Cara menghitung break even point paling ringkas adalah membagi total biaya tetap bulanan dengan selisih antara harga jual dan biaya variabel per unit, dan hasilnya adalah jumlah barang yang harus terjual sebelum usaha Anda mulai untung. Angka itu yang menjawab pertanyaan paling sering muncul di kepala pemilik warung dan kafe, yaitu berapa banyak sebenarnya yang harus saya jual hari ini supaya tidak nombok.
Banyak pemilik usaha kecil sudah merasa ramai karena antrean panjang, tapi di akhir bulan uang di laci tetap tidak bersisa. Penyebabnya sering bukan penjualan yang kurang, melainkan tidak pernah ada angka pembanding. Tanpa tahu titik impasnya, ramai atau sepi cuma jadi perasaan, bukan ukuran. Artikel ini membahas cara menghitungnya dari nol, lengkap dengan contoh ilustrasi sebuah kafe kecil yang dihitung langkah demi langkah.
Daftar Isi
- Apa Itu Break Even Point dalam Bahasa Pemilik Warung
- Beda Biaya Tetap dan Biaya Variabel yang Sering Tertukar
- Rumus BEP Unit dan BEP Rupiah Beserta Arti Tiap Bagiannya
- Contoh Hitung BEP Kafe Kecil Langkah demi Langkah
- Cara Memakai Angka BEP untuk Keputusan Sehari-hari
- Kenapa BEP Berubah Saat Harga atau Biaya Berubah
- Batasan BEP dan Kesalahan Umum yang Bikin Angkanya Meleset
- FAQ: Pertanyaan Umum seputar Cara Menghitung Break Even Point
Apa Itu Break Even Point dalam Bahasa Pemilik Warung
Lupakan dulu definisi buku teks. Bayangkan Anda punya warung nasi. Setiap awal bulan, ada sejumlah uang yang pasti keluar dari kantong Anda, entah warung ramai atau sepi. Sewa tempat harus dibayar. Gaji orang yang bantu masak harus dibayar. Listrik dan air tetap jalan. Anggap saja totalnya Rp 3.000.000 sebulan (contoh ilustrasi).
Uang Rp 3.000.000 itu ibarat lubang yang sudah menganga di awal bulan. Setiap piring nasi yang Anda jual menyumbang sedikit tanah untuk menimbun lubang itu. Break even point adalah momen ketika lubangnya persis rata, tidak kurang dan tidak lebih. Piring pertama setelah lubang rata itulah yang mulai jadi keuntungan Anda.
Yang penting dipahami, bukan seluruh harga jual yang masuk menimbun lubang. Kalau satu porsi nasi Anda jual Rp 15.000 dan bahannya (beras, lauk, sayur, minyak, gas, bungkus) menghabiskan Rp 9.000, maka yang benar-benar tersisa untuk menimbun lubang cuma Rp 6.000 per porsi. Angka Rp 6.000 inilah yang dalam istilah keuangan disebut margin kontribusi, yaitu bagian dari harga jual yang tersisa setelah biaya yang menempel langsung pada barang itu dibayar.
Dari situ hitungannya jadi masuk akal secara logika, bukan cuma rumus. Lubang Rp 3.000.000 dibagi timbunan Rp 6.000 per porsi menghasilkan 500 porsi. Artinya warung nasi ini baru mulai untung setelah porsi ke-501 terjual dalam bulan itu. Kalau warung buka 30 hari, 500 porsi dibagi 30 hari sama dengan 16,67 porsi per hari, yang dalam praktiknya berarti Anda perlu menjual setidaknya 17 porsi setiap hari.
Poin Penting: BEP bukan target penjualan yang bagus. BEP adalah garis batas antara rugi dan tidak rugi. Kalau penjualan Anda persis di titik BEP, Anda bekerja sebulan penuh dengan hasil bersih nol rupiah. Target usaha yang sehat selalu di atas BEP, bukan di BEP.
Beda Biaya Tetap dan Biaya Variabel yang Sering Tertukar
Seluruh perhitungan BEP berdiri di atas satu pekerjaan yang kelihatan sepele tapi paling sering keliru, yaitu memisahkan biaya tetap dari biaya variabel. Salah menaruh satu pos saja, angka BEP bisa meleset jauh dan keputusan yang Anda ambil dari angka itu ikut salah.
