Planogram adalah peta penataan rak yang menentukan produk apa diletakkan di rak mana, di ketinggian berapa, dan berapa banyak muka produk yang menghadap ke pembeli. Istilahnya terdengar seperti urusan minimarket waralaba besar dengan tim merchandiser sendiri, padahal toko kelontong dengan tiga rak pun sudah punya planogram. Bedanya, planogram toko kecil biasanya tidak tertulis dan cuma ada di kepala pemiliknya.
Di situlah masalahnya. Susunan rak yang cuma ada di kepala tidak bisa diwariskan ke karyawan, tidak bisa dievaluasi saat penjualan melambat, dan tidak bisa dikembalikan seperti semula setelah tiga bulan diacak-acak oleh restock yang buru-buru. Artikel ini membahas prinsip dasar penataan rak yang berlaku di toko Indonesia, cara membuat planogram sederhana tanpa membeli software mahal, cara menerapkannya ke karyawan supaya rak tetap rapi, dan cara mengukur hasilnya dengan data penjualan per produk yang sudah Anda punya.
Daftar Isi
- Apa Itu Planogram dan Kenapa Susunan Rak Menentukan Omzet Toko
- Enam Prinsip Dasar Planogram yang Berlaku di Toko Kecil Indonesia
- Penataan Vertikal per Merek atau Horizontal per Kategori
- Cara Membuat Planogram Sederhana Tanpa Software Mahal
- Menerapkan Planogram ke Karyawan supaya Rak Tetap Rapi Tiap Hari
- Mengevaluasi Planogram Pakai Data Penjualan per Produk
- Kesalahan Umum saat Menata Rak yang Membuat Planogram Gagal
- FAQ: Pertanyaan Umum seputar Planogram
Apa Itu Planogram dan Kenapa Susunan Rak Menentukan Omzet Toko
Planogram, kadang disingkat POG, pada dasarnya adalah dokumen yang menjawab satu pertanyaan sederhana: kalau pembeli berdiri di depan rak ini, apa yang dia lihat lebih dulu. Isinya bisa berupa gambar teknis buatan software retail seharga jutaan rupiah, bisa juga selembar foto rak yang dicoret spidol lalu difoto ulang. Yang membuat sesuatu disebut planogram bukan kecanggihan alatnya, tapi kenyataan bahwa susunan rak itu jadi keputusan tertulis, bukan kebiasaan yang berubah tergantung siapa yang kebetulan merapikan rak sore itu.
Kenapa ini penting untuk toko kecil. Rak adalah aset paling mahal yang Anda punya per meter persegi. Setiap sentimeter rak sudah dibayar lewat sewa tempat, dan setiap produk yang menempatinya mewakili modal yang sudah keluar duluan ke supplier. Kalau produk dengan margin paling sehat tersembunyi di rak paling bawah sementara zona paling mudah terlihat diisi barang yang untungnya tipis, toko tetap ramai, kasir tetap sibuk, tapi laba bersihnya tidak ke mana-mana.
Perilaku belanja di toko kelontong dan minimarket juga membuat susunan rak jadi penentu. Sebagian besar keputusan membeli terjadi di depan rak, bukan di rumah sebelum berangkat. Pembeli biasanya datang dengan niat kategori, misalnya mau beli sabun cuci piring, lalu memutuskan merek dan ukuran dalam hitungan detik berdasarkan apa yang paling dulu terlihat dan paling mudah diraih. Produk yang tidak terlihat praktis tidak masuk pertimbangan, sebagus apa pun harganya.
Skalanya juga bukan hal kecil. Perdagangan besar dan eceran tercatat sebagai sektor UMKM terbesar di Indonesia dengan 14,44 juta unit usaha pada 2025, berdasarkan data SIDT-UMKM Kementerian UMKM yang dirangkum Kadin (kadin.id). Artinya toko Anda bersaing dengan sangat banyak toko lain yang menjual barang nyaris sama dengan harga nyaris sama. Ketika produk dan harga mirip, pengalaman berbelanja di dalam toko jadi salah satu pembeda yang masih benar-benar bisa Anda kendalikan sendiri.
