Perputaran persediaan adalah rasio yang menunjukkan berapa kali stok barang di toko Anda habis terjual lalu diisi ulang dalam satu periode, dan rumusnya adalah harga pokok penjualan dibagi persediaan rata-rata. Angka ini sederhana, tapi jarang dihitung pemilik usaha kecil, padahal ia menjawab pertanyaan yang paling sering bikin pusing: kenapa laporan penjualan kelihatan bagus tapi uang di laci tetap seret.
Jawabannya sering ada di rak. Uang Anda tidak hilang, ia cuma sedang berbentuk barang yang belum laku. Selama barang itu belum terjual, modal Anda tidak bisa dipakai untuk apa pun, tidak untuk bayar supplier, tidak untuk bayar karyawan, tidak untuk belanja barang yang justru sedang dicari pembeli. Perputaran persediaan adalah alat ukur untuk melihat seberapa parah kondisi itu, dinyatakan dalam satu angka yang bisa Anda pantau tiap bulan.
Daftar Isi
- Rumus Perputaran Persediaan dan Kenapa Memakai HPP Bukan Omzet
- Cara Menghitung Persediaan Rata-Rata dengan Benar
- Dua Contoh Hitung: Toko Kelontong dan Kafe
- Mengubah Angka Perputaran Jadi Berapa Hari Stok Bertahan
- Kenapa Angka Sehat Berbeda Antar Jenis Usaha
- Perputaran Lambat, Stok Mati, dan Modal yang Tertahan
- Yang Bisa Dilakukan Kalau Perputaran Anda Lambat
- FAQ: Pertanyaan Umum seputar Perputaran Persediaan
Rumus Perputaran Persediaan dan Kenapa Memakai HPP Bukan Omzet
Rumusnya cuma satu baris:
Perputaran persediaan = Harga Pokok Penjualan (HPP) selama periode ÷ Persediaan rata-rata periode itu
Investopedia menuliskan rumus yang sama, yaitu COGS dibagi average value of inventory, dengan COGS adalah istilah Inggris untuk harga pokok penjualan (Investopedia). Corporate Finance Institute juga menuliskan formula yang identik, Inventory Turnover Ratio sama dengan Cost of Goods Sold dibagi Average Inventory (Corporate Finance Institute).

Bagian yang paling sering keliru bukan pembaginya, tapi pembilangnya. Banyak pemilik usaha memasukkan omzet, karena omzet adalah angka yang paling gampang dilihat di laporan kasir. Itu keliru, dan alasannya masuk akal kalau dipikir pelan-pelan.
Nilai persediaan di catatan Anda dihitung memakai harga beli. Sebotol kecap yang Anda beli Rp 12.000 dan Anda jual Rp 15.000 tercatat sebagai stok senilai Rp 12.000, bukan Rp 15.000. Jadi kalau pembilangnya omzet (yang sudah mengandung margin Rp 3.000 tadi) sementara pembaginya nilai stok di harga beli, Anda sedang membagi apel dengan jeruk. Investopedia menyebutnya dengan lugas: analis memakai COGS dan bukan penjualan karena persediaan dinilai pada harga perolehan sementara angka penjualan sudah memuat markup perusahaan, dan memakai penjualan cenderung menggelembungkan hasil rasio.
Efeknya bukan sedikit. Kalau margin kotor toko Anda 20 persen, memakai omzet akan membuat angka perputaran terlihat 25 persen lebih tinggi dari yang sebenarnya, dan angka hari stok terlihat lebih pendek dari kenyataan. Anda merasa stok berputar cepat, padahal tidak. Kesalahan ini juga membuat perbandingan antar tahun jadi tidak berguna, karena begitu Anda menaikkan harga jual, angka perputaran ikut naik walau jumlah barang yang laku sama saja.
