Kasirnesia

Keuangan Bisnis F&B

Food Cost: Cara Menghitung dan Menekan Biaya Bahan Restoran dan Kafe

Food cost adalah biaya bahan dibanding harga jual. Pelajari rumus, persen yang ideal, cara hitung per menu, dan cara menekannya di warung dan kafe.

15 menit baca
Food Cost: Cara Menghitung dan Menekan Biaya Bahan Restoran dan Kafe

Food cost adalah biaya bahan baku yang habis untuk membuat satu menu dibandingkan dengan harga jual menu itu, dan biasanya dinyatakan dalam persen dengan rumus biaya bahan dibagi harga jual dikali 100. Angka inilah yang menentukan berapa banyak dari setiap rupiah yang masuk ke kasir benar-benar tersisa untuk membayar gaji, sewa, listrik, dan pada akhirnya menjadi laba Anda. Banyak pemilik warung makan dan kafe merasa ramai setiap hari tapi uangnya tidak pernah terkumpul, dan penyebab paling sering adalah food cost yang diam-diam terlalu tinggi tanpa disadari.

Kabar baiknya, food cost bukan hitungan rumit yang butuh latar belakang akuntansi. Anda hanya perlu tahu berapa modal bahan tiap menu, membandingkannya dengan harga jual, lalu membaca hasilnya dengan jujur. Artikel ini membahas apa itu food cost dan food cost percentage, berapa persen yang wajar sebagai acuan, cara menghitungnya per menu langkah demi langkah dengan contoh rupiah, tabel contoh beberapa menu, kaitannya dengan penetapan harga jual, dan cara menekannya tanpa harus menurunkan kualitas.

Daftar Isi

  1. Apa Itu Food Cost dan Food Cost Percentage
  2. Food Cost dan HPP Bukan Hal yang Sama
  3. Berapa Food Cost Percentage yang Ideal untuk Restoran dan Kafe
  4. Cara Menghitung Food Cost Per Menu Langkah demi Langkah
  5. Contoh Food Cost Beberapa Menu Warung dan Kafe
  6. Kaitan Food Cost dengan Harga Jual
  7. Cara Menekan Food Cost Tanpa Mengorbankan Rasa
  8. FAQ: Pertanyaan Umum seputar Food Cost

Apa Itu Food Cost dan Food Cost Percentage

Food cost, dalam bahasa sehari-hari, adalah uang yang Anda keluarkan untuk membeli bahan yang dipakai membuat menu. Kalau seporsi nasi goreng membutuhkan beras, telur, minyak, bumbu, dan sedikit bahan pelengkap senilai total Rp 9.000, maka Rp 9.000 itulah food cost per porsi nasi goreng tersebut. Sampai di sini masih mudah dipahami. Yang membuat food cost jadi alat pengambilan keputusan adalah ketika angka rupiah tadi diubah menjadi persen.

Food cost percentage adalah rasio antara biaya bahan dan harga jual, dinyatakan dalam persen. Rumusnya sederhana dan dipakai sama di seluruh industri: biaya bahan dibagi harga jual, dikali 100. Situs POS restoran Toast menuliskannya sebagai total cost of goods sold dibagi total food sales dikali 100 (Toast). Untuk satu menu, biaya bahan per porsi menggantikan cost of goods, dan harga jual menu menggantikan food sales.

Kenapa persentase lebih berguna daripada sekadar angka rupiah? Karena persen memberi konteks. Nasi goreng dengan food cost Rp 9.000 terdengar mahal atau murah tergantung harga jualnya. Kalau dijual Rp 25.000, food cost-nya 36 persen, artinya 36 dari setiap 100 rupiah penjualan habis untuk bahan, dan 64 sisanya untuk semua biaya lain plus laba. Kalau menu yang sama dijual Rp 18.000, food cost-nya melonjak jadi 50 persen, dan ruang untuk menutup gaji serta sewa langsung menyempit. Angka rupiah yang sama bisa sehat atau berbahaya, dan hanya persentase yang menunjukkannya.