Poin Penting: Planogram bukan soal membuat toko terlihat cantik. Tujuannya memastikan produk yang paling menguntungkan menempati ruang rak yang paling mudah dilihat dan diraih, lalu memastikan susunan itu bertahan sampai minggu kesepuluh, bukan cuma rapi di hari pertama.
Enam Prinsip Dasar Planogram yang Berlaku di Toko Kecil Indonesia
Prinsip penataan rak sebenarnya tidak banyak, dan hampir semuanya berangkat dari kebiasaan fisik manusia saat berbelanja. Enam prinsip berikut cukup untuk membenahi sebagian besar toko kelontong dan minimarket kecil.
Pertama, zona setinggi mata adalah zona paling laku. Pembeli memindai rak dari ketinggian pandangannya lebih dulu, baru turun ke bawah atau naik ke atas kalau tidak menemukan yang dicari. Rak toko umumnya setinggi sekitar 180 sentimeter dengan empat sampai lima tingkat, dan zona paling berharga ada di tingkat ketiga dari bawah. Angka ketinggian di tabel berikut adalah patokan kasar, sesuaikan dengan tinggi rak dan tinggi rata-rata pembeli di lingkungan toko Anda.
| Zona rak | Perkiraan tinggi dari lantai | Siapa yang paling mudah melihat | Paling cocok diisi |
|---|---|---|---|
| Zona atas | di atas 160 cm | Pembeli dewasa yang mencari dengan sengaja | Stok cadangan, kemasan besar, merek yang sudah punya nama |
| Zona mata | sekitar 130 cm sampai 160 cm | Hampir semua pembeli dewasa | Produk margin sehat, produk yang ingin didorong penjualannya |
| Zona tangan | sekitar 90 cm sampai 130 cm | Dewasa, bisa diraih tanpa membungkuk | Produk laris harian dan produk pendamping |
| Zona anak | sekitar 60 cm sampai 90 cm | Anak-anak dan pembeli yang jongkok | Jajanan anak, susu kotak, mainan kecil |
| Zona bawah | di bawah 60 cm | Perlu membungkuk lebih dulu | Barang berat dan besar seperti beras, minyak, deterjen jumbo |
Kedua, isi zona mata dengan produk yang untungnya paling sehat, bukan yang paling laku. Ini prinsip yang paling sering dibalik. Beras, minyak goreng, dan mi instan memang paling laku, tapi pembeli tetap akan mencarinya sampai ke rak bawah karena memang itu tujuan kedatangannya. Zona paling berharga sebaiknya diberikan ke produk yang butuh dorongan untuk dilirik, biasanya yang punya margin per unit lebih tebal. Kalau Anda belum tahu produk mana yang marginnya paling sehat, itu pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum menata ulang rak, bukan sesudahnya.
Ketiga, produk anak diletakkan di ketinggian anak. Jajanan, permen, susu kotak, dan mainan kecil paling efektif berada di zona 60 sampai 90 sentimeter, tinggi yang pas untuk mata anak usia sekolah dasar. Anak yang bisa melihat dan meraih sendiri produknya jauh lebih mungkin meminta ke orang tuanya dibanding produk yang tersembunyi di rak atas.
Keempat, produk impulsif ditaruh di jalur kasir. Permen, cokelat batang, korek api, baterai, tisu kecil, dan minuman dingin kemasan satuan adalah produk yang jarang direncanakan tapi sering dibeli saat menunggu giliran bayar. Area sepanjang antrean kasir sampai meja kasir adalah tempat paling wajar untuk produk seperti ini. Kalau Anda menjalankan promo bundling atau potongan harga, area kasir juga tempat yang tepat untuk memajangnya, dan cara menyusun promonya kami bahas terpisah di strategi diskon dan promo toko.
Kelima, kebutuhan pokok ditaruh di bagian belakang toko. Ini terdengar berlawanan dengan akal sehat, tapi logikanya jelas. Beras, gula, telur, minyak, dan gas adalah alasan utama orang datang. Menaruhnya di belakang memaksa pembeli melewati rak-rak lain, dan setiap rak yang dilewati adalah kesempatan produk lain untuk terlihat. Menaruh sembako tepat di pintu masuk memang mempercepat pembeli keluar, tapi juga mempercepat mereka keluar tanpa membeli apa pun selain sembako.
