SKU produk adalah kode internal yang Anda buat sendiri untuk menandai setiap jenis barang di toko, dan fungsinya bukan untuk dibaca pembeli melainkan untuk memastikan kasir, catatan stok, dan laporan penjualan Anda menunjuk ke barang yang sama persis. SKU adalah singkatan dari Stock Keeping Unit, dan kalau Anda pernah bingung melihat laporan yang menampilkan "Indomie" tiga kali dengan angka berbeda, akar masalahnya hampir selalu ada di sini.
Kode barang terdengar seperti urusan teknis yang bisa ditunda. Kenyataannya, SKU adalah satu-satunya hal yang menyambungkan tiga catatan berbeda di usaha Anda: apa yang dijual kasir, apa yang tersisa di rak, dan apa yang Anda pesan ke pemasok. Kalau ketiganya memakai penyebutan yang berbeda, tidak ada laporan yang bisa dipercaya, sebagus apa pun aplikasi kasirnya. Artikel ini membahas cara menyusun format SKU yang tidak berantakan, apa yang tidak boleh dimasukkan ke dalamnya, dan cara merapikan kalau kode Anda sudah terlanjur kacau.
Satu catatan sebelum masuk: semua kode SKU yang muncul di artikel ini adalah contoh ilustrasi yang kami susun sendiri, bukan standar resmi dari lembaga mana pun. Polanya konsisten dipakai dari awal sampai akhir supaya gampang Anda tiru dan sesuaikan.
Daftar Isi
- Apa Itu SKU Produk dan Kenapa Toko Anda Membutuhkannya
- Beda SKU dan Barcode: Kode Internal Anda vs Kode Standar Global
- Anatomi Format SKU yang Rapi: Segmen, Panjang, dan Pemisah
- Yang Tidak Boleh Masuk ke Dalam SKU: Harga, Tanggal, dan Kata Bebas
- Contoh Penyusunan SKU untuk Toko Kelontong dan untuk Kafe
- 7 Kesalahan Umum yang Membuat Daftar SKU Berantakan
- Cara Migrasi Kalau SKU Anda Terlanjur Kacau
- FAQ: Pertanyaan Umum seputar SKU Produk
Apa Itu SKU Produk dan Kenapa Toko Anda Membutuhkannya
SKU adalah identitas tunggal untuk satu jenis barang yang Anda perlakukan sebagai satu unit penyimpanan. Kata kuncinya ada di "satu unit penyimpanan". Beras merek yang sama dalam kemasan 1 kg dan 5 kg bukan satu barang, karena harganya berbeda, stoknya dihitung terpisah, dan Anda memesannya ke pemasok sebagai dua item. Jadi keduanya butuh dua SKU, bukan satu.
Kenapa toko kecil tetap butuh ini padahal pemiliknya hafal semua barangnya? Karena yang perlu hafal bukan cuma Anda. Kasir yang baru masuk dua minggu perlu tahu bedanya. Aplikasi kasir perlu tahu bedanya supaya tidak mengurangi stok yang salah. Dan Anda sendiri perlu tahu bedanya saat membaca laporan tiga bulan kemudian, ketika ingatan soal "yang bungkus hijau itu yang mana" sudah kabur.
Ada tiga pekerjaan sehari-hari yang langsung membaik begitu SKU rapi. Pertama, input kasir jadi lebih cepat dan lebih jarang salah, karena kasir mengetik kode pendek yang pasti, bukan mencari-cari nama barang di daftar panjang yang mirip semua. Kedua, catatan stok jadi bisa dipercaya, karena setiap pergerakan masuk dan keluar menempel pada satu kode, bukan tersebar di beberapa nama yang sebenarnya barang yang sama. Cara mencatatnya kami bahas terpisah di panduan kartu stok, dan SKU adalah kolom pertama yang harus terisi rapi di kartu itu.
Ketiga, pemesanan ke pemasok jadi lebih akurat. Anda bisa menyebut kode, bukan deskripsi panjang yang bisa ditafsirkan berbeda. Ini juga fondasi supaya perhitungan titik pesan ulang berjalan benar, karena rumus reorder point mengandalkan angka penjualan harian per barang. Kalau satu barang terpecah ke dua kode, angka penjualan hariannya terbaca separuh dan Anda akan kehabisan stok tanpa peringatan.