Cara paling praktis membedakannya adalah dengan satu pertanyaan uji. Seandainya besok Anda buka warung tapi tidak ada satu pun pembeli datang, biaya mana yang tetap keluar? Yang tetap keluar itu biaya tetap. Yang tidak keluar sama sekali karena tidak ada yang dijual, itu biaya variabel.
Sewa tempat tetap harus dibayar walau tidak ada pembeli, jadi itu biaya tetap. Gaji karyawan yang digaji bulanan tetap harus dibayar, jadi biaya tetap. Langganan internet dan langganan aplikasi kasir tetap ditagih, jadi biaya tetap juga. Sebaliknya, biji kopi tidak berkurang kalau tidak ada yang pesan kopi, dan gelas plastik tidak terpakai kalau tidak ada minuman yang dibuat. Keduanya biaya variabel.
Beberapa pos memang abu-abu dan perlu keputusan sadar dari Anda. Listrik misalnya, punya bagian tetap (lampu, kulkas, pendingin ruangan yang menyala sepanjang jam buka) dan bagian yang naik saat produksi ramai (mesin espresso, oven, blender). Untuk usaha kecil, memasukkan listrik seluruhnya ke biaya tetap biasanya cukup akurat dan jauh lebih mudah dikelola. Yang penting Anda konsisten memakai cara yang sama setiap bulan supaya perbandingan antar bulan tetap berarti.
| Pos Biaya | Jenis | Alasan | Contoh Ilustrasi per Bulan |
|---|---|---|---|
| Sewa tempat | Tetap | Ditagih penuh walau tidak ada pembeli | Rp 4.000.000 |
| Gaji karyawan bulanan | Tetap | Dibayar sesuai kontrak, bukan per transaksi | Rp 5.000.000 |
| Gaji pemilik | Tetap | Tenaga Anda punya nilai, sering lupa dihitung | Rp 3.000.000 |
| Listrik dan air | Tetap | Menyala sepanjang jam buka | Rp 900.000 |
| Internet | Tetap | Langganan bulanan tanpa lihat omzet | Rp 400.000 |
| Langganan aplikasi kasir | Tetap | Biaya rutin bulanan | Rp 200.000 |
| Penyusutan peralatan | Tetap | Mesin dan meja aus walau usaha sepi | Rp 500.000 |
| Bahan baku | Variabel | Terpakai hanya kalau ada yang dibuat | Ikut jumlah terjual |
| Kemasan, gelas, sedotan | Variabel | Keluar satu set per transaksi | Ikut jumlah terjual |
| Komisi ojek online atau sales | Variabel | Dibayar per penjualan yang terjadi | Ikut jumlah terjual |
Untuk memisahkan bagian bahan baku dengan rapi, akan lebih mudah kalau Anda sudah pernah menghitung harga pokok penjualan per menu. Metodenya kami bahas terpisah di panduan cara menghitung HPP makanan dan minuman, dan angka HPP per porsi itu bisa langsung Anda pakai sebagai biaya variabel per unit di perhitungan BEP.
Rumus BEP Unit dan BEP Rupiah Beserta Arti Tiap Bagiannya
Ada dua bentuk BEP yang keduanya berguna, dan sebaiknya Anda punya dua-duanya. BEP unit menjawab berapa banyak barang yang harus terjual. BEP rupiah menjawab berapa omzet yang harus masuk. Keduanya berangkat dari data yang sama, jadi kalau hasilnya tidak nyambung, berarti ada salah hitung di salah satu bagian.
Rumus pertama, BEP unit:
BEP unit = Total Biaya Tetap : (Harga Jual per Unit - Biaya Variabel per Unit)
Bagian dalam kurung itu punya nama sendiri, yaitu margin kontribusi per unit. Namanya cocok dengan fungsinya, karena angka itulah yang benar-benar berkontribusi menutup biaya tetap Anda. Kalau harga jual kopi Rp 25.000 dan biaya bahan serta kemasannya Rp 10.000, margin kontribusinya Rp 15.000 per cangkir. Setiap cangkir terjual, biaya tetap Anda berkurang Rp 15.000, bukan Rp 25.000.