Keenam, barang berat dan besar selalu di rak bawah. Ini soal keselamatan sekaligus kepraktisan. Karung beras, jerigen minyak, dan galon air di rak atas berbahaya untuk staf maupun pembeli, dan merepotkan saat restock. Rak bawah juga tempat yang wajar untuk kemasan jumbo yang biasanya dibeli dengan sengaja.
Pro Tip: Sebelum menata ulang, berdirilah di pintu masuk toko Anda selama satu menit dan lihat ke depan seperti pembeli baru yang belum pernah masuk. Apa tiga hal pertama yang terlihat. Kalau jawabannya kardus stok yang belum dibongkar atau rak paling berdebu, itu prioritas pertama Anda, bukan pemindahan merek kopi.
Penataan Vertikal per Merek atau Horizontal per Kategori
Setelah zona ketinggian beres, keputusan berikutnya adalah arah penataan. Dua pilihan yang paling umum adalah penataan vertikal, yaitu satu merek atau satu sub-kategori menempati satu kolom dari rak atas sampai rak bawah, dan penataan horizontal, yaitu satu kategori menempati satu tingkat rak memanjang ke samping.
Keduanya punya konsekuensi berbeda terhadap cara pembeli memindai rak. Penataan vertikal membuat pembeli bisa berdiri di satu titik dan memindai satu kolom dari atas ke bawah tanpa berjalan. Penataan horizontal membuat pembeli berjalan menyusuri rak dan melewati lebih banyak produk, tapi pilihan dalam satu kategori jadi mudah dibandingkan berdampingan.
| Aspek | Penataan vertikal per merek | Penataan horizontal per kategori |
|---|---|---|
| Cara pembeli memindai | Berdiri di satu titik, memindai atas ke bawah | Berjalan menyusuri rak, memindai kiri ke kanan |
| Paling cocok untuk | Kategori dengan loyalitas merek kuat: rokok, susu formula, kopi sachet, popok | Kategori yang dibandingkan saat itu juga: mi instan, sabun, snack, minuman |
| Keuntungan | Merek mudah ditemukan, satu merek dapat porsi semua ketinggian | Perbandingan harga dan ukuran dalam satu kategori jadi mudah |
| Risiko | Merek yang kebagian kolom pinggir sering terlewat | Produk di tingkat paling bawah kategori itu jarang terlihat |
| Kemudahan restock | Mudah, satu merek satu kolom | Perlu disiplin, mudah tercampur antar kategori |
Untuk toko kelontong dan minimarket kecil di Indonesia, penataan horizontal per kategori biasanya lebih aman sebagai dasar, karena pembeli datang dengan niat kategori lebih dulu. Setelah itu, kategori tertentu yang loyalitas mereknya kuat bisa ditata vertikal di dalam blok kategorinya. Contohnya, blok kopi ditata horizontal sebagai satu kategori, tapi di dalam blok itu tiap merek besar menempati kolomnya sendiri dari atas ke bawah. Pendekatan campuran seperti ini lebih realistis dibanding memaksakan satu aturan untuk seluruh toko.
Satu hal yang sering terlupa, konsistensi lebih penting daripada memilih pendekatan yang paling benar secara teori. Pembeli tetap yang sudah hafal letak barang akan terganggu kalau susunan berubah tiap bulan. Pilih satu pendekatan, jalankan minimal beberapa bulan, ukur hasilnya, baru pertimbangkan perubahan besar berikutnya.
Cara Membuat Planogram Sederhana Tanpa Software Mahal
Software planogram komersial memang ada dan dipakai jaringan retail besar, tapi untuk toko dengan beberapa rak, alat yang Anda butuhkan cuma ponsel berkamera, meteran, dan spreadsheet gratis. Berikut urutan yang bisa langsung dikerjakan akhir pekan ini.