Poin Penting: SKU bukan nomor urut barang masuk. SKU adalah identitas produk. Nomor urut boleh berubah, identitas tidak. Kalau kode Anda ikut berubah setiap kali ada barang baru masuk atau harga naik, itu bukan SKU, itu cuma label sementara yang kebetulan diketik di kolom SKU.
Beda SKU dan Barcode: Kode Internal Anda vs Kode Standar Global
Ini bagian yang paling sering tertukar, dan kalau tertukar sejak awal, seluruh sistem penomoran Anda akan miring. Perbedaan intinya sederhana: barcode ritel membawa nomor standar yang berlaku sama di seluruh dunia, sedangkan SKU adalah kode internal yang cuma berlaku di dalam toko Anda sendiri.
GS1 US, organisasi yang menerbitkan nomor barcode ritel di Amerika Serikat, menjelaskan bahwa SKU adalah metrik pelacakan internal yang dibuat oleh satu merek atau peritel tertentu, sementara nomor UPC diterima secara global untuk produk itu (GS1 US). Halaman yang sama memberi contoh yang enak dicerna: dua peritel bisa menjual barang yang sama dengan nomor UPC identik, tapi keduanya tetap memakai nomor SKU masing-masing. Nomor di kemasan itu bukan milik toko, nomor di sistem Anda itu milik Anda.
Nomor yang tercetak di bawah garis-garis barcode itu sendiri disebut GTIN atau Global Trade Item Number, yaitu nomor identifikasi global yang unik untuk satu produk. GS1 US menyebut GTIN punya empat struktur panjang, yakni 8, 12, 13, atau 14 digit, dan struktur 13 digit adalah yang umum dipakai di luar Amerika Utara (GS1 US). Poin praktisnya untuk Anda: aturan penomoran itu bukan wilayah yang boleh Anda karang sendiri, dan memang tidak perlu Anda karang, karena barang bermerek sudah membawanya dari pabrik.
Kalau Anda ingin mendalami sisi barcode, mulai dari cara membuat, mencetak label, sampai memilih alat pindai, kami sudah membahasnya terpisah di artikel barcode produk. Artikel ini sengaja tidak mengulang bagian itu dan fokus pada satu hal yang tidak bisa didelegasikan ke pabrik mana pun: menyusun kode internal Anda sendiri.
| Aspek | SKU (Kode Internal) | Barcode Ritel (Nomor Standar) |
|---|---|---|
| Siapa yang membuat | Anda, pemilik toko | Produsen, lewat sistem penomoran GS1 |
| Berlaku di mana | Hanya di dalam toko dan sistem Anda | Global, sama di semua toko |
| Boleh diubah sendiri | Boleh, asal konsisten dan terkendali | Tidak, itu nomor terdaftar |
| Bisa dibaca manusia | Bisa, kalau formatnya disusun rapi | Tidak, hanya deretan angka |
| Untuk barang curah dan racikan | Wajib, karena tidak ada kode pabriknya | Tidak tersedia dari pabrik |
| Pertanyaan yang dijawab | Barang mana ini di rak dan gudang saya | Barang apa ini secara global |
Keduanya tidak saling menggantikan. Praktik yang paling waras adalah menyimpan keduanya di data produk yang sama: kolom barcode diisi angka dari kemasan kalau ada, kolom SKU diisi kode buatan Anda untuk semua barang tanpa kecuali. Dengan begitu kasir bisa memindai kemasan bermerek, dan tetap bisa mengetik kode pendek untuk gorengan atau beras curah yang tidak punya kemasan pabrik.
Anatomi Format SKU yang Rapi: Segmen, Panjang, dan Pemisah
Format SKU yang baik bukan yang paling pintar, tapi yang paling gampang ditebak. Kalau Anda melihat kodenya lalu bisa menebak barangnya tanpa membuka aplikasi, format itu sudah lulus ujian. Cara paling sederhana mencapainya adalah memecah kode menjadi beberapa segmen dengan arti tetap.