Rumus kedua, BEP rupiah:
BEP rupiah = Total Biaya Tetap : Rasio Margin Kontribusi
Rasio Margin Kontribusi = Margin Kontribusi per Unit : Harga Jual per Unit
Rasio margin kontribusi adalah persentase dari setiap rupiah penjualan yang tersisa untuk menutup biaya tetap. Dengan angka di atas, rasionya adalah Rp 15.000 dibagi Rp 25.000 sama dengan 0,6 atau 60 persen. Artinya dari setiap Rp 100.000 omzet yang masuk, Rp 60.000 dipakai menutup biaya tetap dan Rp 40.000 sudah habis lebih dulu untuk bahan.
Kenapa perlu dua-duanya? BEP unit lebih enak dipakai untuk target lapangan, karena Anda bisa langsung bilang ke tim bahwa hari ini minimal harus terjual sekian gelas. BEP rupiah lebih enak dipakai kalau menu Anda banyak dan harganya berbeda-beda, karena Anda cukup melihat angka total omzet di laporan kasir tanpa memilah per item.
Pro Tip: Kedua rumus itu harus konsisten. Kalau BEP unit Anda dikalikan harga jual per unit tidak sama dengan BEP rupiah yang Anda dapat, artinya ada angka yang keliru dimasukkan. Ini cara paling cepat mengecek hitungan Anda sendiri tanpa perlu mengulang dari awal.
Contoh Hitung BEP Kafe Kecil Langkah demi Langkah
Sekarang kita pakai satu kasus utuh. Semua angka di bawah ini adalah contoh ilustrasi, jadi ganti dengan angka usaha Anda sendiri saat mempraktikkannya. Anggap sebuah kafe kecil di pinggir jalan, buka 26 hari dalam sebulan, dengan menu yang harganya berkisar mirip sehingga bisa dipakai satu harga rata-rata.
Langkah 1: kumpulkan semua biaya tetap bulanan.
| Komponen Biaya Tetap | Jumlah per Bulan (contoh ilustrasi) |
|---|---|
| Sewa tempat | Rp 4.000.000 |
| Gaji 2 barista | Rp 5.000.000 |
| Gaji pemilik | Rp 3.000.000 |
| Listrik dan air | Rp 900.000 |
| Internet | Rp 400.000 |
| Langganan aplikasi kasir | Rp 200.000 |
| Penyusutan peralatan | Rp 500.000 |
| Total biaya tetap | Rp 14.000.000 |
Langkah 2: hitung biaya variabel per cangkir.
| Komponen Biaya Variabel | Per Cangkir (contoh ilustrasi) |
|---|---|
| Biji kopi | Rp 4.500 |
| Susu | Rp 3.000 |
| Gula dan sirup | Rp 800 |
| Gelas, tutup, sedotan | Rp 1.200 |
| Gas dan air produksi | Rp 500 |
| Total biaya variabel per cangkir | Rp 10.000 |
Langkah 3: tentukan harga jual rata-rata. Kafe ini menjual dengan harga rata-rata Rp 25.000 per cangkir.
Langkah 4: hitung margin kontribusi. Rp 25.000 dikurangi Rp 10.000 sama dengan Rp 15.000 per cangkir. Rasionya Rp 15.000 dibagi Rp 25.000 sama dengan 0,6 atau 60 persen.
Langkah 5: hitung BEP unit dan BEP rupiah.
| Langkah | Perhitungan | Hasil |
|---|---|---|
| Margin kontribusi per cangkir | Rp 25.000 - Rp 10.000 | Rp 15.000 |
| Rasio margin kontribusi | Rp 15.000 : Rp 25.000 | 0,6 (60 persen) |
| BEP unit | Rp 14.000.000 : Rp 15.000 | 933,33 cangkir per bulan |
| BEP rupiah | Rp 14.000.000 : 0,6 | Rp 23.333.333 per bulan |
| Uji konsistensi | 933,33 x Rp 25.000 | Rp 23.333.333 (cocok) |
| Target praktis per bulan | 933,33 dibulatkan ke atas | 934 cangkir |
| Target praktis per hari (26 hari) | 933,33 : 26 = 35,9 | 36 cangkir per hari |
| Omzet harian di titik impas | 36 x Rp 25.000 | Rp 900.000 per hari |
Perhatikan baris uji konsistensi. BEP unit dikalikan harga jual menghasilkan angka yang persis sama dengan BEP rupiah, yaitu Rp 23.333.333. Kalau di hitungan Anda dua angka ini berbeda jauh, hentikan dulu dan cari mana yang salah, biasanya biaya variabel yang tidak sengaja ikut masuk ke daftar biaya tetap.