- Foto tiap rak dari depan dalam posisi lurus. Berdiri sekitar dua meter dari rak, pegang ponsel setinggi dada, ambil satu foto per rak. Foto miring akan menyulitkan Anda mengukur proporsi nanti. Beri nama file sesuai posisi rak, misalnya "Rak 1 Kiri Masuk" dan "Rak 3 Belakang".
- Ukur lebar dan tinggi tiap tingkat rak. Catat lebar rak, jumlah tingkat, dan jarak antar tingkat. Ini yang menentukan berapa muka produk yang benar-benar muat, bukan perkiraan mata.
- Gambar kerangka rak di kertas berpetak atau spreadsheet. Kalau pakai kertas berpetak, tetapkan satu kotak mewakili sepuluh sentimeter lebar rak. Kalau pakai spreadsheet, atur lebar kolom dan tinggi baris supaya selnya seragam, lalu satu baris mewakili satu tingkat rak.
- Isi tiap kotak dengan nama produk, jumlah muka produk, dan jumlah stok yang muat. Jumlah muka produk, sering disebut facing, adalah berapa banyak kemasan produk yang terlihat berjajar dari depan. Produk laris berhak dapat lebih dari satu muka supaya tidak cepat terlihat kosong.
- Cetak, tempel, dan simpan salinannya di ponsel. Satu lembar ditempel di dinding gudang atau di sisi dalam rak, satu salinan foto disimpan di ponsel semua orang yang menjaga toko.
Kolom minimum yang layak ada di spreadsheet planogram Anda kira-kira seperti ini.
| Kolom | Isi | Contoh |
|---|---|---|
| Rak | Nama atau kode rak | Rak 2 Tengah |
| Tingkat | Nomor tingkat dari bawah | 3 (zona mata) |
| Posisi | Urutan dari kiri | 4 |
| Produk | Nama dan ukuran kemasan | Kopi sachet merek A, 20 gram |
| Muka produk | Jumlah kemasan yang terlihat dari depan | 3 |
| Stok muat | Berapa pcs yang muat di posisi itu | 36 |
| Catatan | Alasan penempatan | Margin sehat, didorong ke zona mata |
Kolom terakhir yang paling sering dilewati orang, padahal paling berguna. Menuliskan alasan penempatan membuat Anda punya jejak keputusan saat mengevaluasi tiga bulan kemudian. Tanpa catatan itu, Anda cuma akan ingat bahwa rak pernah diubah, tapi lupa kenapa.
Kalau toko Anda sudah memakai aplikasi kasir minimarket dan toko kelontong, daftar produk untuk mengisi spreadsheet ini bisa diambil langsung dari katalog produk di aplikasi, lengkap dengan harga jual dan harga belinya. Itu jauh lebih cepat dan lebih akurat dibanding mengetik ulang nama produk satu per satu dari rak.
Menerapkan Planogram ke Karyawan supaya Rak Tetap Rapi Tiap Hari
Bagian ini yang paling sering gagal. Planogram bisa dibuat dalam satu akhir pekan, tapi bertahannya ditentukan oleh kebiasaan harian orang yang menjaga toko. Rak yang rapi di hari Senin bisa kembali berantakan di hari Jumat kalau restock dilakukan asal muat.
Mulai dari menempel acuan visual di tempat kerja, bukan menyimpannya di laci. Foto rak versi rapi, dicetak ukuran A4 dan ditempel di sisi dalam pintu gudang atau di dinding dekat rak, jauh lebih efektif dibanding dokumen di ponsel pemilik. Karyawan bisa membandingkan langsung antara foto acuan dan kondisi rak nyata tanpa harus bertanya.
Berikutnya, jelaskan alasannya, bukan cuma perintahnya. Karyawan yang diberi tahu bahwa cokelat batang ditaruh di dekat kasir karena sering dibeli mendadak akan lebih konsisten mengembalikannya ke sana dibanding karyawan yang cuma disuruh menaruh cokelat di kasir. Alasan membuat aturan bertahan saat Anda tidak ada di toko.
