Kasirnesia

Manajemen Stok

Metode FIFO: Cara Kerja, Contoh Hitung, dan Bedanya dengan LIFO dan FEFO

Metode FIFO berarti barang yang masuk pertama keluar pertama. Pelajari cara kerjanya, bedanya dengan LIFO dan FEFO, contoh hitung, dan dampaknya ke pembukuan.

14 menit baca
Metode FIFO: Cara Kerja, Contoh Hitung, dan Bedanya dengan LIFO dan FEFO

Metode FIFO (first in first out) adalah cara mengelola persediaan dengan prinsip sederhana: barang yang masuk pertama harus keluar pertama. Prinsip ini berlaku di dua tempat sekaligus, di rak toko saat Anda menata dan mengambil barang, dan di pembukuan saat Anda menghitung harga pokok penjualan serta nilai stok yang tersisa. Dua-duanya penting, dan justru di situ banyak pemilik warung dan toko terpeleset: rajin menata rak dengan urutan masuk, tapi pembukuannya memakai asumsi harga yang berbeda, atau sebaliknya.

Artikel ini membahas cara kerja FIFO dari dua sisi itu, membandingkannya dengan LIFO dan FEFO, memberi contoh hitung dengan angka ilustrasi yang bisa Anda tiru, dan menjelaskan kenapa pilihan metode ini ikut menentukan angka laba di pembukuan Anda. Semua contohnya memakai kasus warung dan toko kelontong, bukan pabrik atau korporat, supaya langsung bisa dipraktikkan.

Daftar Isi

  1. Apa Itu Metode FIFO dan Bagaimana Cara Kerjanya
  2. FIFO vs LIFO vs FEFO: Beda Prinsip, Beda Barang yang Keluar Duluan
  3. Contoh Hitung FIFO dengan Angka: Kasus Minyak Goreng di Warung
  4. Cara Menata Rak Supaya FIFO Berjalan dengan Sendirinya
  5. Mencatat FIFO di Kartu Stok dan Saat Stok Opname
  6. Dampak Pilihan Metode ke Nilai Persediaan dan Laba di Pembukuan
  7. Kesalahan Umum Saat Menerapkan FIFO di Toko Kecil
  8. FAQ: Pertanyaan Umum seputar Metode FIFO

Apa Itu Metode FIFO dan Bagaimana Cara Kerjanya

Bayangkan tumpukan kardus mi instan di gudang warung Anda. Kiriman pertama datang tanggal 1, kiriman kedua tanggal 10. Dengan metode FIFO, saat ada pembeli, yang Anda ambil adalah kardus kiriman tanggal 1 dulu sampai habis, baru menyentuh kiriman tanggal 10. Sesederhana itu di sisi fisik.

Di sisi pembukuan, FIFO bekerja dengan logika yang sama tapi objeknya harga, bukan barang. Saat barang terjual, harga pokok yang dibebankan adalah harga beli dari kiriman yang paling awal masuk. Akibatnya, stok yang tersisa di akhir periode otomatis dinilai dengan harga pembelian yang paling baru. Ini bukan sekadar teori akuntansi; kamus pajak DDTCNews mendefinisikan FIFO persis seperti itu, metode penilaian persediaan berdasarkan prinsip masuk pertama keluar pertama, barang yang dibeli pertama dianggap yang dijual lebih dulu (DDTCNews).

Dua sisi ini sebaiknya berjalan bersama. Kalau rak Anda ditata FIFO tapi pencatatan harga pokoknya asal ambil angka, laporan laba Anda tidak menggambarkan kenyataan. Sebaliknya, kalau pembukuan rapi FIFO tapi rak berantakan, barang lama menumpuk di belakang sampai rusak atau kedaluwarsa, dan kerugiannya nyata walau di atas kertas semuanya tampak beres.