Dari mana angka HPP diambil? Dari laporan laba rugi Anda, di baris harga pokok penjualan. Kalau usaha Anda F&B dan belum pernah menyusun angka ini per menu, cara menghitungnya sudah kami bahas terpisah di panduan cara menghitung HPP makanan dan minuman. Untuk toko retail, HPP setahun bisa dihitung dari persediaan awal ditambah total pembelian selama setahun dikurangi persediaan akhir.
Poin Penting: Kalau Anda terpaksa memakai omzet karena data HPP belum ada, tulis catatan di laporan bahwa angka itu versi omzet, dan jangan pernah membandingkannya dengan angka versi HPP. Dua metode itu menghasilkan skala yang berbeda dan mencampurnya akan menyesatkan keputusan belanja Anda.
Cara Menghitung Persediaan Rata-Rata dengan Benar
Pembagi rumusnya adalah persediaan rata-rata, bukan persediaan hari ini. Cara standarnya sederhana: jumlahkan nilai persediaan awal periode dan nilai persediaan akhir periode, lalu bagi dua. Corporate Finance Institute menuliskannya sebagai Average Inventory sama dengan Beginning Inventory ditambah Ending Inventory dibagi 2 (Corporate Finance Institute). Investopedia menambahkan alasannya, yaitu nilai rata-rata dipakai untuk meredam efek musiman.
Alasan itu penting untuk usaha di Indonesia, karena pola belanja kita punya puncak yang jelas. Menjelang Lebaran, stok toko kelontong bisa membengkak dua kali lipat. Kalau Anda kebetulan menutup buku persis di bulan yang stoknya sedang gendut, angka persediaan rata-rata versi dua titik akan terlalu besar dan perputaran Anda terlihat lebih lambat dari kenyataan.
Ambil contoh ilustrasi sebuah toko kelontong dengan HPP setahun Rp 480.000.000. Nilai persediaan awal Januari Rp 42.000.000, lalu nilai akhir tiap bulan berturut-turut Rp 38.000.000, Rp 36.000.000, Rp 40.000.000, Rp 55.000.000, Rp 60.000.000, Rp 42.000.000, Rp 38.000.000, Rp 37.000.000, Rp 39.000.000, Rp 41.000.000, Rp 44.000.000, dan Rp 52.000.000 di Desember. April dan Mei membengkak karena persiapan Lebaran, Desember naik lagi karena stok akhir tahun.
| Cara menghitung persediaan rata-rata | Nilai rata-rata | Perputaran (HPP Rp 480 juta) | Hari stok |
|---|---|---|---|
| Dua titik: awal tahun dan akhir tahun | Rp 47.000.000 | 10,2 kali setahun | 36 hari |
| Tiga belas titik: awal tahun plus akhir tiap bulan | Rp 43.384.615 | 11,1 kali setahun | 33 hari |
Semua angka di tabel ini contoh ilustrasi. Baris pertama memakai (Rp 42.000.000 + Rp 52.000.000) ÷ 2 = Rp 47.000.000, lalu Rp 480.000.000 ÷ Rp 47.000.000 = 10,2 kali. Baris kedua menjumlahkan tiga belas angka tadi menjadi Rp 564.000.000, dibagi 13 menghasilkan Rp 43.384.615, lalu Rp 480.000.000 ÷ Rp 43.384.615 = 11,1 kali. Selisih tiga hari terlihat kecil, tapi kalau dipakai untuk menentukan jadwal belanja mingguan, selisih itu berarti satu siklus pesanan.
Satu hal yang tidak bisa dilewati: angka persediaan Anda harus berasal dari hitungan fisik, bukan dari saldo sistem yang belum pernah dicocokkan. Kalau selama ini stok di catatan dan stok di rak sering beda, hitung dulu selisihnya lewat cara stok opname yang benar, baru hitung perputaran. Rasio yang dihitung dari data stok yang salah cuma memindahkan kesalahan ke bentuk yang kelihatan lebih ilmiah.
