.500.000. Selisihnya terhadap hasil opname Rp 18.900.000 adalah Rp 600.000. Itu nilai susut bulan tersebut.

Sekarang ubah jadi persentase. Ada dua pembagi yang lazim dipakai dan keduanya menjawab pertanyaan berbeda. Kalau penjualan toko ini sebulan Rp 150.000.000, maka tingkat susut terhadap penjualan adalah Rp 600.000 dibagi Rp 150.000.000, yaitu 0,40 persen. Kalau pembaginya nilai persediaan akhir yang seharusnya ada, yaitu Rp 19.500.000, hasilnya Rp 600.000 dibagi Rp 19.500.000 atau sekitar 3,08 persen.

Dua angka ini terlihat jauh berbeda padahal menggambarkan kerugian yang sama persis. Yang pertama menjawab "seberapa besar susut dibanding uang yang masuk", cocok dipakai membandingkan bulan ke bulan dan dipakai luas sebagai ukuran standar. Yang kedua menjawab "seberapa besar susut dibanding barang yang saya simpan", lebih berguna untuk toko dengan perputaran lambat karena persediaannya menumpuk. Pilih satu, lalu pakai terus supaya angkanya bisa dibandingkan. Berpindah-pindah pembagi membuat tren jadi tidak terbaca.

Terakhir, terjemahkan ke bahasa laba supaya terasa dampaknya. Dengan penjualan Rp 150.000.000 dan harga pokok Rp 118.500.000, laba kotor toko ini Rp 31.500.000 atau 21 persen. Susut Rp 600.000 memakan sekitar 1,90 persen dari laba kotor itu. Kalau pola ini berulang sepanjang tahun, nilainya jadi Rp 7.200.000, kira-kira setara laba kotor dari penjualan lebih dari Rp 34.000.000. Angka yang tadinya terdengar kecil ternyata bukan hal sepele.

Berapa Angka Susut yang Masih Wajar untuk Usaha Kecil

Ini pertanyaan yang paling sering diajukan dan paling sering dijawab keliru di internet. Kami perlu jujur di sini: tidak ada angka resmi yang dipublikasikan untuk warung dan toko kecil di Indonesia yang bisa kami rujuk. Banyak artikel menyebut "rata-rata shrinkage ritel sekian persen" tanpa menyebutkan asal datanya sama sekali.

Tolok ukur yang paling sering dikutip di dunia sebenarnya berasal dari Amerika Serikat. National Retail Federation lewat National Retail Security Survey 2023 melaporkan rata-rata tingkat susut peritel Amerika pada tahun fiskal 2022 sebesar 1,6 persen dari penjualan, naik dari 1,4 persen pada tahun fiskal 2021, setara kerugian 112,1 miliar dolar Amerika (NRF). Perlu ditekankan dua hal: itu data Amerika Serikat, dan respondennya adalah profesional pencegahan kerugian di jaringan ritel besar, bukan pemilik warung. Bauran barang, harga, tata ruang toko, dan cara kerjanya jauh berbeda dari toko kelontong di Indonesia. Memakai 1,6 persen sebagai target warung Anda sama tidak masuk akalnya dengan memakai rata-rata omzet supermarket Amerika sebagai target penjualan harian.

Pendekatan yang lebih jujur dan lebih berguna adalah membangun tolok ukur milik Anda sendiri. Jalankan opname dengan cara yang sama selama tiga bulan berturut-turut, catat tingkat susutnya, lalu ambil rata-ratanya sebagai garis dasar. Setelah punya garis dasar, yang Anda kejar bukan angka orang lain, melainkan tren Anda sendiri. Bulan yang melompat jauh di atas garis dasar adalah undangan untuk menyelidiki, bulan yang stabil berarti sistem Anda bekerja.

Satu catatan penting soal garis dasar: pisahkan per kategori sejak awal. Toko yang menjual beras curah akan selalu punya susut lebih tinggi daripada toko yang hanya menjual barang kemasan, dan itu wajar. Menggabungkan semuanya jadi satu angka membuat kategori bermasalah tersembunyi di balik rata-rata yang terlihat aman.

Menemukan Sumber Susut Lewat Opname Sebagian per Kategori

Opname menyeluruh sebulan sekali memberi tahu Anda ada susut, tapi jarang memberi tahu di mana susutnya. Untuk itu ada cara yang jauh lebih murah tenaganya, yaitu opname sebagian yang berputar per kategori. Alih-alih menutup toko sehari penuh untuk menghitung semua, Anda menghitung satu atau dua kategori saja setiap minggu, bergiliran, sampai semua kategori terhitung dalam sebulan. Rincian teknis pelaksanaannya kami bahas di panduan cara stok opname.