Untuk usaha kecil, FIFO punya satu keunggulan yang jarang disebut buku akuntansi: alurnya cocok dengan naluri. Kebanyakan pemilik warung memang sudah menjual barang lama duluan tanpa menyebutnya FIFO. Yang sering belum jalan adalah sisi pencatatannya, dan di situlah artikel ini akan banyak berhenti.

Poin Penting: FIFO itu dua hal sekaligus, kebiasaan fisik menata dan mengambil barang, plus aturan hitung harga pokok di pembukuan. Menjalankan salah satunya saja membuat manfaatnya cuma setengah.

FIFO vs LIFO vs FEFO: Beda Prinsip, Beda Barang yang Keluar Duluan

Tiga istilah ini sering muncul berdampingan dan mudah tertukar karena namanya mirip. Bedanya ada di satu pertanyaan: barang mana yang keluar duluan?

FIFO menjawab: yang datang pertama. LIFO (last in first out) menjawab kebalikannya: yang datang terakhir justru keluar pertama, seperti tumpukan piring yang selalu diambil dari atas. FEFO (first expired first out) menjawab dengan ukuran yang berbeda sama sekali: bukan urutan datang, tapi tanggal kedaluwarsa. Barang yang paling cepat kedaluwarsa keluar pertama, walau barang itu datangnya paling akhir.

MetodeBarang yang keluar duluanDasar urutanPaling cocok untukStatus di Indonesia
FIFOYang masuk pertamaTanggal barang datangHampir semua jenis toko dan warungDiakui untuk pembukuan dan pajak
LIFOYang masuk terakhirTanggal barang datang (dibalik)Praktis tidak dipakai lagiTidak diakui untuk pajak, tidak diperbolehkan standar akuntansi
FEFOYang paling cepat kedaluwarsaTanggal kedaluwarsa di kemasanF&B, sembako, obat, kosmetik, frozen foodKebiasaan pengelolaan fisik, pencatatan nilainya tetap FIFO atau rata-rata

Dua hal dari tabel itu perlu digarisbawahi. Pertama, LIFO praktis sudah tamat. Standar akuntansi internasional (IASB) tidak memperbolehkan metode LIFO untuk menghitung dan mencatat persediaan (DDTCNews), dan untuk urusan pajak, UU PPh hanya memperbolehkan metode rata-rata dan FIFO (DDTCNews). Jadi kalau ada yang menyarankan Anda pakai LIFO supaya laba tampak kecil dan pajak ringan, saran itu sudah tidak relevan dengan aturan yang berlaku.

Kedua, FEFO bukan pesaing FIFO di pembukuan, melainkan pelengkapnya di rak. FEFO berbasis tanggal kedaluwarsa, dan itulah yang paling relevan untuk usaha makanan, minuman, dan sembako. Contoh nyata: warung Anda menerima kiriman susu kotak hari Senin dengan kedaluwarsa 1 Desember, lalu kiriman hari Kamis dari distributor lain dengan kedaluwarsa 15 November. FIFO murni akan mengeluarkan kiriman Senin duluan, padahal kiriman Kamis lebih dulu kedaluwarsa. FEFO menangkap kasus ini, FIFO tidak. Untuk barang yang tidak kedaluwarsa, FEFO dan FIFO hasilnya sama saja, jadi banyak toko sembako menjalankan FEFO di rak sambil tetap mencatat nilai persediaan dengan FIFO di pembukuan.

Contoh Hitung FIFO dengan Angka: Kasus Minyak Goreng di Warung

Cara paling cepat memahami FIFO adalah lewat angka. Semua angka di bagian ini adalah contoh ilustrasi, bukan harga pasar sungguhan, tapi cara hitungnya persis seperti yang akan Anda lakukan di pembukuan sendiri.

