Dropship adalah cara berjualan di mana Anda memasarkan barang milik supplier, lalu supplier itu yang mengemas dan mengirim barangnya langsung ke pembeli atas nama toko Anda, sehingga Anda tidak pernah menyimpan stok sendiri. Model ini banyak dipilih pemilik usaha kecil karena modal barangnya nol dan bisa dimulai dari rumah dengan satu ponsel, tanpa gudang dan tanpa karyawan.
Yang jarang dijelaskan di konten promosi adalah sisi sebaliknya. Karena Anda tidak memegang barang, Anda juga tidak memegang kendali atas dua hal yang paling menentukan kepuasan pembeli, yaitu ketersediaan stok dan kecepatan kirim. Margin dropship umumnya tipis, dan setiap komplain tetap masuk ke chat toko Anda, bukan ke supplier. Artikel ini membahas cara kerjanya langkah demi langkah, modal yang benar-benar dibutuhkan, cara menguji supplier, cara menghitung margin dengan jujur, risiko nyatanya, serta kewajiban pajak dan izin yang tetap berlaku.
Daftar Isi
- Apa Itu Dropship dan Apa yang Sebenarnya Anda Jual
- Beda Dropship dengan Reseller, Grosir, dan Konsinyasi
- Cara Kerja Dropship Langkah demi Langkah
- Modal yang Benar-Benar Dibutuhkan dan Cara Menguji Supplier
- Menghitung Margin Dropship dengan Angka yang Jujur
- Risiko Nyata Dropship yang Jarang Dibahas di Depan
- Pajak, Izin, dan Kapan Waktunya Naik Kelas ke Stok Sendiri
- FAQ: Pertanyaan Umum seputar Dropship
Apa Itu Dropship dan Apa yang Sebenarnya Anda Jual
Dalam dropship ada tiga pihak. Ada pembeli yang memesan di toko Anda, ada Anda sebagai penjual yang menerima uang dan menerbitkan pesanan, dan ada supplier yang menyimpan barang lalu mengirimkannya. Barang itu tidak pernah mampir ke rumah Anda. Nama pengirim di paket biasanya tetap nama toko Anda, itulah sebabnya pembeli merasa berurusan dengan Anda dari awal sampai akhir.
Kalau ditelusuri lebih jujur, yang Anda jual dalam dropship bukan barangnya. Barang itu sudah ada, sudah difoto, dan sudah dijual banyak orang lain juga. Yang Anda jual adalah kemampuan menemukan pembeli, menjelaskan produk dengan bahasa yang dimengerti calon pembeli, membalas chat dengan cepat, dan menyelesaikan masalah saat kiriman bermasalah. Itu pekerjaan pemasaran dan pelayanan, bukan pekerjaan berdagang barang dalam arti klasik.
Cara pandang ini penting karena menentukan ke mana usaha Anda diarahkan. Kalau Anda menganggap dropship sebagai jalan pintas mendapat barang murah, Anda akan kalah cepat oleh penjual yang membeli stok dalam jumlah besar dan punya harga beli lebih rendah. Kalau Anda menganggapnya sebagai cara menguji permintaan pasar tanpa mengunci uang di stok, dropship jadi alat yang masuk akal untuk tahap awal.
Dropship juga sering dipakai pemilik usaha yang sudah punya toko fisik. Sebuah toko kelontong misalnya bisa menawarkan barang yang tidak muat di raknya, seperti perabot besar atau peralatan rumah tangga, lewat katalog dropship dari supplier langganannya. Toko tetap dapat selisih harga tanpa harus menyediakan tempat dan tanpa uang mengendap di barang yang belum tentu laku bulan ini.
Poin Penting: Dropship menghilangkan risiko stok, bukan risiko usaha. Risikonya berpindah bentuk, dari uang yang mengendap di gudang menjadi ketergantungan penuh pada kinerja pihak lain yang tidak bisa Anda awasi langsung.