Itulah kenapa food cost sering disebut sebagai salah satu metrik profitabilitas paling penting di usaha makanan. Ia bukan sekadar catatan belanja, melainkan alat untuk membaca apakah harga menu Anda sudah masuk akal dan apakah dapur Anda boros atau efisien.

Food Cost dan HPP Bukan Hal yang Sama

Banyak pemilik usaha mencampuradukkan food cost percentage dengan HPP, padahal keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda. HPP atau harga pokok penjualan adalah nilai rupiah total bahan yang terpakai untuk menghasilkan produk. Food cost percentage adalah rasio, seberapa besar bagian harga jual yang terserap oleh bahan itu. Yang satu menjawab "berapa rupiah modal menu ini", yang lain menjawab "seberapa besar porsi harga jual yang habis untuk bahan".

Contohnya begini. Es kopi susu dengan biaya bahan Rp 8.500 punya HPP bahan Rp 8.500. Itu angka mentahnya. Begitu Anda tetapkan harga jual Rp 25.000, barulah muncul food cost percentage sebesar 34 persen (8.500 dibagi 25.000 dikali 100). HPP tidak berubah walau Anda naikkan harga, tapi food cost percentage langsung turun begitu harga naik. Dua menu bisa punya HPP sama tapi food cost percentage sangat berbeda kalau harga jualnya beda.

Keduanya sama-sama penting dan saling melengkapi. Anda butuh HPP untuk tahu modal riil, dan butuh food cost percentage untuk menilai apakah harga sudah pas. Kalau Anda ingin mendalami cara menyusun HPP satu porsi makanan sampai ke rincian per bahan, kami sudah membahasnya terpisah di panduan cara menghitung HPP makanan. Artikel yang sedang Anda baca ini fokus pada sisi persentase dan cara mengontrolnya, jadi keduanya sebaiknya dibaca berpasangan.

Poin Penting: HPP adalah rupiah, food cost percentage adalah persen. Menghitung HPP tanpa mengubahnya menjadi persentase membuat Anda tahu modal tapi tidak tahu apakah harga jualnya sehat. Selalu lanjutkan HPP menjadi food cost percentage sebelum memutuskan harga.

Berapa Food Cost Percentage yang Ideal untuk Restoran dan Kafe

Pertanyaan ini paling sering ditanyakan, dan jawabannya perlu jujur: tidak ada satu angka ajaib yang berlaku untuk semua usaha. Yang ada adalah rentang acuan industri. Sumber POS restoran Toast menyebut food cost yang sehat umumnya berada di kisaran 28 sampai 35 persen, dengan 30 persen sebagai patokan yang sering dipakai, sambil menekankan bahwa angka ideal tetap bergantung pada jenis restoran, menu, dan model operasional (Toast). TouchBistro menyebut rentang rata-rata yang sama, yaitu 28 sampai 35 persen (TouchBistro).

Perlu digarisbawahi, rentang ini acuan, bukan aturan kaku, dan berasal dari data industri restoran di luar negeri. Anggap saja sebagai lampu indikator, bukan garis mati. Kalau food cost Anda jauh di atas 35 persen, itu sinyal untuk memeriksa harga atau pemborosan. Kalau jauh di bawah 25 persen, bisa jadi harga Anda sudah bagus, atau justru porsinya terlalu pelit sehingga pelanggan merasa kurang.

Jenis usaha juga menggeser angka wajarnya. TouchBistro mencatat bahwa restoran cepat saji dan pizza cenderung punya food cost sekitar 20 sampai 25 persen, restoran kasual di kisaran 20 sampai 30 persen, sedangkan fine dining dengan bahan premium justru wajar di 30 sampai 35 persen (TouchBistro). Artinya, warung nasi dan kedai minuman sederhana biasanya nyaman di angka lebih rendah, sementara restoran yang menjual daging impor atau seafood segar wajar berada di ujung atas. Membandingkan food cost kafe kopi Anda dengan food cost restoran steak adalah perbandingan yang keliru sejak awal.