Soal pembulatan, 933,33 cangkir tidak mungkin terjadi di dunia nyata, jadi dibulatkan ke atas jadi 934 cangkir. Konsekuensinya, 934 cangkir dikalikan Rp 25.000 sama dengan Rp 23.350.000, sedikit di atas BEP rupiah Rp 23.333.333. Selisih Rp 16.667 itu wajar dan justru aman, karena pembulatan ke atas berarti Anda menargetkan sedikit di atas titik impas, bukan di bawahnya.
Cara Memakai Angka BEP untuk Keputusan Sehari-hari
Angka BEP baru berguna kalau turun jadi keputusan. Berikut cara memakai hasil di atas untuk urusan yang benar-benar Anda hadapi setiap hari.
Menetapkan target harian yang masuk akal. Angka 36 cangkir per hari atau omzet Rp 900.000 per hari sekarang jadi garis merah yang bisa ditempel di dekat mesin kasir. Kalau sampai jam 15.00 baru terjual 12 cangkir, Anda tahu hari itu perlu dorongan, entah promo jam sore atau menawarkan menu tambahan ke pembeli yang sudah datang. Tanpa angka ini, jam 15.00 dengan 12 cangkir cuma terasa "agak sepi" tanpa tindak lanjut apa-apa.
Memutuskan jam buka. Misalkan jam terakhir operasional, pukul 21.00 sampai 22.00, rata-rata cuma menghasilkan 1 cangkir, sementara Anda membayar lembur barista Rp 50.000 untuk jam itu (contoh ilustrasi). Satu cangkir menyumbang margin Rp 15.000, sedangkan biayanya Rp 50.000, jadi jam itu merugi Rp 35.000 setiap hari. Dalam 26 hari, kerugiannya Rp 910.000 per bulan. Kalau jam itu ditutup, biaya tetap turun jadi Rp 13.090.000, dan BEP unit turun jadi Rp 13.090.000 dibagi Rp 15.000 sama dengan 872,67 cangkir, dibulatkan jadi 873 cangkir. BEP rupiahnya jadi Rp 13.090.000 dibagi 0,6 sama dengan Rp 21.816.667, yang cocok dengan 872,67 dikalikan Rp 25.000.
Menguji rencana kenaikan harga. Sebelum menaikkan harga, Anda bisa hitung dulu berapa BEP-nya turun dan berapa banyak pembeli yang boleh hilang tanpa membuat Anda lebih rugi dari sebelumnya. Perhitungan lengkapnya ada di bagian berikutnya. Kalau kenaikan harga itu jadi dilakukan, susunan dan penyajian daftar menu juga berpengaruh pada penerimaan pelanggan, dan kami membahas sisi itu di artikel contoh menu restoran dan cara mendesainnya.
Menilai layak tidaknya biaya tetap baru. Setiap kali ada tawaran biaya rutin baru, misalnya sewa mesin tambahan Rp 600.000 per bulan, ubah dulu jadi bahasa cangkir. Rp 600.000 dibagi margin Rp 15.000 sama dengan 40 cangkir tambahan per bulan, atau sekitar 1,5 cangkir per hari. Kalau mesin itu realistis mendatangkan lebih dari 40 cangkir tambahan sebulan, layak diambil. Kalau tidak, itu cuma menaikkan garis batas Anda. Cara berpikir yang sama berlaku untuk biaya langganan perangkat lunak, dan kami sudah membandingkan kisaran biayanya di ulasan aplikasi kasir termurah untuk UMKM.
Memantau kesehatan usaha tanpa menunggu tutup buku. Kalau catatan penjualan Anda rapi, posisi terhadap BEP bisa dilihat kapan saja, bukan menunggu akhir bulan. Pencatatan yang tertib inilah syaratnya, dan pilihan alat bantunya kami ulas di panduan software akuntansi untuk usaha.