Beda Dropship dengan Reseller, Grosir, dan Konsinyasi
Empat istilah ini sering dipakai bergantian di grup jual beli, padahal alur uang dan alur barangnya berbeda. Reseller membeli barang lebih dulu, menyimpannya, lalu menjual dan mengirim sendiri. Karena membeli dalam jumlah, reseller biasanya mendapat harga lebih murah, dan itulah sumber marginnya yang lebih lega dibanding dropshipper.
Grosir berada satu tingkat di atasnya. Pedagang grosir menjual dalam jumlah besar ke pengecer dengan harga per unit yang lebih rendah, dan keuntungannya datang dari volume, bukan dari selisih besar per barang. Kalau Anda ingin memahami posisi grosir di rantai distribusi sebelum menentukan mau berdiri di mana, penjelasan lengkapnya sudah kami tulis di grosir adalah.
Yang paling sering tertukar dengan dropship adalah konsinyasi, karena dua-duanya berarti menjual barang milik orang lain. Bedanya jelas kalau dilihat dari letak barangnya. Dalam konsinyasi, barang dititipkan secara fisik di toko Anda, pembeli mengambilnya dari rak Anda, dan Anda baru membayar pemilik barang setelah barang itu laku. Dalam dropship, barang tidak pernah ada di tempat Anda sama sekali dan pengiriman dilakukan supplier. Skema titip jual ini kami bahas terpisah di konsinyasi.
| Model | Siapa yang menyimpan barang | Modal awal | Penanggung risiko barang tidak laku | Margin per unit |
|---|---|---|---|---|
| Dropship | Supplier | Paling kecil, tidak beli stok | Supplier | Paling tipis |
| Reseller | Anda | Sedang, harus kulakan dulu | Anda | Sedang |
| Grosir | Anda, dalam jumlah besar | Paling besar | Anda | Tipis per unit, ditutup volume |
| Konsinyasi | Anda, tapi barang milik pemasok | Kecil, tanpa beli putus | Pemilik barang | Sesuai bagi hasil di perjanjian |
Perbedaan ini bukan sekadar istilah. Kalau ada pembeli komplain barang rusak, pada konsinyasi Anda bisa memeriksa barangnya langsung karena ada di tangan Anda. Pada dropship, Anda hanya bisa meneruskan foto dari pembeli ke supplier lalu menunggu jawaban. Waktu tunggu itulah yang sering membuat pembeli marah kepada toko Anda, bukan kepada supplier yang tidak mereka kenal.
Cara Kerja Dropship Langkah demi Langkah
Alurnya sebenarnya sederhana, tapi setiap langkah punya titik yang bisa gagal. Berikut urutan yang biasa terjadi pada satu pesanan.
- Anda memilih supplier dan produk, lalu menyepakati harga khusus dropship, siapa yang menanggung ongkos kirim, dan bagaimana prosedur retur.
- Anda memasang produk di toko online Anda, entah di marketplace, media sosial, atau katalog WhatsApp, lengkap dengan foto, deskripsi, dan harga jual versi Anda.
- Pembeli memesan dan membayar ke Anda, bukan ke supplier. Di titik ini uang masuk ke rekening Anda atau ditahan dulu oleh marketplace sampai pesanan selesai.
- Anda meneruskan pesanan ke supplier berisi nama produk, jumlah, nama penerima, alamat lengkap, dan catatan bahwa paket dikirim atas nama toko Anda.
- Anda membayar harga supplier, dan selisih antara harga jual dengan harga supplier itulah calon keuntungan Anda sebelum dipotong biaya lain.
- Supplier mengemas dan mengirim barang, lalu memberikan nomor resi kepada Anda untuk diteruskan ke pembeli dan diinput ke sistem marketplace.
- Anda mengawal sampai pesanan selesai, membalas pertanyaan pembeli, memantau resi, dan mengurus retur atau komplain kalau ada yang tidak beres.
Titik gagal paling umum ada di langkah tiga sampai lima. Stok supplier bisa saja sudah habis padahal katalognya belum diperbarui, sehingga pesanan yang sudah dibayar pembeli terpaksa dibatalkan. Ada juga jeda dana kalau marketplace menahan pembayaran sampai barang diterima, sedangkan supplier minta dibayar di muka. Jeda ini yang membuat dropship tetap butuh uang tunai walau tidak butuh modal stok.