Benchmark: Pakai 28 sampai 35 persen sebagai titik awal, lalu sesuaikan dengan jenis usaha Anda. Yang lebih penting daripada mengejar satu angka adalah menjaga food cost tetap konsisten dari bulan ke bulan dan memastikan sisanya cukup untuk menutup gaji, sewa, listrik, dan laba. Food cost 33 persen yang stabil jauh lebih sehat daripada 25 persen yang naik turun liar tiap minggu.

Cara Menghitung Food Cost Per Menu Langkah demi Langkah

Menghitung food cost satu menu bisa Anda lakukan dengan kertas dan kalkulator. Kuncinya bukan rumusnya, melainkan kejujuran dan ketelitian saat merinci bahan. Berikut urutannya, dengan contoh ilustrasi satu gelas es kopi susu gula aren di sebuah kafe kecil.

Pertama, daftar semua bahan yang masuk ke satu porsi. Jangan lewatkan bahan kecil seperti es batu, gula, atau kemasan, karena justru di situ kebocoran sering terjadi. Untuk es kopi susu tadi, bahannya adalah kopi (setara satu shot espresso), susu, gula aren cair, es batu, serta cup, tutup, dan sedotan.

Kedua, hitung harga tiap bahan sesuai takaran yang benar-benar dipakai, bukan harga per kemasan besar. Kalau susu satu liter seharga Rp 17.000 dan Anda memakai 150 ml, maka biayanya bukan Rp 17.000 melainkan sekitar Rp 2.500. Kesalahan paling umum di sini adalah memakai harga per kilo atau per liter, padahal yang masuk ke satu gelas hanya sebagian kecil. Untuk contoh ini, misalkan rinciannya kopi Rp 3.000, susu Rp 2.500, gula aren Rp 1.500, es batu Rp 300, dan kemasan Rp 1.200.

Ketiga, jumlahkan semua biaya bahan menjadi total biaya bahan per porsi. Dari rincian di atas, totalnya adalah 3.000 + 2.500 + 1.500 + 300 + 1.200 sama dengan Rp 8.500 per gelas. Inilah modal bahan satu gelas es kopi susu.

Keempat, bagi total biaya bahan dengan harga jual, lalu kalikan 100. Kalau es kopi susu ini dijual Rp 25.000, maka food cost-nya adalah 8.500 dibagi 25.000 dikali 100, hasilnya 34 persen. Angka 34 persen ini berada di dalam rentang acuan 28 sampai 35 persen, jadi harga jualnya tergolong sehat untuk sebuah kafe. Kalau hasilnya keluar dari rentang, di situlah Anda tahu ada yang perlu dievaluasi, entah harganya, porsinya, atau harga bahannya.

Lakukan proses yang sama untuk setiap menu andalan Anda. Escoffier menyebut proses per item ini sebagai cara membangun gambaran food cost dari seluruh menu satu per satu (Escoffier). Setelah semua menu punya angkanya, Anda akan langsung melihat menu mana yang jadi pahlawan laba dan menu mana yang diam-diam menggerus keuntungan.

Pro Tip: Hitung ulang food cost setiap kali harga bahan naik signifikan. Harga cabai, minyak goreng, dan daging ayam di Indonesia bisa bergerak tajam dalam hitungan minggu. Food cost yang Anda hitung tiga bulan lalu bisa saja sudah tidak akurat hari ini, dan menu yang dulu sehat bisa berubah merugi tanpa Anda sadari.