Misalkan warung sembako Anda membeli minyak goreng kemasan 1 liter dua kali dalam sebulan (contoh ilustrasi):

TanggalTransaksiJumlahHarga beli per botolTotal
1 AgustusBeli (kiriman pertama)10 botolRp17.000Rp170.000
10 AgustusBeli (kiriman kedua)10 botolRp18.000Rp180.000
15 AgustusTerjual12 botol--

Total barang tersedia: 20 botol dengan nilai Rp350.000. Sekarang hitung harga pokok 12 botol yang terjual menurut FIFO. Ambil dulu 10 botol dari kiriman pertama (10 x Rp17.000 = Rp170.000), lalu 2 botol dari kiriman kedua (2 x Rp18.000 = Rp36.000). Harga pokok penjualan FIFO = Rp170.000 + Rp36.000 = Rp206.000. Sisa stok 8 botol, semuanya dari kiriman kedua, jadi nilai persediaan akhir = 8 x Rp18.000 = Rp144.000. Cek silang: Rp206.000 + Rp144.000 = Rp350.000, cocok dengan total pembelian.

Bandingkan dengan dua metode lain memakai transaksi yang sama (masih contoh ilustrasi). Metode rata-rata: harga rata-rata per botol = Rp350.000 / 20 = Rp17.500, harga pokok 12 botol = Rp210.000, sisa stok = 8 x Rp17.500 = Rp140.000. LIFO (hanya untuk perbandingan, bukan untuk dipakai): harga pokok = 10 x Rp18.000 + 2 x Rp17.000 = Rp214.000, sisa stok = 8 x Rp17.000 = Rp136.000.

Sekarang lihat efeknya ke laba. Kalau 12 botol itu terjual dengan harga Rp20.000 per botol, omzetnya Rp240.000. Laba kotor versi FIFO = Rp240.000 - Rp206.000 = Rp34.000. Versi rata-rata = Rp30.000. Versi LIFO = Rp26.000. Barangnya sama, penjualannya sama, uang di laci sama, tapi angka laba di buku berbeda sampai Rp8.000 hanya karena beda metode. Di skala satu produk memang kecil; kalikan dengan ratusan jenis barang dan dua belas bulan, selisihnya jadi serius.

Benchmark: Saat harga beli sedang naik, FIFO menghasilkan harga pokok paling rendah dan laba paling tinggi di antara ketiga metode, karena yang dibebankan adalah harga lama yang lebih murah. Saat harga beli turun, arahnya berbalik. Memahami arah ini membantu Anda membaca laporan laba tanpa kaget.

Perhitungan seperti ini juga yang menjadi dasar cara menghitung HPP untuk usaha makanan. Bedanya, di usaha makanan harga pokok bahan baku berubah lebih sering, jadi disiplin memilih satu metode dan menjalankannya konsisten makin penting.

Cara Menata Rak Supaya FIFO Berjalan dengan Sendirinya

Teori FIFO gagal bukan di pembukuan, tapi di rak. Kalau mengambil barang lama harus membongkar tumpukan, kasir yang sedang buru-buru pasti mengambil yang paling gampang dijangkau, dan itu biasanya barang baru. Jadi tugas Anda bukan menyuruh semua orang disiplin, tapi menata rak supaya barang lama memang yang paling gampang diambil.

Prinsipnya satu: barang baru masuk dari belakang, barang keluar dari depan. Turunannya berbeda-beda per jenis rak. Untuk rak dinding, geser stok lama ke depan setiap kali kiriman datang, lalu isi barisan belakang dengan kiriman baru. Untuk kulkas minuman, kalau kulkasnya punya akses belakang, isi selalu dari belakang supaya botol lama otomatis berdiri paling depan. Untuk tumpukan kardus di gudang, beri tanda tanggal datang dengan spidol besar di sisi kardus yang menghadap jalan, misalnya "10/8", dan susun kardus tanggal lama di posisi yang paling mudah dijangkau, bukan di dasar tumpukan.

Untuk barang dengan tanggal kedaluwarsa, tambahkan satu langkah FEFO: saat menata, yang menentukan posisi paling depan bukan tanggal datang, tapi tanggal kedaluwarsa yang paling dekat. Banyak toko memakai stiker warna sederhana, misalnya merah untuk kedaluwarsa bulan ini, kuning untuk bulan depan, tanpa perlu sistem yang rumit.