Kalau Anda berjualan di marketplace besar, urutan di atas bercampur dengan aturan platform soal batas waktu proses pesanan dan penilaian toko. Langkah teknis membuka toko, mengatur produk, dan mengelola pesanan sudah kami rinci di panduan cara jualan di Shopee, jadi di sini kami fokus ke sisi model bisnisnya.
Modal yang Benar-Benar Dibutuhkan dan Cara Menguji Supplier
Modal barang memang nol, tapi menyebut dropship sebagai usaha tanpa modal itu tidak jujur. Ada empat pos yang tetap perlu uang. Pertama, dana talangan untuk menutup pesanan yang harus dibayar ke supplier sebelum dana dari marketplace cair. Kedua, biaya konten, karena foto dan video pinjaman dari supplier dipakai puluhan penjual lain sehingga toko Anda sulit terlihat berbeda. Ketiga, biaya promosi kalau Anda memakai iklan berbayar. Keempat, cadangan untuk retur, selisih ongkir, dan ganti rugi ke pembeli yang kecewa.
Besarnya berbeda untuk setiap orang, jadi hitung dari rencana Anda sendiri. Kalau Anda menargetkan lima pesanan sehari dengan harga beli sekitar Rp 55.000 per barang, dana talangan yang perlu tersedia setidaknya senilai beberapa hari perputaran, bukan satu hari saja. Cara menghitung kebutuhan dana awal yang lebih rapi bisa dipakai dari kerangka yang sama dengan usaha lain, dan angka Anda sendiri yang harus dipakai, bukan angka contoh dari internet.
Setelah modal, urusan berikutnya adalah supplier. Ini bagian yang paling menentukan, karena dalam dropship reputasi toko Anda dititipkan kepada orang lain. Cari calon supplier dari beberapa jalur sekaligus, misalnya pusat grosir di kota Anda, pameran dagang, produsen lokal yang membuka layanan dropship, atau penjual besar di marketplace yang menyediakan skema ini secara resmi. Kriteria umum menilai pemasok sudah kami uraikan di supplier adalah, dan kriteria itu tetap berlaku di sini, ditambah beberapa syarat khusus dropship.
Sebelum memasang katalog seorang supplier di toko Anda, uji dulu dengan urutan berikut.
- Pesan satu barang untuk diri sendiri dengan alamat rumah Anda, bayar seperti pembeli biasa, dan hitung berapa jam dari pesanan sampai nomor resi terbit.
- Periksa kualitas barang dan kemasannya saat sampai, foto kondisi aslinya, lalu bandingkan dengan foto katalog yang mereka berikan.
- Uji respons saat ada masalah dengan menanyakan prosedur retur secara rinci, misalnya siapa menanggung ongkos kirim balik dan berapa lama penggantian diproses.
- Minta kepastian pembaruan stok, apakah ada daftar stok harian, grup khusus dropshipper, atau pemberitahuan otomatis saat suatu barang kosong.
- Coba pesan di jam sibuk, misalnya menjelang tanggal kembar atau akhir pekan, karena supplier yang cepat di hari sepi belum tentu cepat saat pesanan menumpuk.
- Siapkan supplier cadangan untuk produk yang paling laku, dan pastikan cadangan itu pernah Anda pakai sungguhan, bukan sekadar disimpan nomornya.
Pro Tip: Simpan bukti percakapan kesepakatan harga, ongkir, dan prosedur retur dalam satu tempat, misalnya catatan atau berkas terpisah per supplier. Saat terjadi selisih harga di kemudian hari, bukti tertulis itu jauh lebih berguna daripada mengingat-ingat isi chat lama.
Menghitung Margin Dropship dengan Angka yang Jujur
Banyak orang menghitung untung dropship dengan cara paling sederhana, yaitu harga jual dikurangi harga supplier. Cara itu melewatkan potongan yang justru menentukan, seperti biaya layanan marketplace, potongan program promosi dan gratis ongkir, biaya iklan, serta kerugian dari pesanan yang batal. Besaran biaya administrasi marketplace berbeda antar platform, antar kategori produk, dan berubah dari waktu ke waktu, jadi cek sendiri daftar biaya terbaru di halaman resmi platform tempat Anda berjualan sebelum menetapkan harga.