Contoh Food Cost Beberapa Menu Warung dan Kafe

Supaya lebih jelas, berikut tabel contoh ilustrasi food cost beberapa menu yang lazim di warung makan dan kafe. Semua angka biaya bahan dan harga jual di bawah ini adalah contoh ilustrasi, bukan patokan pasti, karena harga bahan dan porsi tiap usaha berbeda. Yang penting Anda pahami adalah cara membaca kolom food cost dan apa artinya.

MenuBiaya BahanHarga JualFood CostCatatan
Nasi goreng spesialRp 9.000Rp 25.00036%Sedikit di atas rentang, perlu diperhatikan
Es kopi susu gula arenRp 8.500Rp 25.00034%Sehat, dalam rentang acuan
Ayam geprek + nasiRp 12.000Rp 28.00042,9%Terlalu tinggi, harga atau porsi dievaluasi
Es teh manisRp 1.500Rp 6.00025%Rendah, penyumbang margin besar
Mie ayam komplitRp 7.000Rp 18.00038,9%Di atas rentang, cek harga jual
Roti bakar cokelatRp 4.000Rp 15.00026,7%Rendah, margin bagus

Angka food cost di kolom keempat dihitung dengan rumus yang sama: biaya bahan dibagi harga jual dikali 100. Misalnya ayam geprek, 12.000 dibagi 28.000 dikali 100 menghasilkan 42,9 persen, dan es teh manis, 1.500 dibagi 6.000 dikali 100 menghasilkan 25 persen. Anda bisa menghitung ulang setiap baris untuk memastikan sendiri.

Dari tabel ini terlihat pola yang sangat khas di usaha F&B Indonesia. Menu minuman seperti es teh manis dan roti bakar punya food cost rendah, sehingga jadi penyumbang laba terbesar meski harganya murah. Sebaliknya, menu berprotein seperti ayam geprek punya food cost tinggi, dan justru sering jadi menu andalan yang paling laku. Kombinasi ini normal, asalkan Anda sadar mana yang menopang mana. Menu minuman yang untung besar sering menutup tipisnya laba menu utama. Untuk inspirasi menyusun daftar menu yang seimbang antara menu andalan dan menu bermargin tinggi, lihat kumpulan contoh menu restoran yang sudah kami bahas terpisah.

Kaitan Food Cost dengan Harga Jual

Food cost dan harga jual adalah dua sisi dari koin yang sama. Begitu Anda tahu food cost sebuah menu, Anda sebenarnya sudah punya dasar untuk menetapkan harga jual yang masuk akal, bukan sekadar menebak atau meniru harga tetangga. Caranya adalah membalik rumusnya. Kalau Anda menargetkan food cost 30 persen, maka harga jual sama dengan biaya bahan dibagi 0,30.

Contoh ilustrasi, menu dengan biaya bahan Rp 9.000 dan target food cost 30 persen akan menghasilkan harga jual 9.000 dibagi 0,30 sama dengan Rp 30.000. Kalau target Anda lebih longgar di 35 persen, harga jualnya menjadi 9.000 dibagi 0,35 sekitar Rp 25.700, yang biasanya dibulatkan ke Rp 26.000. Cara pandang ini sering disebut metode pengali atau multiplier. Target 30 persen setara mengalikan biaya bahan sekitar 3,3 kali, sedangkan target 35 persen setara mengalikan sekitar 2,9 kali.

Pendekatan ini membuat penetapan harga jadi punya dasar angka, bukan perasaan. TouchBistro memberi ilustrasi serupa: sebuah menu penutup yang food cost per porsinya terlalu tinggi bisa dikembalikan ke rentang sehat dengan menaikkan harga sampai masuk benchmark industri (TouchBistro). Prinsipnya sama untuk warung, harga jual bukan angka yang dikarang, melainkan hasil dari food cost yang Anda targetkan.