Lalu buat rutinitas merapikan muka rak. Kebiasaan sederhana yang dipakai retail besar adalah menarik produk ke bibir rak setiap kali sepi pembeli, supaya rak selalu terlihat penuh walau stok di belakangnya menipis. Sekalian, produk dengan tanggal kedaluwarsa lebih dekat ditaruh di depan supaya terjual lebih dulu. Dua hal ini butuh waktu kurang dari sepuluh menit per rak kalau dilakukan rutin, dan berjam-jam kalau ditunda sampai rak benar-benar berantakan.
Tetapkan juga satu aturan tegas: susunan rak tidak boleh diubah tanpa sepengetahuan pemilik atau penanggung jawab toko. Bukan berarti masukan karyawan ditolak. Justru sebaliknya, karyawan yang tiap hari berhadapan dengan pembeli sering punya masukan bagus soal barang apa yang sering ditanyakan tapi susah dicari. Yang perlu dihindari adalah perubahan diam-diam yang membuat evaluasi data jadi tidak bisa dibaca, karena Anda tidak lagi tahu susunan mana yang sedang diuji.
Terakhir, sambungkan planogram dengan kegiatan yang sudah rutin dilakukan. Momen paling logis adalah saat stok opname, karena rak memang sudah dibongkar dan dihitung. Sekalian kembalikan susunannya persis seperti acuan, sekalian catat produk mana yang ternyata tidak pernah muat sesuai rencana. Menggabungkan dua pekerjaan ini menghemat waktu dibanding menjadwalkan penataan ulang terpisah.
Benchmark: Patokan sederhana untuk toko kecil, sediakan satu sesi rapikan muka rak di pagi hari sebelum buka dan satu sesi di jam sepi sore hari, lalu satu sesi pemeriksaan penuh terhadap acuan planogram setiap pekan. Kalau rak sudah menyimpang jauh dari acuan sebelum satu pekan berlalu, biasanya masalahnya bukan kedisiplinan karyawan, melainkan planogramnya yang tidak realistis terhadap volume stok yang masuk.
Mengevaluasi Planogram Pakai Data Penjualan per Produk
Penataan rak baru terasa gunanya kalau hasilnya diukur. Sayangnya banyak pemilik toko berhenti di tahap "rak sekarang lebih enak dilihat" dan tidak pernah tahu apakah penataan itu menggerakkan penjualan atau tidak. Padahal data yang dibutuhkan sudah ada di aplikasi kasir, tinggal dibaca dengan cara yang benar.
Kuncinya, lihat penjualan per produk, bukan total omzet. Total omzet toko dipengaruhi terlalu banyak hal sekaligus, mulai dari cuaca, tanggal gajian, sampai libur sekolah. Penjualan per produk jauh lebih tajam untuk melihat efek pemindahan posisi, karena Anda bisa membandingkan produk yang dipindah dengan produk yang tidak dipindah dalam periode yang sama.
Urutan evaluasi yang praktis seperti ini. Ambil data penjualan per produk selama empat minggu sebelum penataan sebagai garis dasar. Ubah satu bagian rak saja, misalnya satu rak kategori kopi dan sarapan, bukan seluruh toko. Biarkan berjalan empat minggu tanpa perubahan lain. Setelah itu bandingkan periode empat minggu sesudah dengan garis dasarnya, per produk, dan kalikan selisih unitnya dengan margin per unit supaya terlihat dampaknya ke laba, bukan cuma ke jumlah barang keluar.
Berikut contoh ilustrasi cara membaca datanya. Angka pada tabel ini dibuat sebagai contoh perhitungan, bukan hasil pengukuran di toko tertentu.
| Produk | Posisi lama | Posisi baru | Rata-rata terjual per minggu sebelum | Rata-rata terjual per minggu sesudah | Margin per unit | Selisih laba per minggu |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Kopi sachet merek A | Rak bawah | Zona mata | 40 pcs | 52 pcs | Rp 800 | Rp 9.600 |
| Cokelat batang | Rak tengah lorong | Meja kasir | 18 pcs | 27 pcs | Rp 2.000 | Rp 18.000 |
| Sabun cuci piring | Zona tangan | Zona tangan (tetap) | 30 pcs | 31 pcs | Rp 1.200 | Rp 1.200 |
| Minyak goreng 1 liter | Zona mata | Rak bawah | 25 pcs | 24 pcs | Rp 1.500 | minus Rp 1.500 |
Total selisih laba per minggu pada contoh ini adalah Rp 9.600 ditambah Rp 18.000 ditambah Rp 1.200 dikurangi Rp 1.500, yaitu Rp 27.300, atau sekitar Rp 109.200 untuk empat minggu. Perhatikan bahwa minyak goreng yang dipindah turun ke rak bawah hanya turun tipis, dan itu memang yang diharapkan, karena pembeli tetap mencarinya dengan sengaja. Justru itu alasan zona mata dibebaskan untuk produk lain.