Format ilustrasi yang kami pakai di artikel ini punya tiga segmen: KAT-MRK-VAR. Segmen pertama tiga huruf untuk kategori, segmen kedua tiga huruf untuk merek atau pemasok, dan segmen ketiga dua sampai lima karakter untuk varian, rasa, atau ukuran. Semua huruf kapital, dipisah tanda hubung, tanpa spasi. Contohnya MIE-IDM-GRG untuk mie instan merek Indomie varian goreng.
Segmen kategori adalah yang paling menentukan, karena ini yang membuat daftar produk Anda bisa diurutkan dan dikelompokkan. Buat daftar kategori dulu sebelum membuat satu pun kode, dan tahan diri untuk tidak membuat kategori baru setiap kali ada barang aneh masuk. Untuk toko kelontong, sepuluh sampai lima belas kategori biasanya sudah menampung hampir semua barang. Kalau sebuah kategori isinya cuma satu barang, kemungkinan besar barang itu sebenarnya milik kategori lain.
Segmen merek berguna karena satu kategori sering diisi banyak merek yang harganya berbeda jauh. Kalau barangnya curah tanpa merek, isi segmen ini dengan kode pemasok atau kode generik seperti CUR untuk curah. Yang penting aturannya ditulis sekali dan dipatuhi, bukan diputuskan ulang setiap kali ada barang baru.
Segmen varian menampung hal yang membedakan dua barang yang selebihnya sama: rasa, ukuran kemasan, warna, atau suhu penyajian. Aturan praktisnya, kalau dua hal itu punya harga jual berbeda atau dihitung stoknya terpisah, dia layak jadi segmen varian sendiri. Kalau tidak, jangan dipisah, karena setiap pemisahan yang tidak perlu menambah baris yang harus Anda urus seumur hidup toko.
Soal panjang, rentang 8 sampai 14 karakter biasanya nyaman. Cukup pendek untuk diketik cepat di jam ramai, cukup panjang untuk tidak bentrok saat jumlah barang bertambah. Hindari huruf yang gampang tertukar dengan angka, terutama huruf O dengan angka 0 dan huruf I dengan angka 1. Untuk pemisah, tanda hubung lebih aman daripada garis miring, titik, atau spasi, karena tanda hubung jarang bikin masalah saat data diekspor ke file CSV atau ditempel ke spreadsheet.
Pro Tip: Tulis aturan format Anda di satu halaman, tempel di dekat komputer stok, dan perlakukan itu sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Daftar kode yang rapi bukan hasil kepintaran, tapi hasil kesediaan mematuhi aturan sendiri saat sedang buru-buru.
Yang Tidak Boleh Masuk ke Dalam SKU: Harga, Tanggal, dan Kata Bebas
Ada satu prinsip yang menjelaskan hampir semua larangan di bagian ini: SKU harus stabil seumur hidup produk. Segala sesuatu yang bisa berubah tanpa mengubah identitas barang tidak boleh ikut masuk ke dalam kodenya.

Harga adalah pelanggar nomor satu. Kode seperti BERAS1KG13000 terlihat informatif sampai harga beras naik. Begitu naik, Anda menghadapi dua pilihan yang sama buruknya: membiarkan kode berbohong, atau membuat kode baru dan memecah riwayat penjualan barang itu menjadi dua baris terpisah. Laporan barang terlaris Anda akan menampilkan barang yang sama dua kali dengan angka masing-masing separuh, dan tidak ada cara mudah menjumlahkannya kembali. Harga tempatnya di kolom harga, tempat dia memang bisa diubah kapan saja tanpa merusak apa pun.
Tanggal adalah pelanggar nomor dua, dan biasanya niatnya baik. Pemilik toko ingin tahu barang mana yang masuk duluan supaya keluar duluan juga, lalu menempelkan tanggal masuk ke dalam kode. Masalahnya, tanggal masuk bukan identitas produk, itu identitas batch. Satu produk bisa punya puluhan batch dalam setahun, dan kalau setiap batch jadi SKU baru, daftar produk Anda akan membengkak tanpa guna. Kebutuhan melacak urutan masuk dan tanggal kedaluwarsa diselesaikan dengan kolom batch dan tanggal kedaluwarsa yang terpisah, ditambah disiplin pengeluaran barang seperti yang kami bahas di panduan metode FIFO.