Meski begitu, food cost bukan satu-satunya pertimbangan harga. Anda tetap harus melihat daya beli pelanggan di sekitar Anda, harga pesaing, dan posisi menu itu di daftar. Menu pemancing pelanggan kadang sengaja dijual dengan food cost tinggi supaya terlihat murah, lalu labanya ditutup oleh menu lain. Untuk kerangka lengkap menetapkan harga, termasuk memasukkan biaya operasional dan margin yang diinginkan, kami membahasnya di panduan cara menentukan harga jual. Perlu dipahami juga bahwa food cost percentage berbeda dengan margin keuntungan, dan hubungan keduanya kami jelaskan di artikel margin adalah.

Cara Menekan Food Cost Tanpa Mengorbankan Rasa

Menekan food cost bukan berarti mengganti bahan dengan yang lebih murah dan membuat rasa turun. Yang ditekan adalah pemborosan, bukan mutu. Escoffier menyebut bahwa selisih antara food cost yang seharusnya dan food cost yang benar-benar terjadi sering muncul karena bahan terbuang, porsi tidak terkontrol, harga bahan naik, atau kecurangan (Escoffier). Empat pintu inilah yang bisa Anda perbaiki.

Pertama, standarkan porsi. Ini penyebab kebocoran yang paling sering diremehkan. Kalau juru masak menakar nasi dan lauk hanya dengan perkiraan, satu porsi bisa berlebih 20 sampai 30 gram tanpa disadari. Kelihatannya sepele, tapi kelebihan 20 gram beras per porsi pada 100 porsi sehari, dengan beras Rp 14.000 per kilogram, sudah berarti pemborosan sekitar Rp 28.000 sehari, atau hampir Rp 840.000 sebulan, hanya dari nasi. Gunakan takaran, sendok ukur, atau timbangan supaya setiap porsi konsisten. Porsi yang standar juga membuat food cost yang Anda hitung benar-benar akurat.

Kedua, kurangi bahan terbuang. Bahan yang busuk di kulkas karena lupa dipakai adalah uang yang dibuang langsung. Terapkan rotasi stok dengan prinsip masuk pertama keluar pertama supaya bahan lama terpakai lebih dulu, dan lakukan pengecekan fisik stok secara berkala. Kalau susut belanja bulanan Anda 5 persen dari total belanja bahan Rp 10 juta, itu setara Rp 500.000 yang menguap tiap bulan. Panduan cara stok opname bisa membantu Anda menemukan selisih semacam ini sebelum menumpuk jadi kerugian besar.

Ketiga, negosiasi dengan pemasok. Harga bahan bukan harga mati. Kalau volume pembelian Anda sudah stabil, minta harga khusus, cari pemasok alternatif untuk membandingkan, atau beli bahan yang tahan lama dalam jumlah lebih besar saat harganya sedang turun. Selisih Rp 2.000 per kilogram ayam terasa kecil, tapi kalau Anda memakai 30 kilogram sehari, itu Rp 60.000 sehari yang bisa dihemat tanpa menyentuh rasa sama sekali.

Keempat, evaluasi menu berdasarkan food cost dan popularitasnya. Menu yang food cost-nya tinggi dan jarang dipesan sebaiknya diperbaiki resepnya, dinaikkan harganya, atau dikeluarkan dari daftar. Menu yang food cost-nya rendah dan laku keras justru layak ditonjolkan di posisi strategis pada daftar menu. Pendekatan menata menu berdasarkan untung dan laku ini sering disebut menu engineering, dan intinya adalah membuat menu yang menguntungkan lebih mudah dilihat dan dipesan pelanggan.

Untuk semua ini, mencatat food cost dan penjualan secara rapi jauh lebih mudah kalau datanya terkumpul otomatis. Aplikasi kasir yang mencatat penjualan per menu dan memantau pemakaian bahan membantu Anda melihat food cost bergerak dari waktu ke waktu, bukan menebak di akhir bulan. Kasirnesia dibangun untuk usaha F&B dengan pencatatan menu, stok bahan, dan laporan penjualan dalam satu tempat, sehingga menghitung dan memantau food cost tidak lagi jadi pekerjaan manual yang melelahkan. Kalau Anda ingin membandingkan software pencatat keuangan khusus restoran, kami juga membahasnya di software akuntansi restoran. Pada akhirnya, food cost yang terkontrol adalah langkah pertama menuju laba yang benar-benar terkumpul, bukan sekadar omzet yang ramai.