Kenapa BEP Berubah Saat Harga atau Biaya Berubah
BEP bukan angka yang dihitung sekali lalu berlaku selamanya. Angkanya dibangun dari tiga variabel yang semuanya bergerak, yaitu biaya tetap, harga jual, dan biaya variabel per unit. Begitu salah satunya berubah, garis batas Anda ikut bergeser. Tabel berikut memakai kafe yang sama sebagai dasar (contoh ilustrasi).
| Skenario | Biaya Tetap | Harga Jual | Biaya Variabel | Margin Kontribusi | Rasio | BEP Unit | BEP Rupiah |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Kondisi awal | Rp 14.000.000 | Rp 25.000 | Rp 10.000 | Rp 15.000 | 0,6 | 933,33 | Rp 23.333.333 |
| Harga naik 10 persen | Rp 14.000.000 | Rp 27.500 | Rp 10.000 | Rp 17.500 | 0,63636 | 800 | Rp 22.000.000 |
| Bahan naik 10 persen | Rp 14.000.000 | Rp 25.000 | Rp 11.000 | Rp 14.000 | 0,56 | 1.000 | Rp 25.000.000 |
| Biaya tetap turun Rp 2 juta | Rp 12.000.000 | Rp 25.000 | Rp 10.000 | Rp 15.000 | 0,6 | 800 | Rp 20.000.000 |
Semua baris di tabel itu sudah lolos uji konsistensi. Baris kedua, 800 dikalikan Rp 27.500 sama dengan Rp 22.000.000. Baris ketiga, 1.000 dikalikan Rp 25.000 sama dengan Rp 25.000.000. Baris keempat, 800 dikalikan Rp 25.000 sama dengan Rp 20.000.000. Silakan cek sendiri, karena kebiasaan mengecek ini yang membuat Anda percaya pada angka Anda sendiri.
Ada temuan menarik dari tabel itu. Menaikkan harga hanya 10 persen menurunkan BEP dari 933,33 cangkir jadi 800 cangkir, turun sekitar 14 persen. Artinya kenaikan harga yang terlihat kecil punya efek besar pada titik impas, karena tambahan Rp 2.500 itu masuk seluruhnya ke margin kontribusi tanpa dipotong biaya bahan sama sekali.
Sebaliknya, kenaikan harga bahan 10 persen (dari Rp 10.000 jadi Rp 11.000) menaikkan BEP dari 933,33 jadi 1.000 cangkir. Anda perlu menjual sekitar 67 cangkir lebih banyak setiap bulan hanya untuk tetap di posisi tidak rugi yang sama. Ini alasan kenapa kenaikan harga pemasok yang kelihatan sepele perlu langsung dihitung ulang, bukan didiamkan sampai akhir bulan. Memantau pemakaian bahan lewat pencatatan stok yang rapi membantu Anda menangkap perubahan ini lebih awal, dan metodenya kami bahas di panduan aplikasi stok barang untuk F&B dan retail.
Yang juga perlu disadari, memangkas biaya tetap Rp 2.000.000 dan menaikkan harga 10 persen sama-sama menghasilkan BEP 800 cangkir, tapi jalannya berbeda. Menaikkan harga berisiko kehilangan sebagian pembeli, sedangkan memangkas biaya tetap tidak menyentuh sisi pelanggan sama sekali. Kalau ada ruang untuk memangkas biaya tetap tanpa mengurangi kualitas, biasanya itu langkah yang lebih aman dicoba lebih dulu.
Batasan BEP dan Kesalahan Umum yang Bikin Angkanya Meleset
BEP berguna, tapi bukan ramalan. Ada beberapa hal yang tidak bisa dijawab oleh perhitungan ini, dan mengetahuinya sejak awal membuat Anda memakai angkanya dengan takaran yang pas.
BEP mengasumsikan harga dan biaya stabil sepanjang periode. Dalam praktiknya, harga cabai bisa berubah dua kali dalam sebulan dan harga susu bisa naik di tengah kuartal. Perhitungan BEP memotret satu kondisi, jadi begitu kondisinya bergeser, angkanya perlu dihitung ulang. Kebiasaan yang wajar untuk usaha kecil adalah menghitung ulang setiap awal bulan atau setiap kali ada perubahan harga yang terasa.