Pelanggar ketiga adalah kata bebas. Kode seperti INDOMIE GORENG BUNGKUS BESAR bukan SKU, itu nama barang yang kebetulan diketik di kolom SKU. Kelemahannya banyak: ada spasi yang bisa merusak ekspor data, panjangnya tidak seragam, dan dua orang bisa menuliskan barang yang sama dengan ejaan berbeda. Nama barang sudah punya kolomnya sendiri, dan kolom itu memang tempat yang tepat untuk deskripsi panjang.
Beberapa hal lain yang sebaiknya juga tidak masuk: status promo, nama karyawan yang menginput, nomor rak, dan nama pemasok yang bisa berganti tahun depan. Semua itu informasi yang berubah, dan semuanya sudah punya tempat sendiri di data produk atau data transaksi. Aturan penyaringnya cuma satu pertanyaan: kalau hal ini berubah besok, apakah barangnya masih barang yang sama? Kalau jawabannya ya, hal itu tidak boleh ada di dalam SKU.
Contoh Penyusunan SKU untuk Toko Kelontong dan untuk Kafe
Sekarang bagian yang paling gampang ditiru. Semua kode di bawah ini adalah contoh ilustrasi dengan pola KAT-MRK-VAR yang sudah dijelaskan di atas, bukan standar resmi. Silakan ganti singkatannya sesuai barang yang benar-benar Anda jual.
Untuk toko kelontong, kategori biasanya mengikuti cara Anda menata rak. Ini membuat kode gampang dihafal kasir, karena urutannya sama dengan urutan barang di toko.
| Barang | Kategori | Merek atau Pemasok | Varian atau Ukuran | SKU (Ilustrasi) |
|---|---|---|---|---|
| Mie instan goreng | MIE | IDM | GRG | MIE-IDM-GRG |
| Mie instan kuah soto | MIE | IDM | SOT | MIE-IDM-SOT |
| Air mineral botol 600 ml | MNM | AQA | 600 | MNM-AQA-600 |
| Air mineral galon isi ulang | MNM | AQA | GLN | MNM-AQA-GLN |
| Beras kemasan 5 kg | BRS | RMS | 5KG | BRS-RMS-5KG |
| Beras kemasan 1 kg | BRS | RMS | 1KG | BRS-RMS-1KG |
| Gula pasir curah timbang 1 kg | GUL | CUR | 1KG | GUL-CUR-1KG |
| Telur ayam curah per kilogram | TLR | CUR | 1KG | TLR-CUR-1KG |
| Sabun mandi batang | SBN | LFB | BTG | SBN-LFB-BTG |
Perhatikan dua hal di tabel itu. Beras 1 kg dan 5 kg dipisah karena harga dan stoknya memang terpisah, sementara barang curah tanpa merek memakai kode CUR supaya polanya tetap tiga segmen dan tidak ada kode cacat yang cuma punya dua segmen.
Untuk kafe, ada satu lapisan tambahan yang sering dilupakan: barang yang Anda jual dan bahan yang Anda pakai adalah dua dunia berbeda. Segelas kopi susu adalah item jual, sedangkan biji kopi dan susu adalah bahan baku yang stoknya ikut berkurang setiap gelas terjual. Keduanya butuh SKU, tapi kategorinya jangan dicampur.