Dua Contoh Hitung: Toko Kelontong dan Kafe
Dua jenis usaha ini sengaja dipilih karena karakter barangnya berlawanan, dan hasilnya menunjukkan kenapa angka perputaran tidak bisa dibaca tanpa tahu jenis usahanya.
Contoh ilustrasi pertama, toko kelontong, periode satu tahun. HPP selama setahun Rp 480.000.000. Persediaan awal tahun Rp 42.000.000, persediaan akhir tahun Rp 38.000.000. Persediaan rata-rata (Rp 42.000.000 + Rp 38.000.000) ÷ 2 = Rp 40.000.000. Perputaran persediaan Rp 480.000.000 ÷ Rp 40.000.000 = 12 kali setahun. Diterjemahkan ke hari, 365 ÷ 12 = 30,4 hari, jadi stok toko ini rata-rata bertahan sekitar satu bulan.
Perhatikan apa yang terjadi kalau pemilik toko yang sama keliru memakai omzet. Omzet setahunnya Rp 600.000.000 dengan laba kotor Rp 120.000.000, artinya margin kotor 20 persen. Kalau Rp 600.000.000 dibagi Rp 40.000.000, hasilnya 15 kali setahun dan hari stok jadi 365 ÷ 15 = 24,3 hari. Angka 15 kali itu 25 persen lebih tinggi dari angka sebenarnya 12 kali, dan selisih 25 persen itu persis sama dengan rasio omzet terhadap HPP (Rp 600.000.000 ÷ Rp 480.000.000 = 1,25). Bukan kebetulan, itu memang efek markup yang dijelaskan Investopedia tadi.
Contoh ilustrasi kedua, kafe, periode satu bulan. Kafe punya masalah berbeda: susu segar, sayur, roti, dan buah punya umur simpan hitungan hari, jadi menghitung perputaran setahun tidak berguna untuk keputusan harian. Pakai periode bulanan. HPP bahan baku bulan itu Rp 60.000.000. Nilai persediaan bahan di awal bulan Rp 5.500.000, di akhir bulan Rp 4.500.000. Persediaan rata-rata (Rp 5.500.000 + Rp 4.500.000) ÷ 2 = Rp 5.000.000. Perputaran Rp 60.000.000 ÷ Rp 5.000.000 = 12 kali per bulan. Hari stok 30 ÷ 12 = 2,5 hari.
Dua contoh di atas sama-sama menghasilkan angka 12, tapi artinya jauh berbeda. Toko kelontong berputar 12 kali dalam setahun, kafe berputar 12 kali dalam sebulan. Ini alasan kenapa periode wajib ditulis di sebelah angkanya. Kalau perputaran kafe tadi disetahunkan dengan asumsi kasar tiap bulan polanya sama, hasilnya 12 x 12 = 144 kali setahun, angka yang akan terlihat mustahil kalau ditaruh bersebelahan dengan toko kelontong tanpa penjelasan.
Untuk kafe, dua setengah hari itu bukan target yang dikejar demi gengsi, tapi konsekuensi umur simpan bahan. Kalau angkanya naik jadi tujuh hari, artinya ada bahan yang menginap terlalu lama dan risikonya bukan cuma modal tertahan, tapi bahan terbuang. Di titik ini urutan pemakaian bahan jadi penentu, dan cara mengaturnya kami bahas terpisah di metode FIFO, LIFO, dan FEFO, karena untuk bahan yang punya tanggal kedaluwarsa, yang dipakai duluan bukan yang datang duluan tapi yang kedaluwarsanya paling dekat.