BEP tidak memperhitungkan musiman. Angka 934 cangkir per bulan diperlakukan seolah setiap bulan sama saja. Kenyataannya kafe dekat kampus bisa sepi saat libur semester, dan warung bisa melonjak saat bulan Ramadan lalu turun tajam setelahnya. Cara mengatasinya bukan membuang BEP, tapi menghitung BEP bulanan lalu menilai pencapaiannya secara tahunan, sehingga bulan ramai bisa menutup bulan sepi selama rata-ratanya tetap di atas garis.
BEP dasar mengasumsikan satu harga rata-rata. Kafe yang menjual kopi Rp 25.000 dan air mineral Rp 8.000 punya margin kontribusi berbeda per item. Kalau komposisi penjualan bergeser ke item bermargin rendah, BEP asli tidak lagi akurat walau total omzet sama. Untuk usaha dengan menu beragam, pakai harga dan biaya variabel rata-rata tertimbang berdasarkan proporsi penjualan sebenarnya, bukan rata-rata sederhana dari daftar harga.
BEP menghitung untung rugi, bukan uang kas. Anda bisa lewat BEP di atas kertas tapi tetap kesulitan uang karena pembeli belum bayar atau stok terlanjur ditumpuk. Untuk usaha yang melayani pesanan dengan tempo pembayaran, kondisi ini nyata, dan pencatatan tagihan yang rapi jadi penting. Kami membahas sisi itu di ulasan aplikasi invoice gratis untuk UMKM.
Selain batasannya, ada tiga kesalahan yang paling sering membuat angka BEP jauh dari kenyataan.
Kesalahan pertama, memasukkan biaya variabel ke daftar biaya tetap. Ini yang paling sering terjadi. Pemilik kafe mencatat belanja bahan baku bulanan Rp 9.000.000 di daftar biaya tetap, tapi tetap juga menghitung biaya variabel Rp 10.000 per cangkir. Bahan yang sama dihitung dua kali. Akibatnya biaya tetap menggelembung jadi Rp 23.000.000, dan BEP unit jadi Rp 23.000.000 dibagi Rp 15.000 sama dengan 1.533,33 cangkir, dibulatkan 1.534 cangkir. Padahal angka sebenarnya 933,33 cangkir. Selisihnya persis 600 cangkir per bulan, atau sekitar 23 cangkir per hari, cukup untuk membuat Anda menyerah pada usaha yang sebetulnya sudah untung.
Kesalahan kedua, lupa memasukkan gaji pemilik. Kalau gaji pemilik Rp 3.000.000 dihapus dari daftar, biaya tetap turun jadi Rp 11.000.000 dan BEP unit jadi Rp 11.000.000 dibagi Rp 15.000 sama dengan 733,33 cangkir, dengan BEP rupiah Rp 11.000.000 dibagi 0,6 sama dengan Rp 18.333.333. Angka itu terlihat jauh lebih mudah dicapai, dan di situlah bahayanya. Selisih 200 cangkir per bulan dibandingkan angka yang benar bukan keuntungan, melainkan nilai tenaga Anda yang diam-diam disubsidikan ke usaha. Usaha yang tampak untung tapi tidak pernah membayar pemiliknya sebenarnya belum benar-benar untung.
Kesalahan ketiga, mencampur pajak yang dipungut dari pelanggan dengan pendapatan usaha. Untuk restoran dan kafe yang memungut PB1, uang pajak itu titipan yang akan disetorkan ke pemerintah daerah, bukan bagian dari harga jual yang boleh dihitung sebagai margin kontribusi. Kalau ikut dihitung, BEP Anda terlihat lebih dekat dari kenyataan. Aturan dan mekanismenya kami bahas terpisah di panduan pajak restoran PB1. Kasirnesia adalah aplikasi kasir, bukan konsultan pajak, jadi untuk kewajiban pajak yang spesifik sebaiknya Anda konfirmasi ke instansi terkait atau konsultan pajak.
Key Takeaway: Perhitungan BEP hanya sebaik data yang Anda masukkan. Kalau catatan penjualan dan biaya masih tercecer di beberapa buku dan ingatan, angka BEP-nya cuma tebakan yang kelihatan rapi. Rapikan dulu pencatatan hariannya, baru hitungannya berarti.