Kebiasaan kecil lain yang membantu: jadwalkan rotasi rak bersamaan dengan momen yang sudah pasti terjadi, misalnya setiap kiriman distributor datang. Kalau rotasi rak dijadikan pekerjaan terpisah "kalau sempat", biasanya tidak pernah sempat. Di toko sembako yang memakai aplikasi kasir, momen scan barang masuk bisa sekalian dijadikan pengingat untuk menggeser stok lama ke depan.

Mencatat FIFO di Kartu Stok dan Saat Stok Opname

Penataan rak menjaga barangnya, pencatatan menjaga angkanya. Alat pencatatan paling sederhana untuk FIFO adalah kartu stok, yaitu catatan per barang yang mencatat setiap barang masuk, keluar, dan sisa saldo. Untuk FIFO, ada satu tambahan penting dibanding kartu stok biasa: catat harga beli per kiriman, jangan digabung.

Praktisnya begini. Di kartu stok minyak goreng tadi, baris 1 Agustus mencatat masuk 10 botol @ Rp17.000, baris 10 Agustus mencatat masuk 10 botol @ Rp18.000. Dua baris itu jangan dilebur jadi "20 botol". Saat mencatat penjualan 12 botol pada 15 Agustus, kurangi dulu saldo kiriman pertama sampai nol, baru memotong kiriman kedua. Dengan cara ini, kartu stok Anda selalu tahu sisa 8 botol itu berasal dari kiriman mana dan bernilai berapa, tanpa perlu menghitung ulang dari awal.

Pencatatan seperti ini yang membuat stok opname jadi jauh lebih ringan. Saat menghitung fisik di akhir bulan, Anda tinggal membandingkan jumlah fisik dengan saldo kartu stok. Kalau fisiknya 8 botol dan kartu stok bilang 8 botol, selesai. Kalau fisiknya 7, Anda tahu persis ada selisih 1 botol senilai Rp18.000 (harga kiriman terakhir menurut FIFO), bukan sekadar "ada yang hilang entah berapa nilainya".

Mencatat lapis harga per kiriman di buku tulis memang bisa, tapi mulai melelahkan begitu jenis barang lewat dari beberapa puluh. Di titik itu wajar kalau banyak pemilik toko pindah ke aplikasi pembukuan stok barang yang mencatat harga beli per pembelian secara otomatis. Aplikasi kasir yang terhubung dengan pencatatan stok, termasuk Kasirnesia, memotong stok otomatis setiap transaksi kasir terjadi, jadi kartu stok Anda terisi tanpa pekerjaan tambahan di malam hari.

Poin Penting: Ciri pencatatan FIFO yang benar ada di kartu stok: setiap kiriman tercatat dengan harga belinya sendiri, dan pengurangan selalu memotong kiriman tertua dulu. Kalau semua pembelian dilebur jadi satu angka, yang Anda jalankan sebenarnya metode rata-rata, bukan FIFO.

Dampak Pilihan Metode ke Nilai Persediaan dan Laba di Pembukuan

Bagian ini yang paling sering dilewatkan pemilik usaha kecil, padahal efeknya paling panjang. Pilihan metode persediaan menentukan dua angka di laporan keuangan Anda: nilai persediaan akhir (yang masuk ke daftar harta) dan harga pokok penjualan (yang menentukan laba). Seperti terlihat di contoh minyak goreng tadi, saat harga beli naik, FIFO membuat nilai persediaan akhir lebih tinggi dan laba lebih besar dibanding metode rata-rata; itu bukan trik, hanya konsekuensi matematis dari harga mana yang dibebankan lebih dulu.