| Item | Kategori | Kode Kedua | Varian atau Ukuran | SKU (Ilustrasi) |
|---|---|---|---|---|
| Kopi susu gula aren reguler | KOP | GAR | REG | KOP-GAR-REG |
| Kopi susu gula aren large | KOP | GAR | LRG | KOP-GAR-LRG |
| Americano panas | KOP | AMR | HOT | KOP-AMR-HOT |
| Americano dingin | KOP | AMR | ICE | KOP-AMR-ICE |
| Matcha latte reguler | NKP | MCH | REG | NKP-MCH-REG |
| Croissant satuan | MKN | CRS | PCS | MKN-CRS-PCS |
| Tambahan satu shot espresso | TOP | ESP | 1SH | TOP-ESP-1SH |
| Biji kopi arabika kemasan 1 kg | BHN | ARB | 1KG | BHN-ARB-1KG |
| Susu UHT full cream 1 liter | BHN | UHT | 1LT | BHN-UHT-1LT |
Kategori BHN khusus untuk bahan baku yang tidak pernah muncul di layar kasir, TOP untuk tambahan yang dijual terpisah, dan sisanya item menu. Pemisahan ini membuat laporan Anda bisa menjawab dua pertanyaan berbeda tanpa saling mengotori: menu mana yang paling laku, dan bahan mana yang paling cepat habis. Konsep persediaan di baliknya kami bahas lebih umum di artikel inventory adalah, dan di kafe konsep itu berlaku di dua level sekaligus.
Di Kasirnesia, kode SKU tampil sebagai label kecil di setiap kartu menu, dan kolom pencarian di halaman Manajemen Menu menerima nama menu maupun SKU. Pada akun demo di bawah, enam menu kafe diberi kode berurutan M-001 sampai M-006, contoh format paling sederhana yang tetap unik.

Sumber: tangkapan layar aplikasi Kasirnesia dengan akun demo kafe fiktif Kopi Senja, diambil 19 Oktober 2026. Angka di layar adalah data contoh.
7 Kesalahan Umum yang Membuat Daftar SKU Berantakan
Kesalahan pertama adalah memakai nomor urut sebagai SKU. Barang pertama dapat kode 1, barang kedua dapat kode 2, dan seterusnya. Kode seperti ini tidak memberi informasi apa pun, tidak bisa ditebak, dan kacau begitu ada barang yang dihapus lalu nomornya dipakai ulang untuk barang lain.
Kesalahan kedua adalah panjang segmen yang tidak konsisten. Hari ini Anda menulis MIE-IDM-GRG, minggu depan MI-INDOMIE-GORENG. Dua-duanya bisa dibaca manusia, tapi tidak ada satu pun yang bisa diurutkan atau dicari secara massal. Konsistensi lebih berharga daripada kepintaran singkatan.
Kesalahan ketiga adalah memakai karakter bermasalah. Spasi, garis miring, koma, tanda kutip, dan tanda tambah sering merusak data saat diekspor ke CSV atau dipindahkan antar sistem. Angka nol di depan juga berbahaya, karena spreadsheet sering diam-diam menghapusnya sehingga 007 berubah jadi 7 dan kode Anda tidak cocok lagi dengan yang ada di aplikasi kasir.
Kesalahan keempat adalah satu barang punya dua SKU. Ini biasanya terjadi karena barang yang sama diinput ulang oleh orang berbeda dengan ejaan berbeda. Akibatnya stok terlihat lebih sedikit dari kenyataan di satu kode dan menumpuk di kode lain, dan selisih yang muncul saat hitung fisik sering salah dituduh sebagai kehilangan barang. Padahal penyebabnya cuma duplikasi data, bukan susut nyata seperti yang kami bahas di artikel shrinkage.
Kesalahan kelima adalah kebalikannya, dua barang berbeda dipaksa berbagi satu SKU. Paling sering terjadi pada varian ukuran yang digabung supaya daftar produk terlihat ringkas. Hasilnya, Anda tidak pernah tahu ukuran mana yang sebenarnya laku, dan angka stok gabungan itu tidak bisa dipakai untuk memesan ulang.
Kesalahan keenam adalah menyalin barcode pabrik mentah-mentah ke kolom SKU. Sekilas praktis, tapi angka 13 digit itu tidak bisa ditebak siapa pun, tidak bisa dikelompokkan per kategori, dan tidak tersedia untuk barang curah atau racikan yang justru paling butuh kode. Simpan barcode di kolom barcode, dan biarkan SKU tetap jadi kode Anda sendiri.
Kesalahan ketujuh adalah menghapus SKU lama saat barang berhenti dijual. Menghapus berarti memutus riwayat penjualan, dan laporan tahun lalu bisa kehilangan barisnya. Yang benar adalah menonaktifkan atau mengarsipkan, supaya barang itu tidak muncul lagi di layar kasir tapi datanya tetap utuh saat Anda menengok ke belakang.