Mengubah Angka Perputaran Jadi Berapa Hari Stok Bertahan
Angka "12 kali setahun" susah dipakai untuk mengambil keputusan. Angka "30 hari" jauh lebih mudah, karena langsung bisa dibandingkan dengan jadwal kedatangan supplier dan siklus belanja Anda. Konversinya gampang:
Hari stok = Jumlah hari dalam periode ÷ Angka perputaran periode itu
Atau, kalau ingin langsung dari data mentah tanpa menghitung perputaran dulu, Corporate Finance Institute menuliskan Days Inventory Outstanding sama dengan Average Inventory dibagi Cost of Sales dikali jumlah hari dalam periode. Kedua jalan itu menghasilkan angka yang sama. Investopedia menyebut ukuran ini Days Sales of Inventory dan menghitungnya sebagai nilai rata-rata persediaan dibagi HPP lalu dikali 365.
Cek dengan contoh ilustrasi toko kelontong tadi. Jalan pertama, 365 ÷ 12 = 30,4 hari. Jalan kedua, (Rp 40.000.000 ÷ Rp 480.000.000) x 365 = 0,08333 x 365 = 30,4 hari. Sama persis. Untuk kafe, jalan pertama 30 ÷ 12 = 2,5 hari, jalan kedua (Rp 5.000.000 ÷ Rp 60.000.000) x 30 = 0,08333 x 30 = 2,5 hari.
Setelah punya angka hari, baru rasio ini terasa berguna di lapangan. Bandingkan hari stok Anda dengan jeda kedatangan supplier. Kalau hari stok toko Anda 30 hari sementara supplier datang tiap 7 hari, Anda menyimpan barang jauh lebih banyak dari yang dibutuhkan siklus pasokan, dan itu modal yang bisa dikecilkan. Sebaliknya kalau hari stok cuma 5 hari sementara supplier datang tiap 10 hari, Anda hampir pasti sering kehabisan barang di tengah periode dan kehilangan penjualan yang sebenarnya sudah ada pembelinya.

Pro Tip: Hitung hari stok per kategori, bukan cuma satu angka untuk seluruh toko. Angka gabungan toko kelontong sering tertolong oleh beras dan minyak goreng yang laku cepat, sehingga kategori non-makanan yang mengendap berbulan-bulan tidak pernah kelihatan di angka totalnya.
Kenapa Angka Sehat Berbeda Antar Jenis Usaha
Ini pertanyaan yang paling sering muncul dan jawabannya harus jujur: tidak ada angka baku. Corporate Finance Institute menulis bahwa hari persediaan tidak seharusnya dibandingkan antar industri karena selisihnya besar antar industri (Corporate Finance Institute), dan di halaman lain menyebut bahwa perputaran persediaan bisa berbeda jauh antar industri (Corporate Finance Institute). Sejauh penelusuran kami, tidak ada lembaga resmi di Indonesia yang menerbitkan angka perputaran persediaan yang wajib dipenuhi UMKM per sektor.
Sebagai gambaran bahwa tingkat persediaan yang dianggap normal memang bergerak, Biro Sensus Amerika Serikat mencatat rasio persediaan terhadap penjualan seluruh sektor usaha di sana sebesar 1,28 pada akhir Mei 2026, turun dari 1,39 pada Mei 2025 (US Census Bureau). Perlu dicatat, itu bukan angka perputaran persediaan, melainkan rasio nilai persediaan dibagi penjualan bulanan, dan itu data Amerika, bukan patokan untuk Indonesia. Yang bisa diambil hanya satu pelajaran: bahkan di tingkat nasional, angka "normal" itu berubah dari tahun ke tahun.
Karena tidak ada standar resmi, cara paling waras adalah membandingkan angka Anda dengan tiga hal: bulan-bulan sebelumnya di toko Anda sendiri, jeda pasokan supplier Anda, dan umur simpan barang yang Anda jual. Tabel di bawah ini adalah kisaran kasar sebagai contoh ilustrasi berdasarkan karakter barang, bukan standar resmi dan bukan target yang harus dikejar.