Ada dua aturan main yang perlu Anda tahu sebelum memilih. Pertama, pilihan yang tersedia cuma dua. Untuk penghitungan pajak, Pasal 10 ayat (6) UU PPh hanya mengakui metode rata-rata dan FIFO sebagai cara penilaian pemakaian persediaan (DDTCNews). LIFO tidak termasuk, dan standar akuntansi yang dirujuk di Indonesia pun sudah tidak memperbolehkannya (DDTCNews).

Kedua, pilihan itu mengikat. Penjelasan Pasal 10 ayat (6) UU PPh menyebut sekali wajib pajak memilih satu cara penilaian persediaan, tahun-tahun berikutnya harus memakai cara yang sama (DDTCNews). Jadi ini bukan keputusan yang bisa diganti-ganti tiap kali hasilnya kurang enak dilihat. Konsistensi ini sebenarnya menguntungkan Anda juga: laporan laba antar bulan dan antar tahun jadi bisa dibandingkan secara adil, karena perubahan angkanya benar-benar berasal dari jualan, bukan dari ganti rumus.

Mana yang sebaiknya dipilih usaha kecil? Pendapat kami, untuk warung dan toko yang barangnya memang berputar dengan pola masuk pertama keluar pertama, FIFO lebih jujur menggambarkan kenyataan: barang di rak Anda memang barang termahal yang terakhir dibeli, dan nilai persediaan di pembukuan mencerminkan itu. Metode rata-rata lebih sederhana dihitung manual dan cocok kalau harga beli Anda jarang berubah. Yang tidak boleh adalah setengah-setengah, rak dikelola FIFO tapi nilai stok dihitung sekenanya. Kasirnesia bukan konsultan pajak, jadi untuk kasus khusus, misalnya usaha Anda sudah wajib lapor SPT dengan pembukuan lengkap, konsultasikan pilihan metodenya dengan konsultan pajak atau akuntan Anda.

Kesalahan Umum Saat Menerapkan FIFO di Toko Kecil

Dari mengamati warung dan toko yang mulai merapikan stoknya, pola kesalahannya berulang dan hampir semuanya bisa dicegah tanpa biaya.

Pertama, FIFO hanya dijalankan saat rak longgar. Begitu kiriman besar datang menjelang tanggal ramai, semua barang ditumpuk di posisi kosong terdekat, dan urutan masuk hilang. Solusinya bukan tenaga ekstra, tapi menulis tanggal datang di kardus sejak barang diturunkan dari mobil, jadi urutan tetap bisa dilacak walau posisinya sempat berantakan.

Kedua, memperlakukan semua barang dengan aturan yang sama. Barang kedaluwarsa pendek butuh FEFO, barang awet cukup FIFO, dan barang yang hampir tidak pernah rusak, seperti plastik kemasan, tidak perlu rotasi seketat itu. Menyamaratakan aturan membuat tim capek di barang yang tidak penting dan lengah di barang yang kritis.

Ketiga, mencatat pembelian tanpa harga per kiriman. Ini yang membuat pembukuan FIFO mustahil dilakukan di akhir bulan, karena data lapis harganya sudah hilang sejak awal. Biasakan mencatat harga beli setiap kali barang datang, bukan merekonstruksinya belakangan dari ingatan atau nota yang sudah hilang.

Keempat, tidak pernah mencocokkan catatan dengan fisik. Kartu stok serapi apa pun akan melenceng pelan-pelan karena salah input, barang rusak, atau selisih kecil di kasir. Tanpa stok opname rutin, selisih itu menumpuk diam-diam dan baru ketahuan saat sudah besar. Jadwal bulanan sederhana, atau mingguan untuk barang bernilai tinggi, sudah cukup untuk menjaga angka dan fisik tetap seiring.

Kelima, menunda pencatatan karena menunggu sistem yang sempurna. Kartu stok kertas yang diisi disiplin jauh lebih berguna daripada rencana aplikasi canggih yang tidak kunjung dimulai. Mulai dari 10 barang yang paling laku, rasakan manfaatnya, baru perluas.