Keuntungannya bukan cuma hemat waktu. Karena setiap kategori dihitung lebih sering, jarak antara kesalahan terjadi dan kesalahan ketahuan jadi pendek, sehingga penyebabnya masih bisa diingat dan ditelusuri. Selisih yang ditemukan seminggu setelah kejadian masih bisa dicocokkan dengan siapa yang berjaga dan barang apa yang datang. Selisih yang ditemukan enam bulan kemudian hanya jadi angka tanpa cerita.

Melanjutkan contoh ilustrasi tadi, misalkan susut Rp 600.000 itu dipecah per kategori setelah opname bergilir dijalankan. Angka penjualan per kategori dan nilai susutnya dikarang untuk contoh, tapi jumlahnya konsisten dengan total di bagian sebelumnya.

KategoriPenjualan sebulanNilai susutSusut terhadap penjualanDugaan awal
RokokRp 45.000.000Rp 310.0000,69 persenBarang kecil bernilai tinggi, perlu ditaruh di belakang kasir
Beras dan gula curahRp 22.000.000Rp 140.0000,64 persenSusut alami penakaran, cek ulang timbangan
Minuman dinginRp 18.000.000Rp 95.0000,53 persenPecah dan kedaluwarsa, cek urutan penyimpanan
Sembako kemasanRp 60.000.000Rp 35.0000,06 persenNormal, tidak perlu tindakan
Lain-lainRp 5.000.000Rp 20.0000,40 persenPantau bulan depan
TotalRp 150.000.000Rp 600.0000,40 persen

Perhatikan apa yang terjadi begitu angkanya dipecah. Sembako kemasan yang penjualannya paling besar justru paling bersih. Rokok yang penjualannya lebih kecil daripada sembako justru menyumbang lebih dari separuh nilai susut. Kalau Anda hanya melihat angka gabungan 0,40 persen, Anda tidak akan pernah tahu ini, dan energi perbaikan akan tersebar merata ke seluruh toko tanpa hasil. Setelah dipecah, jelas bahwa satu rak rokok layak mendapat perhatian penuh sementara rak sembako bisa ditinggal apa adanya.

Pro Tip: Sebelum menuduh siapa pun setelah menemukan lonjakan pada satu kategori, ulangi hitungan kategori itu dua minggu berturut-turut. Sekali menemukan selisih besar bisa jadi salah hitung, salah baca satuan, atau ada stok titipan di gudang belakang yang terlewat. Dua kali berturut-turut dengan pola yang sama barulah bisa disebut temuan.

Tabel Penyebab Cara Mendeteksi dan Tindakan yang Perlu Diambil

Tabel berikut merangkum enam penyebab tadi menjadi daftar kerja. Kolom deteksi berisi tanda yang bisa Anda cari di data sendiri, kolom tindakan berisi langkah yang bisa dijalankan tanpa alat mahal.

PenyebabCara mendeteksiTindakan
Kesalahan input kasirSusut tersebar merata di banyak item, sering pada varian yang kemasannya mirip; laci kas selalu pas tapi stok selalu kurangBeri barcode pada semua item, larang input manual, latih kasir memilih varian dengan benar
Salah terima barang dari supplierSusut muncul pada barang yang jarang berputar; selisih besar tepat setelah pengiriman rutinHitung fisik sebelum tanda tangan surat jalan, cocokkan dengan purchase order, foto kardus yang bermasalah
Kerusakan dan kedaluwarsaBarang yang hilang bisa ditunjukkan bentuknya, tanggal kedaluwarsa berdekatan, sering di kategori basah dan minumanBuat buku catatan barang rusak, terapkan urutan barang lama di depan, cek tanggal kedaluwarsa mingguan
Susut alami barang curahSelisihnya kecil, konsisten, dan berulang tiap bulan dengan besaran miripUkur rata-ratanya selama tiga bulan, masukkan sebagai biaya wajar dalam perhitungan harga jual
Pencurian pelangganSusut terkonsentrasi pada barang kecil bernilai tinggi; kategori lain normal; lebih besar di jam sepiPindahkan barang rawan ke belakang kasir, atur ulang tata rak agar tidak ada sudut buta
Kecurangan internalVoid dan retur menumpuk pada shift tertentu; diskon tidak wajar; susut turun drastis saat orang tersebut liburBatasi hak void hanya untuk pemilik, cocokkan laci tiap shift, wajibkan bukti fisik untuk setiap retur