Berikut contoh ilustrasi untuk satu produk. Semua angka di tabel ini adalah contoh ilustrasi, bukan tarif resmi platform mana pun, dan hanya dipakai untuk menunjukkan cara menghitungnya.
| Komponen (contoh ilustrasi) | Skenario A, harga wajar | Skenario B, ikut perang harga |
|---|---|---|
| Harga jual ke pembeli | Rp 79.000 | Rp 69.000 |
| Harga beli dari supplier | Rp 55.000 | Rp 55.000 |
| Selisih kotor | Rp 24.000 | Rp 14.000 |
| Potongan layanan platform dan program promo | Rp 9.500 | Rp 9.500 |
| Biaya iklan per pesanan | Rp 4.000 | Rp 4.000 |
| Laba bersih per pesanan | Rp 10.500 | Rp 500 |
| Margin bersih terhadap harga jual | 13,3 persen | 0,7 persen |
Perhatikan Skenario B. Menurunkan harga Rp 10.000 saja membuat laba bersih per pesanan runtuh dari Rp 10.500 menjadi Rp 500, karena biaya platform dan iklan tidak ikut turun. Dengan laba Rp 10.500 per pesanan pada Skenario A, seratus pesanan sebulan menghasilkan laba bersih Rp 1.050.000. Untuk mencapai laba bersih Rp 3.000.000 sebulan, Anda perlu sekitar 286 pesanan, dan itu berarti melayani hampir sepuluh pesanan setiap hari tanpa libur.
Kami sengaja menaruh angka ini di depan supaya harapannya realistis. Margin dropship memang tipis karena Anda membeli satuan, bukan grosir, dan karena produk yang sama dijual banyak toko lain sehingga harga mudah saling tekan. Kalau Anda ingin menyusun harga jual dengan cara yang lebih tertata, termasuk memasukkan biaya operasional dan target laba, langkah-langkahnya ada di cara menentukan harga jual.
Satu kebiasaan yang menolong adalah mencatat laba per pesanan, bukan hanya omzet harian. Omzet besar dengan margin nol tipis itu melelahkan dan menipu. Pencatatan per transaksi memudahkan Anda melihat produk mana yang sebenarnya menghidupi toko dan produk mana yang hanya menambah pekerjaan.
Risiko Nyata Dropship yang Jarang Dibahas di Depan
Risiko pertama adalah stok supplier habis mendadak. Pesanan sudah masuk, pembeli sudah membayar, lalu supplier memberi kabar barangnya kosong. Anda hanya punya dua pilihan buruk, yaitu membatalkan pesanan atau mencari barang pengganti dengan harga lebih mahal. Pembatalan yang berulang menurunkan penilaian toko di marketplace, dan penilaian yang jatuh membuat produk Anda makin jarang muncul di hasil pencarian.
Risiko kedua adalah komplain pengiriman yang seluruhnya jadi tanggung jawab Anda. Di mata pembeli dan di mata hukum, penjualnya adalah toko Anda. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen menyatakan bahwa pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan atau kerugian konsumen, dan pemberian ganti rugi itu dilaksanakan dalam tenggang waktu tujuh hari setelah tanggal transaksi (UU 8/1999 Pasal 19). Anda tidak bisa menunjuk supplier di depan pembeli dan menganggap urusan selesai.
Risiko ketiga menyangkut akun dan rekening Anda di marketplace. Platform menilai toko dari tingkat pesanan yang diproses tepat waktu, tingkat pembatalan, dan tingkat komplain. Toko dropship yang bergantung pada supplier lambat gampang melanggar batas itu tanpa sadar, dan akibatnya bisa berupa penurunan peringkat, pembatasan fitur, penahanan pencairan dana, sampai penutupan toko. Karena aturan dan ambang batasnya berbeda tiap platform dan sering diperbarui, baca sendiri halaman kebijakan penjual di marketplace tempat Anda berjualan, jangan mengandalkan cerita di grup.