FAQ: Pertanyaan Umum seputar Metode FIFO

Apa yang dimaksud dengan metode FIFO? Metode FIFO (first in first out) adalah cara mengelola dan menilai persediaan dengan prinsip barang yang masuk pertama dijual atau dipakai pertama. Dalam praktik fisik, artinya stok lama ditaruh paling depan di rak supaya terambil lebih dulu. Dalam pembukuan, artinya harga pokok penjualan dihitung memakai harga beli barang yang paling awal masuk, sementara stok yang tersisa dinilai dengan harga pembelian terbaru.

Apa beda FIFO, LIFO, dan FEFO? FIFO mengeluarkan barang berdasarkan urutan masuk, yang datang pertama keluar pertama. LIFO kebalikannya, barang yang datang terakhir justru keluar pertama. FEFO (first expired first out) tidak melihat urutan masuk sama sekali, tapi tanggal kedaluwarsa, barang yang paling cepat kedaluwarsa harus keluar pertama walau datangnya belakangan. Untuk usaha makanan, minuman, dan sembako, FEFO adalah versi yang paling aman karena mencegah barang kedaluwarsa di rak.

Apakah metode LIFO boleh dipakai di Indonesia? Untuk penghitungan pajak, tidak. Pasal 10 ayat (6) UU Pajak Penghasilan hanya memperbolehkan dua cara penilaian pemakaian persediaan, yaitu rata-rata dan FIFO, jadi LIFO tidak termasuk yang diakui. Standar akuntansi internasional yang menjadi rujukan standar di Indonesia juga sudah tidak memperbolehkan LIFO untuk pelaporan keuangan. Praktisnya, pilihan Anda tinggal FIFO atau rata-rata.

Kapan sebaiknya memakai FEFO dibanding FIFO? Pakai FEFO kalau barang dagangan Anda punya tanggal kedaluwarsa yang berbeda-beda antar kiriman, misalnya susu, roti, obat, frozen food, atau sembako kemasan. Kiriman baru kadang justru punya tanggal kedaluwarsa lebih pendek daripada stok lama, dan FIFO murni tidak menangkap hal itu. Kalau barang Anda tidak kedaluwarsa, seperti alat tulis, aksesori, atau perkakas, FIFO biasa sudah cukup.

Bagaimana cara menerapkan FIFO di rak toko kecil? Kuncinya satu kebiasaan: setiap barang baru datang, taruh di belakang, geser stok lama ke depan. Kasir dan pelayan mengambil barang selalu dari depan. Untuk kulkas minuman, isi dari pintu belakang kalau ada, supaya botol lama otomatis berada di posisi terdepan. Tandai tanggal barang datang dengan spidol atau stiker kecil di kardus supaya urutannya tidak tertukar saat rak penuh.

Apakah boleh ganti-ganti metode persediaan setiap tahun? Tidak dianjurkan dan untuk pajak memang tidak diperbolehkan. Penjelasan Pasal 10 ayat (6) UU PPh menyebut sekali wajib pajak memilih satu cara penilaian persediaan, tahun-tahun berikutnya harus memakai cara yang sama. Konsistensi ini juga membuat laporan antar periode bisa dibandingkan secara adil, karena ganti metode akan mengubah nilai persediaan dan laba tanpa ada perubahan apa pun di fisik barang.

Masih bingung menerapkan FIFO di toko Anda, atau mau lihat bagaimana Kasirnesia memotong stok otomatis setiap transaksi? Chat tim Kasirnesia lewat WhatsApp di wa.me/6285136212005, kami bantu Anda mulai dari pencatatan yang paling sederhana.

Gratis untuk mulai

Siap berhenti nyatet manual dan mulai jualan lebih rapi?

Coba Kasirnesia gratis, tetap jalan walau internet mati, dan langganan bulanan tanpa setor setahun di muka. Tim kami siap bantu setup lewat WhatsApp.