| Jenis usaha (contoh ilustrasi) | Karakter barang | Kisaran hari stok | Setara perputaran per tahun |
|---|---|---|---|
| Kafe dan warung makan | Bahan segar, umur simpan beberapa hari | 2 sampai 5 hari | Sekitar 73 sampai 183 kali |
| Toko sembako cepat laku | Beras, minyak, gula, telur | 15 sampai 30 hari | Sekitar 12 sampai 24 kali |
| Toko kelontong campur | Makanan kemasan plus kebutuhan rumah | 30 sampai 60 hari | Sekitar 6 sampai 12 kali |
| Toko pakaian dan aksesoris | Ada unsur model dan ukuran | 90 sampai 120 hari | Sekitar 3 sampai 4 kali |
| Toko bangunan dan elektronik | Nilai per unit besar, permintaan jarang | 120 sampai 180 hari | Sekitar 2 sampai 3 kali |
Angka di kolom terakhir dihitung dari 365 dibagi hari stok, jadi 365 ÷ 5 = 73 dan 365 ÷ 2 = 182,5 untuk baris pertama, 365 ÷ 30 = 12,2 dan 365 ÷ 15 = 24,3 untuk baris kedua, dan seterusnya. Yang perlu digarisbawahi, toko bangunan dengan perputaran 2 kali setahun tidak sedang gagal. Barang yang harganya jutaan per unit dan dibeli orang sekali dalam beberapa tahun memang wajar mengendap lama, dan marginnya biasanya jauh lebih tebal untuk menutup biaya menyimpan itu.

Perputaran Lambat, Stok Mati, dan Modal yang Tertahan
Perputaran yang lambat jarang disebabkan seluruh isi toko. Biasanya biang keroknya sekelompok kecil item yang tidak pernah dilirik pembeli tapi tetap memakan tempat dan modal. Corporate Finance Institute menyebut perputaran rendah di ritel bisa menandakan stok usang, peluang penjualan yang hilang, dan biaya penyimpanan yang lebih tinggi (Corporate Finance Institute). Ketiganya terjadi bersamaan dan saling memperparah.

Cara paling cepat menemukannya adalah menghitung perputaran per item, bukan per toko. Berikut contoh ilustrasi empat item di sebuah toko kelontong, dihitung untuk periode satu tahun.
| Item (contoh ilustrasi) | Persediaan rata-rata | HPP terjual setahun | Perputaran setahun | Hari stok |
|---|---|---|---|---|
| Beras kemasan 5 kg | Rp 4.000.000 | Rp 96.000.000 | 24 kali | 15 hari |
| Minyak goreng 2 liter | Rp 3.000.000 | Rp 45.000.000 | 15 kali | 24 hari |
| Sabun cuci piring | Rp 1.500.000 | Rp 9.000.000 | 6 kali | 61 hari |
| Sirup merek kurang dikenal | Rp 3.000.000 | Rp 1.500.000 | 0,5 kali | 730 hari |
Hitungannya: Rp 96.000.000 ÷ Rp 4.000.000 = 24 dan 365 ÷ 24 = 15,2 hari. Rp 45.000.000 ÷ Rp 3.000.000 = 15 dan 365 ÷ 15 = 24,3 hari. Rp 9.000.000 ÷ Rp 1.500.000 = 6 dan 365 ÷ 6 = 60,8 hari. Rp 1.500.000 ÷ Rp 3.000.000 = 0,5 dan 365 ÷ 0,5 = 730 hari, alias dua tahun.
Baris terakhir itu yang perlu diperhatikan. Total modal empat item ini Rp 11.500.000, dan sirup yang butuh dua tahun untuk habis memakan Rp 3.000.000, atau 26 persen dari seluruh modal yang tertanam di empat item tadi. Nilainya sama dengan minyak goreng yang berputar 15 kali setahun. Uang yang sama, hasil kerja yang jauh berbeda.