Risiko keempat lebih halus. Anda tidak memegang kendali atas mutu barang, jadi satu batch produksi yang jelek langsung menjadi masalah reputasi toko Anda. Anda juga tidak memegang data yang lengkap soal kondisi barang saat dikirim, sehingga sulit membuktikan apakah kerusakan terjadi di gudang supplier atau di jalan. Sebagian penjual mengatasinya dengan meminta supplier mengirim foto paket sebelum diserahkan ke kurir, dan kebiasaan kecil ini sering menyelamatkan saat ada sengketa.
Poin Penting: Sebelum menambah produk baru ke katalog, tanyakan pada diri sendiri satu hal, yaitu apakah Anda sanggup menjelaskan dan mempertanggungjawabkan barang itu kepada pembeli tanpa pernah memegangnya. Kalau jawabannya ragu, pesan dulu satu untuk diri sendiri.
Pajak, Izin, dan Kapan Waktunya Naik Kelas ke Stok Sendiri
Penghasilan dari dropship adalah penghasilan usaha, jadi kewajibannya sama dengan pedagang lain. Direktorat Jenderal Pajak menyatakan bahwa lewat Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2026, wajib pajak orang pribadi, perseroan perorangan yang didirikan satu orang, dan koperasi dengan omzet sampai Rp4.800.000.000 dalam satu tahun pajak dikenai Pajak Penghasilan final dengan tarif 0,5 persen sepanjang memenuhi ketentuan (siaran pers DJP). Khusus wajib pajak orang pribadi, Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2022 Pasal 60 ayat (2) menyebut bagian peredaran bruto dari usaha sampai dengan Rp500.000.000 dalam satu tahun pajak tidak dikenai Pajak Penghasilan (PP 55/2022). Rinciannya kami bahas terpisah di PPh final UMKM.
Ada satu aturan yang menyentuh langsung pedagang marketplace. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 37 Tahun 2025 menunjuk penyelenggara perdagangan melalui sistem elektronik sebagai pemungut Pajak Penghasilan Pasal 22, dengan besaran 0,5 persen dari peredaran bruto pedagang dalam negeri yang tercantum dalam dokumen tagihan, tidak termasuk PPN dan PPnBM (PMK 37/2025). Peraturan yang sama mengatur bahwa pedagang dalam negeri dengan peredaran bruto pada tahun pajak berjalan sampai dengan Rp500.000.000 harus menyampaikan surat pernyataan mengenai hal itu kepada pihak yang ditunjuk sebagai pemungut. Artinya, kalau omzet Anda masih di bawah batas tersebut tapi surat pernyataannya tidak disampaikan, potongan tetap bisa berjalan.
Soal izin, berjualan lewat marketplace atau media sosial tetap termasuk perdagangan melalui sistem elektronik. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2023 menyatakan bahwa pelaku usaha wajib memiliki Perizinan Berusaha dalam melakukan kegiatan usaha di sektor perdagangan sesuai ketentuan perizinan berusaha berbasis risiko, dan penerbitan Perizinan Berusaha bidang perdagangan melalui sistem elektronik tidak dipungut biaya (Permendag 31/2023). Karena tidak ada biaya penerbitan, menundanya sampai usaha membesar tidak memberi penghematan apa pun. Kasirnesia adalah aplikasi kasir, bukan konsultan pajak atau hukum, jadi untuk kasus khusus sebaiknya tanyakan ke petugas pajak atau konsultan yang berwenang.
Kapan sebaiknya naik kelas ke stok sendiri? Tandanya biasanya muncul bersamaan. Ada satu atau dua produk yang pesanannya rutin setiap minggu, bukan musiman. Margin per pesanan makin tergerus karena Anda harus beriklan untuk bersaing dengan penjual lain yang menjual barang identik. Komplain yang masuk hampir selalu soal lamanya pengiriman, bukan soal produknya. Dan Anda mulai kehilangan penjualan karena harus menolak pesanan saat stok supplier kosong.