Benchmark: Kalau daftar produk Anda punya lebih dari 5 persen baris yang namanya mirip satu sama lain, atau kalau Anda pernah menemukan dua baris dengan nama sama persis, daftar itu sudah butuh dirapikan sekarang, bukan nanti. Semakin lama ditunda, semakin banyak riwayat transaksi yang menempel pada kode yang salah.
Cara Migrasi Kalau SKU Anda Terlanjur Kacau
Kabar baiknya, memperbaiki SKU yang kacau tidak menuntut Anda mengulang semuanya dari nol. Yang menentukan berhasil atau tidak bukan kecepatan, tapi urutan. Jangan pernah menimpa kode lama langsung di sistem tanpa peta terjemahan, karena begitu ditimpa, Anda kehilangan kemampuan menelusuri transaksi lama.

Langkah pertama, ekspor seluruh daftar produk ke spreadsheet. Tambahkan dua kolom baru bernama sku_lama dan sku_baru. Kolom sku_lama diisi apa adanya, sekacau apa pun isinya, karena itu jembatan Anda ke data historis.
Langkah kedua, bersihkan dulu sebelum menomori ulang. Tandai baris yang duplikat, baris yang barangnya sudah lama tidak dijual, dan baris yang namanya tidak jelas maksudnya. Menomori ulang daftar yang masih kotor cuma memindahkan kekacauan ke format yang lebih rapi.
Langkah ketiga, susun aturan format Anda dan tulis daftar kode kategorinya lebih dulu, sebelum menyentuh satu pun baris produk. Kategori adalah tulang punggungnya, dan mengubah kode kategori di tengah jalan berarti mengulang pekerjaan.
Langkah keempat, isi kolom sku_baru satu kategori dalam satu waktu. Migrasi menyeluruh dalam satu malam terdengar efisien, tapi kalau ada yang salah Anda tidak akan tahu di bagian mana. Satu kategori per sesi membuat kesalahan gampang dilacak dan gampang dibatalkan.
| SKU Lama (Ilustrasi) | Nama Barang | SKU Baru (Ilustrasi) | Perlakuan Kode Lama |
|---|---|---|---|
| 12 | Indomie goreng | MIE-IDM-GRG | Diarsipkan, tidak dihapus |
| indomie grg | Indomie goreng | MIE-IDM-GRG | Digabung karena duplikat |
| BERAS5 | Beras kemasan 5 kg | BRS-RMS-5KG | Diarsipkan, tidak dihapus |
| beras 1kg 13000 | Beras kemasan 1 kg | BRS-RMS-1KG | Diarsipkan, harga dikeluarkan dari kode |
| kopi aren | Kopi susu gula aren reguler | KOP-GAR-REG | Dipecah, varian large dibuat baru |
Langkah kelima, jalankan perubahan di luar jam ramai, idealnya setelah tutup toko. Setelah satu kategori selesai dipindahkan, langsung lakukan hitung fisik khusus kategori itu supaya angka stoknya benar sejak kode barunya lahir. Panduan urutannya ada di artikel cara stok opname, dan momen migrasi adalah alasan paling sah untuk melakukannya di luar jadwal rutin.
Langkah keenam, cetak ulang label rak untuk kategori yang sudah selesai, lalu cabut label lamanya di hari yang sama. Dua versi label yang menempel bersamaan di rak yang sama adalah sumber kesalahan input yang paling sering terjadi selama masa transisi.
Langkah ketujuh, simpan peta sku_lama ke sku_baru itu setidaknya sampai satu periode pembukuan penuh berlalu. Suatu saat Anda akan membuka laporan lama dan menemukan kode yang sudah tidak dikenali sistem, dan peta itu yang menyelamatkan Anda dari menebak-nebak.
Kalau Anda mengerjakan ini sambil mencari aplikasi yang menyediakan kolom SKU, kolom barcode, dan kategori produk sekaligus, daftar kemampuan Kasirnesia bisa dilihat di halaman fitur. Kami tidak menjanjikan data Anda otomatis rapi, karena kerapian kode tetap keputusan Anda, tapi Anda bisa mencoba menyusun sepuluh SKU pertama di paket gratis sebelum memutuskan memindahkan seluruh daftar produk.