FAQ: Pertanyaan Umum seputar Food Cost

Apa itu food cost? Food cost adalah biaya bahan baku yang dipakai untuk membuat satu menu, dibandingkan dengan harga jual menu itu. Biasanya dinyatakan dalam persen, disebut food cost percentage, dengan rumus biaya bahan dibagi harga jual dikali 100. Angka ini menunjukkan berapa bagian dari setiap rupiah penjualan yang habis untuk membeli bahan, jadi sisa untuk menutup gaji, sewa, listrik, dan laba bisa diketahui.

Berapa food cost percentage yang ideal untuk restoran dan kafe? Sumber industri seperti Toast dan TouchBistro menyebut rentang umum food cost restoran sekitar 28 sampai 35 persen, dengan 30 persen sebagai acuan yang sering dipakai. Angka ini acuan, bukan aturan kaku. Warung dan kedai minuman sederhana sering lebih rendah, sedangkan restoran dengan bahan premium bisa lebih tinggi. Yang penting food cost Anda konsisten dan menyisakan laba setelah semua biaya lain.

Bagaimana cara menghitung food cost per menu? Rinci semua bahan yang masuk ke satu porsi menu, hitung harga masing-masing sesuai takaran yang benar-benar dipakai, lalu jumlahkan menjadi total biaya bahan per porsi. Bagi total itu dengan harga jual menu, lalu kalikan 100. Contoh, satu porsi dengan biaya bahan Rp 9.000 dijual Rp 25.000 punya food cost 36 persen, karena 9.000 dibagi 25.000 dikali 100 sama dengan 36.

Apa beda food cost dan HPP? HPP atau harga pokok penjualan adalah nilai rupiah total bahan (dan kadang biaya produksi lain) untuk menghasilkan produk. Food cost dalam artikel ini fokus pada persentasenya, yaitu rasio biaya bahan terhadap harga jual. HPP menjawab berapa rupiah modal satu menu, sedangkan food cost percentage menjawab seberapa besar porsi harga jual yang terpakai untuk bahan. Keduanya saling terkait tapi tidak sama.

Bagaimana cara menekan food cost tanpa menurunkan kualitas? Standarkan porsi memakai takaran atau timbangan supaya setiap piring konsisten, kurangi bahan terbuang dengan rotasi stok FIFO dan stok opname rutin, negosiasi harga atau volume ke pemasok, dan evaluasi menu yang food cost-nya tinggi tapi kurang laku. Cara ini menekan biaya bahan tanpa mengorbankan rasa, karena yang dipangkas adalah pemborosan, bukan mutu bahan.

Apakah food cost yang tinggi berarti usaha pasti rugi? Tidak selalu, tetapi food cost tinggi mempersempit ruang untuk menutup biaya lain seperti gaji, sewa, dan listrik. Menu dengan food cost tinggi masih bisa menguntungkan kalau volume penjualannya besar atau harganya memang sepadan dengan mutunya. Yang berbahaya adalah food cost tinggi pada menu yang harganya sulit dinaikkan, karena labanya jadi tipis atau bahkan minus.

Masih ragu menghitung food cost menu Anda sendiri? Chat tim Kasirnesia lewat WhatsApp di wa.me/6285136212005, kami bantu Anda mulai dari mencatat bahan sampai membaca laporannya.

Gratis untuk mulai

Siap berhenti nyatet manual dan mulai jualan lebih rapi?

Coba Kasirnesia gratis, tetap jalan walau internet mati, dan langganan bulanan tanpa setor setahun di muka. Tim kami siap bantu setup lewat WhatsApp.