Bagian yang paling melelahkan dari semua ini biasanya bukan rumusnya, melainkan mengumpulkan angka penjualan dan biaya yang tersebar. Kalau transaksi harian sudah tercatat otomatis di satu tempat, Anda tinggal membaca total omzet dan jumlah item terjual, lalu membandingkannya dengan garis BEP yang sudah Anda hitung. Kasirnesia mencatat transaksi dan menyusun laporan penjualan harian dengan cara itu, dan detail fiturnya bisa dilihat di halaman fitur. Anda juga bisa mencoba dulu lewat paket gratis untuk melihat apakah laporannya cukup untuk kebutuhan hitungan Anda.
FAQ: Pertanyaan Umum seputar Cara Menghitung Break Even Point
Apa itu break even point dalam bahasa sederhana? Break even point adalah titik di mana seluruh uang masuk dari penjualan sudah persis menutup seluruh uang keluar untuk menjalankan usaha, jadi Anda tidak untung dan tidak rugi. Di bawah titik itu Anda menombok, di atas titik itu baru muncul laba. Angka ini biasanya dinyatakan dalam dua bentuk, yaitu berapa banyak barang yang harus terjual (BEP unit) dan berapa rupiah omzet yang harus masuk (BEP rupiah).
Bagaimana rumus cara menghitung break even point? BEP unit dihitung dengan membagi total biaya tetap dengan margin kontribusi per unit, yaitu harga jual per unit dikurangi biaya variabel per unit. BEP rupiah dihitung dengan membagi total biaya tetap dengan rasio margin kontribusi, yaitu margin kontribusi per unit dibagi harga jual per unit. Kedua rumus itu selalu konsisten, karena BEP unit dikalikan harga jual akan menghasilkan angka BEP rupiah yang sama.
Apa beda biaya tetap dan biaya variabel? Biaya tetap adalah biaya yang tetap Anda bayar dengan jumlah kurang lebih sama walaupun penjualan sedang sepi, misalnya sewa tempat, gaji karyawan bulanan, langganan internet, dan langganan aplikasi kasir. Biaya variabel adalah biaya yang naik turun mengikuti jumlah barang yang terjual, misalnya bahan baku, kemasan, dan komisi penjualan. Kunci membedakannya adalah bertanya apakah biaya itu tetap keluar seandainya hari itu Anda tidak menjual apa pun.
Apakah gaji pemilik dimasukkan ke perhitungan BEP? Sebaiknya iya, dimasukkan sebagai biaya tetap. Kalau gaji pemilik tidak dihitung, angka BEP akan terlihat lebih rendah dari kenyataan dan usaha tampak untung padahal sebenarnya sedang membiayai dirinya sendiri dari tenaga Anda yang tidak dibayar. Tentukan angka gaji yang wajar untuk posisi Anda, masukkan ke daftar biaya tetap, lalu hitung ulang BEP-nya.
Kenapa angka BEP saya berubah terus setiap bulan? Karena BEP dihitung dari tiga variabel yang memang bergerak, yaitu biaya tetap, harga jual, dan biaya variabel per unit. Harga bahan baku naik akan menaikkan BEP, menaikkan harga jual akan menurunkan BEP, dan memangkas biaya tetap juga menurunkan BEP. Karena itu BEP sebaiknya dihitung ulang setiap kali ada perubahan harga beli bahan, perubahan harga jual, atau tambahan biaya rutin baru.
Apa keterbatasan perhitungan break even point? BEP mengasumsikan harga jual dan struktur biaya stabil sepanjang periode, padahal harga bahan bisa berubah di tengah bulan dan diskon bisa menurunkan harga jual rata-rata. BEP dasar juga mengasumsikan satu harga rata-rata, sehingga usaha dengan banyak jenis produk perlu memakai harga dan biaya rata-rata tertimbang. Selain itu BEP tidak memperhitungkan musiman, jadi angka bulanan yang tercapai di bulan ramai belum tentu tercapai di bulan sepi.
Masih bingung memisahkan biaya tetap dan variabel di usaha Anda sendiri? Chat tim Kasirnesia lewat WhatsApp di wa.me/6285136212005, kami bantu Anda menyusun daftarnya sebelum menghitung BEP.