Kolom tindakan sengaja disusun agar bisa dijalankan bertahap. Tidak ada toko kecil yang sanggup mengerjakan semuanya sekaligus dalam satu minggu. Ambil satu baris yang paling cocok dengan temuan Anda, jalankan selama satu bulan penuh, lalu ukur lagi. Perbaikan yang dilakukan satu per satu bisa diukur dampaknya; perbaikan yang dilakukan serentak membuat Anda tidak pernah tahu mana yang sebenarnya berhasil.

Bagaimana Cara Mencegah Stok Hilang di Usaha F&B?

Untuk restoran, kafe, dan warung makan, pencegahan dimulai dari resep baku dan satuan yang konsisten. Bahan yang dibeli per kilogram tetapi dipakai per gram harus punya faktor konversi, sedangkan porsi perlu ditimbang berkala agar pengurangan stok di sistem sesuai dengan pemakaian dapur yang nyata.

Catat pula bahan rusak, salah produksi, tester, complimentary, dan makan staf sebagai alasan stok keluar. Jika semua pengeluaran non-penjualan dimasukkan ke satu kategori lain-lain, Anda tidak akan tahu apakah kebocoran berasal dari porsi, waste, atau proses serah terima. Panduan cara mengatur stok bahan baku restoran menjelaskan alur lengkap dari penerimaan sampai opname.

Saran pencegahan susut di internet sering menyasar peritel besar: kamera dengan analitik, tag elektronik pada barang, tim pencegahan kerugian, audit pihak ketiga. Semua itu di luar jangkauan warung dan toko kelontong. Berikut urutan langkah yang biayanya mendekati nol dan dampaknya paling terasa untuk usaha kecil.

Langkah pertama, rapikan pintu masuk data. Setiap barang masuk harus dihitung fisik sebelum diakui, dan setiap barang keluar harus tercatat, termasuk yang keluar bukan karena dijual. Barang rusak dibuang dengan catatan, barang diretur ke supplier dengan bukti, barang dipakai sendiri tetap dicatat sebagai keluar. Simpan nomor nota dan alasan retur agar pengurangan stok dapat ditelusuri saat laporan diperiksa.

Langkah kedua, pastikan setiap item punya identitas tunggal yang tidak membingungkan kasir. Dua varian berbeda dengan nama sama adalah undangan salah input. Beri nama yang menyebut ukuran dan rasa secara eksplisit, pasang barcode pada barang yang tidak punya, dan hindari kode singkat yang cuma dimengerti Anda sendiri.

Langkah ketiga, jadikan opname sebagian sebagai rutinitas mingguan yang tetap, bukan kegiatan darurat saat curiga. Satu kategori per minggu, hari dan jam yang sama, dicatat di format yang sama. Kalau Anda masih mencatat manual, format kartu stok sudah cukup untuk memulai dan tidak perlu perangkat apa pun.

Langkah keempat, atur ulang letak barang rawan. Ini pekerjaan setengah hari yang tidak butuh modal sama sekali. Barang kecil bernilai tinggi dipindah ke belakang kasir atau ke rak yang terlihat langsung dari posisi kasir berdiri. Hilangkan sudut rak yang tidak terlihat dari mana pun. Perubahan tata letak seperti ini sering menurunkan susut lebih cepat daripada penambahan alat.

Langkah kelima, pisahkan wewenang. Orang yang menerima barang sebaiknya bukan orang yang sama dengan yang menginput jumlahnya ke sistem, dan hak untuk membatalkan transaksi sebaiknya hanya dipegang pemilik atau satu penanggung jawab. Untuk toko dengan dua atau tiga karyawan ini kadang tidak mungkin sepenuhnya, tapi bahkan pemisahan sebagian sudah mengurangi peluang kesalahan lolos tanpa terdeteksi.

Aplikasi kasir membantu di sini bukan dengan menghilangkan susut, melainkan dengan memperpendek waktu antara masalah terjadi dan masalah terlihat. Kasirnesia mencatat penjualan sampai tingkat item sehingga stok seharusnya terhitung otomatis, dan hasil opname per kategori bisa langsung dibandingkan tanpa menghitung ulang manual. Kalau Anda baru mulai memindahkan pencatatan stok dari buku ke aplikasi, panduan aplikasi stok barang menjelaskan apa saja yang perlu disiapkan lebih dulu. Anda bisa mencobanya lewat paket gratis dengan satu kategori barang dulu sebelum memindahkan seluruh isi toko.