Yang sama pentingnya adalah mencatat faktor pengganggu. Kalau di periode yang sama Anda menjalankan promo, menaikkan harga, kehabisan stok beberapa hari, atau ada hari besar, tulis di catatan evaluasi. Tanpa itu, kenaikan penjualan bisa saja datang dari promo, bukan dari penataan rak. Laporan yang paling praktis dipakai untuk ini adalah rekap harian per produk, yang cara membacanya kami bahas terpisah di laporan penjualan harian.
Jujur saja, evaluasi penataan rak di toko kecil tidak akan pernah sebersih eksperimen laboratorium. Terlalu banyak hal terjadi bersamaan. Tapi membandingkan data per produk sebelum dan sesudah tetap jauh lebih baik daripada menebak, dan cukup untuk memutuskan apakah susunan baru dipertahankan, dikembalikan, atau diperbaiki di bagian tertentu saja.
Kesalahan Umum saat Menata Rak yang Membuat Planogram Gagal
Beberapa pola berikut cukup sering terlihat di toko kecil, dan semuanya bisa dihindari tanpa biaya tambahan.
Menaruh semua produk baru di posisi terbaik. Setiap kali datang produk baru, godaannya adalah memberi tempat paling depan supaya cepat dikenal. Kalau ini dilakukan terus, zona mata jadi berisi kumpulan produk yang belum terbukti laku, sementara produk yang selama ini menopang laba terdorong ke rak bawah. Sediakan satu blok kecil khusus produk baru, misalnya satu tingkat rak atau satu bagian dekat kasir, lalu beri tenggat, misalnya delapan minggu. Kalau setelah itu penjualannya tetap datar, kembalikan ruangnya ke produk yang terbukti.
Rak terlalu penuh sampai tidak ada ruang bernapas. Rak yang dijejali sampai produk saling menutupi justru menyulitkan pembeli melihat pilihan, dan menyulitkan karyawan mengembalikan barang ke posisinya. Toko yang terlalu padat juga membuat pembeli enggan berlama-lama. Sisakan ruang di antara blok kategori, dan tahan keinginan memajang seluruh stok sekaligus. Stok cadangan tempatnya di gudang atau di rak atas, bukan dijejalkan ke zona mata.
Tidak pernah dievaluasi setelah dipasang. Ini kesalahan paling mahal karena tidak terlihat. Planogram yang dibuat dengan susah payah lalu dibiarkan setahun tanpa dicek akan pelan-pelan bergeser sendiri lewat restock harian, sampai akhirnya tidak ada hubungannya lagi dengan dokumen aslinya. Jadwalkan pemeriksaan bulanan yang singkat saja, cukup membandingkan foto acuan dengan kondisi nyata.
Menelan mentah planogram dari distributor. Distributor dan prinsipal besar kadang menawarkan susunan rak beserta rak gratisnya, dan itu bukan hal buruk. Tapi kepentingan mereka adalah memaksimalkan merek mereka sendiri, bukan memaksimalkan laba toko Anda. Terima masukannya, lalu sesuaikan dengan data penjualan dan margin Anda sendiri. Kalau satu merek menuntut seluruh zona mata sementara marginnya paling tipis di kategori itu, Anda berhak menawar.
Mengubah seluruh toko sekaligus. Selain melelahkan, penataan total membuat evaluasi mustahil dilakukan karena tidak ada pembanding. Pembeli tetap juga bisa bingung dan justru berbelanja lebih sedikit di minggu-minggu awal. Kerjakan satu rak atau satu kategori dalam satu waktu, ukur, baru lanjut ke bagian berikutnya.