Ada biaya lain yang tidak muncul di laporan tapi nyata: rak. Setiap slot rak yang dipakai barang lambat adalah slot yang tidak bisa dipakai barang cepat. Kalau Anda tidak punya catatan per item, mulai dari yang paling sederhana dulu, yaitu kartu stok untuk merekam masuk keluar tiap barang, karena tanpa data per item Anda tidak bisa membedakan mana yang benar-benar lambat dan mana yang cuma terasa lambat.
Benchmark: Item dengan perputaran di bawah 1 kali setahun (hari stok lebih dari 365 hari) pantas masuk daftar tinjau ulang. Kalau modal yang tertanam di item-item seperti itu sudah lewat 10 persen dari total nilai persediaan, itu porsi yang cukup besar untuk mulai ditangani serius, bukan ditunda sampai akhir tahun.
Yang Bisa Dilakukan Kalau Perputaran Anda Lambat
Reaksi pertama yang paling sering muncul adalah berhenti belanja sama sekali. Itu justru berbahaya, karena yang ikut kena adalah barang cepat laku yang selama ini menghidupi toko. Urutannya sebaiknya begini.
- Pisahkan dulu item cepat dan lambat. Hitung perputaran per item minimal untuk 20 item dengan nilai persediaan terbesar. Biasanya sebagian kecil item memegang sebagian besar modal, dan di situlah perbaikan paling terasa.
- Habiskan stok mati, jangan disimpan sambil berharap. Misalnya contoh ilustrasi 20 item mati dengan nilai modal total Rp 18.000.000 dan harga jual normal Rp 24.000.000. Kalau dilepas diskon 30 persen dari harga jual, kas yang kembali Rp 24.000.000 x 0,7 = Rp 16.800.000. Dibanding modalnya, Anda menanggung selisih Rp 1.200.000 atau 6,7 persen. Sebagai gantinya, Rp 16.800.000 kembali jadi uang yang bisa diputar, bukan barang yang diam.
- Kecilkan jumlah pesanan untuk item lambat. Kalau selama ini beli 1 lusin dan habis 8 bulan, beli setengah lusin. Untuk item yang minimum ordernya memaksa Anda membeli banyak, pertimbangkan mengganti merek atau berbagi pesanan dengan toko lain.
- Perketat titik pesan ulang untuk item cepat. Supaya perputaran naik tanpa berubah jadi sering kehabisan, tentukan ambang stok yang memicu pemesanan berdasarkan data penjualan, bukan perasaan. Caranya sudah kami bahas di cara menghitung reorder point.
- Hitung ulang tiap bulan, bukan tiap tahun. Rasio yang dihitung setahun sekali cuma jadi bahan penyesalan. Dihitung bulanan, ia jadi alat kemudi.
Yang membuat langkah-langkah ini berat bukan rumusnya, tapi datanya. Menghitung perputaran per item butuh nilai persediaan dan HPP terjual per item, dan mengumpulkannya secara manual dari nota untuk ratusan item bukan pekerjaan yang realistis dilakukan tiap bulan sambil menjaga toko. Ini bagian yang sebaiknya diserahkan ke sistem, dan pilihan alatnya kami bahas di panduan aplikasi stok barang.
Kasirnesia mencatat setiap transaksi beserta harga belinya, jadi nilai persediaan dan barang terjual per item terkumpul otomatis tanpa Anda harus merekap ulang dari nota. Detail fitur pencatatan stok dan laporannya bisa dilihat di halaman fitur. Kalau ingin mencoba dulu sebelum memutuskan, mulai saja dari paket gratis, catat transaksi apa adanya selama satu bulan penuh, lalu hitung perputaran persediaan Anda dengan angka nyata dan bukan perkiraan.
Satu catatan jujur untuk menutup bagian ini. Perputaran persediaan adalah alat diagnosis, bukan obat. Ia memberi tahu ada modal yang menganggur dan kira-kira di mana, tapi keputusan mau melepas barang dengan diskon berapa, mau ganti supplier, atau mau berhenti menjual satu kategori sepenuhnya, tetap keputusan Anda yang paling tahu pembeli di depan toko. Rasio ini cuma memastikan keputusan itu diambil sambil melihat angka, bukan sambil menebak.