Kalau empat tanda itu terjadi, membeli stok terbatas untuk produk terlaris biasanya lebih menguntungkan daripada bertahan penuh di dropship. Harga beli turun karena Anda membeli dalam jumlah, waktu kirim lebih cepat karena barang ada di tangan Anda, dan mutu bisa diperiksa sebelum dikirim. Mulai dari satu produk saja, catat perbandingannya selama satu sampai dua bulan, lalu putuskan berdasarkan angka, bukan berdasarkan perasaan. Begitu ada stok fisik, pencatatan barang masuk, barang keluar, dan penjualan harian jadi kebutuhan baru, dan di situlah aplikasi kasir mulai berguna. Anda bisa melihat cakupan fiturnya di halaman fitur atau mencoba dulu lewat paket gratis sebelum memutuskan berlangganan.
FAQ: Pertanyaan Umum seputar Dropship
Apa itu dropship? Dropship adalah cara berjualan di mana Anda memasarkan barang milik supplier, lalu supplier itu yang mengemas dan mengirim barangnya langsung ke pembeli atas nama toko Anda. Anda tidak pernah menyimpan stok dan tidak menyentuh barangnya. Yang Anda kerjakan adalah mencari pembeli, mengurus pesanan, dan melayani pertanyaan serta komplain.
Apa beda dropship dan reseller? Reseller membeli barang dari supplier lebih dulu, menyimpannya, lalu menjual dan mengirim sendiri ke pembeli. Dropshipper tidak membeli apa pun sebelum ada pesanan masuk, jadi modal awalnya jauh lebih kecil tapi kendali atas stok dan kecepatan kirim ada di tangan supplier. Reseller biasanya mendapat harga beli lebih murah karena membeli dalam jumlah, sehingga marginnya lebih lega daripada dropshipper.
Berapa modal yang dibutuhkan untuk memulai dropship? Modal barangnya nol karena Anda baru membayar supplier setelah pembeli membayar Anda. Yang tetap perlu disiapkan adalah dana talangan untuk menutup pesanan sebelum dana marketplace cair, biaya foto atau konten produk, biaya iklan kalau Anda beriklan, dan cadangan untuk retur atau ganti rugi. Jumlahnya berbeda per orang, jadi hitung dari rencana jumlah pesanan Anda sendiri, bukan dari angka orang lain.
Apakah dropship kena pajak? Penghasilan dari dropship adalah penghasilan usaha, jadi kewajiban pajaknya sama dengan usaha dagang lain. Wajib pajak dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp4,8 miliar setahun dapat dikenai PPh final 0,5 persen, dan untuk wajib pajak orang pribadi bagian peredaran bruto sampai dengan Rp500 juta dalam satu tahun pajak tidak dikenai PPh. Sejak PMK 37 Tahun 2025 berlaku, marketplace yang ditunjuk juga memungut PPh Pasal 22 sebesar 0,5 persen dari peredaran bruto pedagang dalam negeri.
Apa risiko terbesar dropship? Risiko terbesarnya adalah Anda menanggung akibat dari hal yang tidak Anda kendalikan. Stok supplier bisa habis setelah pesanan masuk, pengiriman bisa terlambat atau salah barang, dan semua komplain tetap masuk ke toko Anda. Pembatalan dan keterlambatan yang berulang juga bisa menurunkan penilaian toko Anda di marketplace sampai akun dibatasi.
Kapan sebaiknya berhenti dropship dan mulai stok sendiri? Saat ada satu atau dua produk yang pesanannya sudah rutin setiap minggu, marginnya tergerus biaya iklan, dan keluhan yang muncul selalu soal kecepatan kirim. Pada titik itu membeli stok dalam jumlah terbatas biasanya menurunkan harga beli dan mempercepat pengiriman. Mulailah dari satu produk terlaris saja, jangan langsung memindahkan seluruh katalog ke stok sendiri.
Masih ragu apakah dropship cocok untuk usaha Anda, atau bingung menghitung margin setelah semua potongan? Chat tim Kasirnesia lewat WhatsApp di wa.me/6285136212005, kami bantu petakan angkanya sesuai kondisi toko Anda.