FAQ: Pertanyaan Umum seputar Planogram
Apa itu planogram dalam bisnis retail? Planogram adalah peta penataan rak yang menentukan produk apa diletakkan di rak mana, di ketinggian berapa, dan berapa banyak muka produk yang menghadap pembeli. Bentuknya bisa gambar teknis dari software mahal, bisa juga foto rak yang dicoret-coret dan tabel spreadsheet sederhana. Fungsinya sama, membuat susunan rak jadi keputusan tertulis yang bisa diulang dan dievaluasi, bukan kebiasaan yang berubah-ubah tergantung siapa yang merapikan rak hari itu.
Apakah toko kelontong kecil dengan tiga rak perlu planogram? Perlu, dan justru lebih mudah karena skalanya kecil. Toko kelontong kecil sebenarnya sudah punya planogram, hanya saja versi tidak tertulis yang ada di kepala pemiliknya. Begitu ada karyawan atau anggota keluarga yang ikut menjaga toko, susunan rak mulai bergeser tanpa disadari. Menuliskannya, walau cuma satu lembar foto rak yang diberi keterangan, membuat susunan itu bisa dipertahankan dan diperbaiki.
Produk apa yang sebaiknya ditaruh setinggi mata pembeli? Zona setinggi mata orang dewasa adalah tempat paling mudah terlihat dan paling mudah diraih, jadi isilah dengan produk yang benar-benar ingin Anda dorong penjualannya, biasanya produk dengan margin per unit paling sehat atau stok yang perputarannya perlu dipercepat. Produk yang sudah dicari orang dengan sengaja, misalnya beras dan minyak goreng, tidak perlu menempati zona ini karena pembeli tetap akan mencarinya walau ditaruh di rak bawah.
Lebih baik menata rak secara vertikal per merek atau horizontal per kategori? Untuk toko kecil di Indonesia, penataan horizontal per kategori biasanya lebih aman karena pembeli datang dengan niat kategori, misalnya mencari mi instan atau sabun, bukan mencari merek tertentu lebih dulu. Penataan vertikal per merek cocok untuk kategori yang loyalitas mereknya kuat seperti rokok, susu formula, atau kopi sachet, karena pembeli bisa langsung memindai satu kolom dari atas ke bawah tanpa berjalan menyusuri rak.
Bagaimana cara membuat planogram tanpa software khusus? Foto tiap rak dari depan dalam posisi lurus, ukur lebar dan tinggi tiap tingkat rak, lalu gambar kotak-kotak rak di kertas berpetak atau di spreadsheet dengan sel yang dibuat berukuran seragam. Isi tiap kotak dengan nama produk, jumlah muka produk, dan jumlah stok yang muat. Cetak hasilnya, tempel di dekat rak atau simpan di ponsel, dan pakai sebagai acuan tiap kali restock.
Bagaimana cara mengetahui planogram baru berhasil atau tidak? Bandingkan laporan penjualan per produk selama beberapa minggu sebelum penataan dengan periode yang sama panjang setelah penataan, dan lihat per item bukan cuma total omzet. Ubah satu bagian rak dulu, bukan seluruh toko sekaligus, supaya perubahan penjualannya bisa dilacak sumbernya. Catat juga faktor lain yang terjadi di periode itu seperti promo, kenaikan harga, hari besar, atau kekosongan stok, karena semuanya ikut menggerakkan angka penjualan.
Semua yang dibahas di atas berangkat dari satu bahan yang sama, yaitu data penjualan per produk beserta margin per itemnya. Kalau toko Anda masih mencatat penjualan di buku tulis, langkah paling masuk akal bukan langsung membuat planogram, melainkan merapikan pencatatannya lebih dulu supaya evaluasi rak punya dasar angka. Kasirnesia bisa dipakai untuk itu, mulai dari paket gratis tanpa biaya, dengan detail fiturnya di halaman fitur dan pilihan naik kelas di halaman harga. Kalau Anda ingin berdiskusi dulu soal data mana yang perlu disiapkan sebelum menata ulang rak, tim kami bisa dihubungi lewat WhatsApp di wa.me/6285136212005.