Kami perlu jujur soal batasannya. Aplikasi kasir tidak bisa memastikan seseorang benar-benar menghitung kardus sebelum menandatangani surat jalan, dan tidak bisa mencegah barang keluar lewat pintu belakang. Yang bisa dilakukan aplikasi adalah membuat setiap penyimpangan meninggalkan jejak yang bisa dibaca. Sisanya tetap urusan kebiasaan kerja yang Anda bangun bersama tim.

FAQ: Pertanyaan Umum seputar Shrinkage

Apa itu shrinkage dalam bisnis ritel? Shrinkage atau susut stok adalah selisih antara jumlah barang yang tercatat di sistem dengan jumlah barang yang benar-benar ada saat dihitung fisik. Kalau catatan bilang ada 40 kaleng susu tapi di rak cuma ketemu 37, tiga kaleng itulah shrinkage. Angka ini biasanya dinyatakan dalam nilai rupiah harga beli, lalu dibandingkan terhadap penjualan atau nilai persediaan untuk melihat seberapa besar dampaknya.

Apa penyebab shrinkage yang paling sering terjadi di toko kecil? Untuk toko dan warung yang pencatatannya belum rapi, penyebab terbanyak biasanya kesalahan administrasi: salah input di kasir, barang dijual tanpa discan, penerimaan barang dari supplier yang tidak dicocokkan, dan promo bundling yang tidak mengurangi stok dengan benar. Pencurian memang ada, tapi menuduh karyawan sebelum memeriksa kualitas pencatatan hampir selalu keliru dan merusak kepercayaan tim.

Bagaimana cara menghitung persentase shrinkage? Hitung dulu nilai stok yang seharusnya ada, yaitu persediaan awal ditambah pembelian dikurangi harga pokok barang yang terjual. Kurangkan hasil stok opname fisik dari angka itu untuk mendapat nilai susut dalam rupiah. Persentasenya didapat dengan membagi nilai susut terhadap penjualan periode yang sama, atau terhadap nilai persediaan, lalu dikalikan seratus.

Berapa tingkat shrinkage yang masih wajar? Tidak ada angka resmi yang berlaku untuk usaha kecil di Indonesia, dan tolok ukur dari luar negeri tidak bisa dipindahkan begitu saja karena jenis barang, harga, dan cara kerjanya berbeda. Cara paling masuk akal adalah membangun tolok ukur sendiri: catat tingkat susut selama tiga bulan berturut-turut, jadikan rata-ratanya sebagai garis dasar, lalu perlakukan lonjakan di atas garis itu sebagai sinyal untuk diperiksa.

Apa bedanya susut alami dengan kebocoran yang perlu ditindak? Susut alami muncul dari sifat barangnya sendiri, misalnya beras dan gula curah yang berkurang beratnya karena penguapan kadar air, es yang mencair, atau sayur yang dipangkas bagian layunya sebelum dijual. Susut jenis ini pola dan besarannya stabil dari bulan ke bulan. Kebocoran yang perlu ditindak biasanya terlihat sebagai lonjakan mendadak pada kategori tertentu, di jam atau shift tertentu, di luar pola normal itu.

Apakah aplikasi kasir bisa menghilangkan shrinkage? Tidak bisa menghilangkan, tapi bisa membuat susut terlihat lebih cepat dan lebih spesifik. Aplikasi kasir mencatat setiap penjualan ke tingkat item, sehingga stok seharusnya bisa dihitung otomatis dan dibandingkan dengan hasil opname per kategori. Yang menutup celahnya tetap kebiasaan kerja: penerimaan barang dicocokkan, retur dicatat, barang rusak dibuang dengan bukti, dan opname dijalankan rutin.

Punya pertanyaan lain soal menekan susut stok di toko Anda? Chat tim Kasirnesia lewat WhatsApp di wa.me/6285136212005, kami bantu menyusun jadwal opname sebagian yang cocok dengan jumlah karyawan Anda.

Gratis untuk mulai

Siap berhenti nyatet manual dan mulai jualan lebih rapi?

Coba Kasirnesia gratis, tetap jalan walau internet mati, dan langganan bulanan tanpa setor setahun di muka. Tim kami siap bantu setup lewat WhatsApp.