FAQ: Pertanyaan Umum seputar Perputaran Persediaan
Apa itu perputaran persediaan?
Perputaran persediaan adalah rasio yang menunjukkan berapa kali stok barang Anda habis terjual lalu diisi ulang selama satu periode. Rasio ini dihitung dengan membagi harga pokok penjualan periode itu dengan nilai persediaan rata-rata pada periode yang sama. Semakin sering stok berputar, semakin cepat modal yang tertanam di rak kembali menjadi uang tunai.
Kenapa rumus perputaran persediaan memakai HPP dan bukan omzet?
Karena nilai persediaan di catatan Anda dinilai memakai harga beli, bukan harga jual, sedangkan omzet sudah mengandung margin keuntungan. Investopedia menjelaskan bahwa memakai angka penjualan cenderung menggelembungkan hasil rasio karena angka itu memuat markup toko. Kalau Anda memakai omzet, angka perputaran akan terlihat lebih bagus dari kenyataan dan tidak bisa dibandingkan dengan periode lain yang marginnya berbeda.
Bagaimana cara menghitung persediaan rata-rata?
Cara paling sederhana adalah menjumlahkan nilai persediaan awal periode dan nilai persediaan akhir periode, lalu membaginya dua. Kalau stok Anda naik turun tajam karena musim ramai atau hari raya, dua titik saja bisa menyesatkan, jadi lebih aman memakai rata-rata dari nilai persediaan akhir tiap bulan sepanjang tahun. Sumber angkanya harus dari stok opname yang benar-benar dihitung fisik, bukan tebakan.
Berapa kali setahun perputaran persediaan yang sehat?
Tidak ada satu angka baku yang berlaku untuk semua usaha, dan tidak ada lembaga resmi di Indonesia yang menetapkannya. Corporate Finance Institute bahkan menyarankan agar hari persediaan tidak dibandingkan antar industri karena selisihnya besar. Warung makan yang stoknya bahan segar wajar berputar puluhan kali setahun, sementara toko bangunan bisa hanya dua sampai tiga kali, dan keduanya sama-sama masuk akal.
Bagaimana mengubah perputaran persediaan jadi berapa hari stok bertahan?
Bagi jumlah hari dalam periode dengan angka perputaran periode itu. Kalau perputaran setahun adalah 12 kali, maka 365 dibagi 12 sama dengan sekitar 30 hari, artinya stok di toko Anda rata-rata bertahan satu bulan sebelum habis. Angka hari biasanya lebih mudah dipakai untuk mengambil keputusan belanja daripada angka kali.
Apa yang harus dilakukan kalau perputaran persediaan lambat?
Jangan langsung memangkas semua stok. Hitung dulu perputaran per item supaya ketahuan barang mana yang menahan modal, biasanya hanya sebagian kecil item yang jadi biang masalah. Setelah itu habiskan stok mati lewat diskon atau bundling, kecilkan jumlah pesanan untuk item lambat, dan perketat titik pesan ulang agar tidak menumpuk lagi.
Apakah perputaran persediaan harus selalu dihitung per tahun?
Tidak harus. Usaha dengan bahan segar seperti kafe lebih berguna menghitungnya per bulan, karena umur simpan bahannya hitungan hari. Yang wajib adalah menulis periodenya di sebelah angka, sebab 12 kali setahun di toko kelontong dan 12 kali sebulan di kafe adalah dua kondisi yang sangat berbeda. Bandingkan juga hanya angka dengan periode yang sama.
Masih bingung menentukan angka perputaran mana yang wajar untuk jenis usaha Anda? Chat tim Kasirnesia lewat WhatsApp di wa.me/6285136212005, kami bantu membaca angka stok Anda sebelum Anda memutuskan mengubah pola belanja.