FAQ: Pertanyaan Umum seputar SKU Produk
Apa itu SKU produk?
SKU produk adalah kode internal yang dibuat sendiri oleh sebuah toko untuk menandai setiap jenis barang yang dijual atau disimpan. SKU singkatan dari Stock Keeping Unit. Fungsinya bukan untuk dibaca pembeli, melainkan supaya kasir, catatan stok, dan laporan penjualan Anda selalu menunjuk ke barang yang sama persis tanpa salah tafsir.
Apa beda SKU dan barcode?
SKU adalah kode internal yang Anda buat sendiri dan hanya berlaku di dalam toko Anda, sedangkan barcode ritel membawa nomor standar global yang diterbitkan lewat sistem GS1 dan berlaku sama di semua toko di dunia. GS1 US menjelaskan bahwa dua peritel bisa menjual barang yang sama dengan nomor UPC identik, tapi keduanya tetap memakai nomor SKU masing-masing. Artinya barcode menjawab pertanyaan barang apa ini secara global, sementara SKU menjawab pertanyaan barang mana ini di gudang dan rak saya.
Berapa karakter idealnya sebuah SKU?
Tidak ada standar resmi karena SKU memang kode internal, tapi rentang yang nyaman dipakai toko kecil biasanya 8 sampai 14 karakter. Kalau terlalu pendek, kode jadi ambigu dan gampang bentrok saat barang bertambah. Kalau terlalu panjang, kasir malas mengetiknya dan label rak jadi sulit dibaca dari jarak satu meter.
Apakah setiap varian ukuran perlu SKU sendiri?
Ya, kalau varian itu punya harga jual berbeda, dihitung stoknya secara terpisah, atau dipesan ke pemasok sebagai item berbeda. Beras kemasan 1 kg dan 5 kg adalah dua SKU, begitu juga kopi ukuran reguler dan large di kafe. Kalau digabung jadi satu SKU, angka stok dan laporan barang terlaris Anda akan salah sejak hari pertama.
Kenapa harga dan tanggal tidak boleh dimasukkan ke dalam SKU?
Karena SKU seharusnya stabil seumur hidup produk, sedangkan harga dan tanggal berubah terus. Kalau harga ikut masuk ke dalam kode, setiap kali harga naik Anda terpaksa membuat SKU baru, dan riwayat penjualan barang itu pecah menjadi beberapa baris yang tidak bisa dijumlahkan. Informasi yang berubah seperti harga, tanggal masuk, dan nomor batch sebaiknya disimpan di kolom terpisah, bukan ditempelkan ke dalam kode.
Bagaimana cara merapikan SKU yang sudah terlanjur berantakan?
Jangan menimpa kode lama langsung di sistem. Ekspor dulu seluruh daftar produk ke spreadsheet, buat kolom sku_lama dan sku_baru sebagai peta terjemahan, lalu migrasikan satu kategori dalam satu waktu di luar jam ramai. Setelah satu kategori selesai, lakukan stok opname khusus kategori itu dan cetak ulang label raknya sebelum melanjutkan ke kategori berikutnya.
Bolehkah nomor barcode pabrik dipakai langsung sebagai SKU?
Sebaiknya tidak. Angka barcode 13 digit tidak bisa ditebak, tidak bisa dikelompokkan per kategori, dan tidak tersedia untuk barang curah atau racikan yang justru paling butuh kode. Simpan nomor barcode di kolom barcode, lalu isi kolom SKU dengan kode buatan Anda sendiri untuk semua barang, sehingga kasir tetap bisa memindai kemasan bermerek sekaligus mengetik kode pendek untuk barang tanpa kemasan pabrik.
Masih bingung menentukan format SKU yang pas untuk jenis barang di toko Anda? Chat tim Kasirnesia lewat WhatsApp di wa.me/6285136212005, kirimkan sepuluh barang paling laku Anda, dan kami bantu menyusun pola kodenya.

